
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tren bearish masih membayangi industri kripto global. Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai, tekanan pada pasar kripto saat ini dipicu kombinasi faktor.
“Beberapa faktor yang membuat pasar kripto masih berada dalam tekanan saat ini mulai dari ketidakpastian makro dan geopolitik di tengah kenaikan inflasi dan dinamika kebijakan perdagangan, hingga relatif minimnya potensi katalis positif sepanjang tahun ini,” ujar Fahmi kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Kondisi ini juga senantiasa membuat pergerakan harga aset kripto, khususnya altcoin, bergerak terbatas sejak awal tahun ini.
Bakrie & Brothers (BNBR) Bukukan Pendapatan Rp 3,74 Triliun pada 2025
Menurut dia, dengan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi, tekanan di pasar kripto berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.
Meski begitu, Fahmi melihat fondasi pasar belum sepenuhnya rapuh. Ia menyoroti masih adanya aliran dana masuk, terutama dari investor institusi, yang berpotensi menopang kekuatan harga aset kripto secara umum.
“Selama arus dana institusi masih masuk, fondasi harga kripto sebenarnya masih punya peluang untuk menguat secara bertahap,” jelasnya.
Strategi untuk Investor Ritel Masuk Altcoin
Di tengah kondisi bearish, Fahmi menilai investor ritel tetap bisa masuk ke pasar altcoin dengan pendekatan yang lebih disiplin. Salah satu strategi yang dinilai relevan adalah dollar cost averaging (DCA).
Menurutnya, strategi DCA relatif mudah diadopsi karena memungkinkan investor melakukan pembelian bertahap sehingga dapat meredam risiko volatilitas.
Di sisi lain, Founder & CEO Triv Gabriel Rey menilai, dalam situasi saat ini investor belum disarankan untuk menahan (hold) altcoin dalam jangka panjang. Sehingga menurutnya, strategi yang lebih relevan adalah memanfaatkan volatilitas untuk trading, misal dengan strategi scalping
Gabriel menyoroti rencana Presiden AS Donald Trump terkait Iran serta pengumuman tarif baru yang kembali memicu kekhawatiran pasar global. Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya menekan kripto tetapi juga pasar saham.
Kendati demikian, menurut Gabriel untuk horizon jangka panjang, ada aset tertentu yang masih layak dilirik.
Kebijakan ECB Pengaruhi Euro, Inflasi Pangan Jadi Sorotan Utama
“Kami melihat bahkan dalam kondisi pasar seperti sekarang, data riset menunjukkan aktivitas on-chain Ethereum masih sangat bagus,” ujar Gabriel.
Fahmi juga mengingatkan, investor tidak boleh sekadar ikut tren tanpa riset mendalam. Ia menekankan pentingnya due diligence sebelum memilih altcoin.
Investor perlu memantau berbagai metrik penting seperti likuiditas, distribusi perdagangan di bursa bereputasi, serta perkembangan fundamental proyek.
“Pastikan DCA dilakukan pada koin yang likuiditasnya besar, stabil, dan terdistribusi merata di berbagai bursa dengan reputasi baik,” tegas Fahmi.
Selain itu, adanya working product bernilai tinggi dan update atau peningkatan yang konsisten juga menjadi variabel yang dapat dimonitor yang dapat mengindikasikan potensi recovery ke depan.