
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten berdividen menarik bisa dipilih oleh investor di tengah volatilitas pasar saham pada awal tahun 2026.
Asal tahu saja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 6,73% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, IHSG juga turun 3,01% year to date (YTD).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, pada harga yang rendah atau murah, dividen memberikan imbal hasil (return) menarik.
“Terkadang, dividen yield bahkan bisa lebih besar daripada imbal hasil bunga deposito maupun kupon ORI atau SBN,” katanya kepada Kontan, Minggu (22/2).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, dividen sampai hari ini masih sangat layak menjadi pertimbangan dalam membeli saham, tetapi konteksnya harus tepat.
Evaluasi FCA Diharapkan Dongkrak Kepercayaan Investor Pasar Saham
“Dividen diibaratkan seperti “arus kas nyata” yang masuk ke kantong investor, sementara capital gain adalah potensi kenaikan harga yang masih bersifat mark to market,” ungkapnya kepada Kontan, Minggu (22/2).
Dalam kondisi pasar yang volatil, terutama ketika IHSG bergerak fluktuatif akibat sentimen global dan domestik, dividen menjadi bantalan psikologis sekaligus fundamental. Namun secara matematis, investor tetap harus membandingkan dividend yield dengan potensi risiko penurunan harga.
Misalnya, jika dividend yield sebuah emiten sebesar 5% tetapi secara teknikal sahamnya berpotensi koreksi 10%–15% karena valuasi sudah mahal atau tekanan pasar, maka return bersihnya bisa tergerus. Artinya, dividen menarik hanya jika valuasi masih masuk akal dan risiko penurunan relatif terbatas.
“Idealnya, dividend yield minimal bisa mengompensasi risiko volatilitas jangka pendek, atau minimal berada di atas rata-rata deposito dan SBN agar ada premi risiko yang masuk akal,” ujarnya.
Budi melihat, dividen PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tergolong menarik. Emiten ini mengindikasikan akan membagikan dividen dari laba tahun buku 2025 dengan dividend payout ratio (DPR) sekitar 78%.
Sepanjang 2025, Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 56,3 triliun atau tumbuh 0,93% secara tahunan (yoy). Dengan asumsi DPR 78%, total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Artinya, setiap pemegang saham bisa memperoleh dividen sekitar Rp 472 per saham.
Mengacu pada harga BMRI pada penutupan perdagangan Jumat (20/2) lalu di Rp 5.125 per saham, dividend yield BMRI sebesar 9,2x.
Menurut Hendra, dari beberapa emiten yang rajin bagi dividen, BMRI saat ini menarik lantaran ada daya tarik dari besara yield dan potensi capital gain. BMRI cenderung menawarkan dividend yield yang lebih agresif, karena laba besar dan payout ratio yang tinggi sebagai bank BUMN.
“Dengan laba yang solid dan ekspansi kredit yang masih tumbuh, kombinasi yield dan potensi rerating valuasi membuatnya menarik untuk investor income sekaligus growth moderat,” ungkapnya.
Selain BMRI, ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang sudah ada lampu hijau untuk pembagian dividen dari buku tahun 2025.
BDMN dinilai punya dividend yield yang cukup menarik untuk kategori bank menengah, tetapi potensi capital gain tidak seagresif bank besar. Sementara BBCA memiliki yield yang tidak setinggi BMRI, tetapi kualitas laba, konsistensi ROE, dan premium valuasi membuatnya lebih stabil.
Di sisi lain, UNVR secara historis memang dikenal sebagai saham dividen karena DPR yang tinggi. Namun tantangannya adalah pertumbuhan laba yang sempat melambat dan tekanan kompetisi FMCG.
Hendra merekomendasikan buy on weakness untuk BBCA dengan target harga Rp 7.750 per saham. Rekomendasi speculative buy diberikan untuk BMRI dan UNVR dengan target harga masing-masing Rp 5.750 per saham dan Rp 2.500 per saham.
Sementara, rekomendasi trading buy disematkan Hendra untuk BDMN dengan target harga Rp 3.000 per saham.
Emas Menguat ke Level Tertinggi Tiga Minggu, Dolar Melemah Pasca Putusan MA AS