
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencetak rekor tertinggi meski nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan. Penguatan indeks dinilai masih ditopang faktor fundamental, terutama penyesuaian valuasi saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya tertinggal.
Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston menilai, reli IHSG saat ini didorong oleh kenaikan harga saham big cap domestik, khususnya sektor perbankan dan konsumsi. Saham-saham tersebut sebelumnya masih berada pada valuasi yang relatif murah dibandingkan pertumbuhan kinerja laba.
“Secara fundamental, sebagian saham big cap masih tergolong undervalued. Penyesuaian valuasi inilah yang mendorong kenaikan IHSG, meskipun rupiah sedang melemah,” kata Irwan kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Pengendali Baru SGRO Tender Wajib Rp 4,92 Triliun, Simak Rekomendasi Sahamnya
Dari sisi teknikal, Irwan melihat tren IHSG masih berada dalam fase bullish. Pergerakan indeks masih bertahan di atas rata-rata pergerakan MA20, MA50, dan MA200.
“Selama support di area 8.715 mampu dipertahankan, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran 9.200 hingga 9.400 pada kuartal I-2026, meski kenaikannya cenderung lebih bertahap,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan, apabila level support tersebut tertembus, IHSG berpotensi bergerak sideways di rentang 8.500 hingga 9.175 sembari menunggu katalis baru atau rilis data ekonomi yang lebih kuat.
Terkait kebijakan moneter, keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai direspons netral hingga positif oleh pasar karena sejalan dengan ekspektasi investor. Fokus pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Dampaknya ke IHSG relatif terbatas, meski volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi,” kata Irwan.
IHSG Ditutup Anjlok 1,36% ke 9.010 pada Rabu (21/1), UNTR, ASII, BUMI Top Losers LQ45
Dalam kondisi indeks yang sudah berada di level tinggi, Irwan menyarankan investor untuk lebih selektif dan tidak agresif mengejar harga. Saham berfundamental kuat dengan pertumbuhan laba yang stabil dinilai masih prospektif, terutama perbankan besar dan sektor konsumsi kebutuhan sehari-hari.
“Strategi beli bertahap saat terjadi koreksi lebih tepat diterapkan di tengah potensi konsolidasi pasar,” tutupnya.