
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Venezuela diperkirakan tidak akan memicu lonjakan signifikan pada harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI).
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026) menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) mengambil alih kendali sementara atas Venezuela setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer berani dan membawanya ke New York untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.
Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menyampaikan, ketegangan antara AS dan Venezuela dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak mentah WTI dalam jangka pendek. Hal ini seiring meredanya situasi geopolitik di kawasan Karibia.
Menurut Lukman, dinamika geopolitik di wilayah tersebut pada dasarnya sudah selesai, sehingga dampak langsung ke pasar keuangan global diperkirakan relatif minimal. Namun demikian, pasar masih akan mencermati kemungkinan langkah lanjutan dari AS ke depan.
Harga Minyak Turun di Awal 2026 Setelah Catat Penurunan Tahunan Terbesar Sejak 2020
“Kekhawatiran pasar kemungkinan lebih ke aksi lanjutan dari Amerika Serikat ke depan, yang lebih banyak dipengaruhi pertimbangan politik dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru,” ujar Lukman kepada Kontan, Minggu (4/1/2026).
Melansir Trading Economics pada Minggu (4/1/2026) pukul 17.36, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 57,32 per barel atau menyusut 2,77% secara bulanan dan 0,17% secara year to date (ytd).
Lukman menyebut, pergerakan harga minyak mentah WTI dinilai tidak akan mengalami perubahan besar dalam waktu dekat. Meski volatilitas harga masih berpeluang terjadi, arah pergerakan WTI ke depan cenderung stabil.
“Tekanan penurunan harga baru berpotensi muncul apabila produksi minyak Venezuela meningkat, meski proses tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak agresif,” jelasnya.
Sama halnya, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga menekankan bahwa dampak ketegangan ini terhadap potensi lonjakan harga minyak dinilai tidak akan terlalu tinggi.
Meski sempat terjadi penghentian tiga kapal tanker Venezuela di Laut Panama oleh AS, pasar minyak global masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan (oversupply).
Produksi minyak dunia yang mencapai sekitar 130 juta barel per hari membuat kenaikan harga minyak cenderung bersifat sementara.
Selain itu, Arab Saudi juga belum menunjukkan minat untuk memangkas produksi secara agresif. Bahkan, pemangkasan produksi hingga 1 juta barel per hari dinilai belum cukup untuk mendorong harga minyak mentah dunia naik signifikan.
Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan Ukraina dan Yaman
“Dengan kondisi tersebut, jika harga minyak mengalami kenaikan karena kondisi geopolitik AS–Venezuela, maka pergerakannya diperkirakan hanya berlangsung singkat sebelum kembali melemah,” jelas Ibrahim.
Pasar selanjutnya akan lebih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran. Situasi di Iran yang diwarnai demonstrasi besar-besaran serta campur tangan AS dalam dinamika politik domestik negara tersebut berpotensi kembali memicu ketegangan dan mendorong harga minyak mentah ke depan.
Namun, jika tidak terjadi eskalasi lanjutan dari Amerika Serikat, sentimen kenaikan harga minyak diperkirakan tetap terbatas dan berisiko kembali turun.
Dengan berbagai faktor di atas, Lukman membidik harga minyak mentah WTI akan bergerak ke kisaran US$ 55,00 per barel. Sementara itu, Ibrahim memproyeksi harga minyak mentah WTI akan bergerak di level US$ 58,441 per barel.