Rp118T dana perbankan masih mengalir ke batu bara, anak muda perlu lebih kritis

Peran anak muda dinilai semakin krusial dalam mendorong transisi menuju keuangan berkelanjutan, terutama di tengah rendahnya transparansi sektor keuangan terkait aliran dana dan dampaknya terhadap lingkungan.

Isu tersebut mengemuka dalam workshop “Gerakan Anak Muda untuk Keuangan Berkelanjutan”, yang merupakan rangkaian acara Sustainable Finance Fest 2026 yang digelar di Hotel Le Méridien, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Sustainable Finance Fest 2026 sendiri merupakan acara yang dipersembahkan oleh koalisi Responsibank Indonesia berkolaborasi dengan Katadata dan Yayasan Bicara Data Indonesia serta diselenggarakan oleh Sisi+ by Katadata.

Mengusung tajuk “Finance for Future: Giving the Green Shift a Lift”, acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik tentang pentingnya keuangan berkelanjutan sekaligus membuka ruang dialog yang inklusif antara regulator, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan masyarakat.

Sustainable Finance Fest 2026 juga menjadi wadah untuk membangun jejaring di antara para pegiat ekonomi hijau, impact investors, dan komunitas, serta mendorong partisipasi aktif berbagai pihak dalam pengembangan keuangan berkelanjutan, baik melalui investasi hijau maupun advokasi kebijakan.

Koordinator Aksi Enter Nusantara, Ramadhan, menilai masyarakat belum memiliki informasi yang memadai terkait ke mana dana yang mereka simpan di bank disalurkan.

“Belum ada transparansi terhadap larinya uang yang kita tabung. Padahal, pada faktanya uang di bank itu diputar,” ujar Ramadhan.

Ramadhan memaparkan bahwa dana masyarakat yang dihimpun perbankan masih banyak mengalir ke sektor energi fosil. Lembaga keuangan Indonesia tercatat telah mengucurkan pembiayaan hingga US$7,2 miliar atau sekitar Rp118,72 triliun ke industri batu bara.

Selain itu, rendahnya literasi publik turut memperparah kondisi tersebut. Sebanyak 63% nasabah tidak mengetahui bahwa dana mereka berkontribusi pada pembiayaan batu bara. Sementara itu, mayoritas masih mendukung pembiayaan tersebut karena belum memahami dampaknya.

Menurut Ramadhan, aliran pembiayaan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menimbulkan konsekuensi langsung di daerah, seperti pencemaran lingkungan, hilangnya mata pencaharian, serta konflik agraria dan sosial.

Ia juga menyoroti adanya kesenjangan antara komitmen perbankan nasional terhadap target iklim dan praktik pembiayaan di lapangan, yang masih didominasi oleh sektor energi kotor.

Melalui gerakan #BersihkanBankmu yang diinisiasi oleh koalisi masyarakat sipil, kalangan masyarakat sipil mendorong percepatan transisi energi di sektor pembiayaan melalui kampanye publik, advokasi kebijakan, serta kolaborasi lintas organisasi.

Selain isu transparansi, praktik greenwashing juga menjadi sorotan. Researcher Trend Asia, Herdanang Fauzan, menilai laporan keberlanjutan yang dirilis sejumlah lembaga keuangan belum sepenuhnya mencerminkan dampak sebenarnya.

Herdanang menjelaskan bahwa emisi perusahaan umumnya dibagi menjadi tiga kategori. Scope 1 dan 2 berasal dari operasional, sementara Scope 3 berasal dari aktivitas tidak langsung seperti pembiayaan yang justru sering menjadi sumber emisi terbesar.

“Kalau kita lihat laporan perbankan, yang sering ditonjolkan itu Scope 1 dan Scope 2, sementara Scope 3 hanya disebut sekilas dan tidak transparan dalam metodologi pengukurannya.” katanya.

Peneliti Trend Asia itu menekankan bahwa Scope 3 atau financed emissions yang berasal dari pembiayaan dan investasi justru memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan emisi operasional.

Kondisi ini membuka celah terjadinya greenwashing, ketika lembaga keuangan terlihat berkomitmen terhadap keberlanjutan, namun tidak transparan dalam keseluruhan dampak emisi yang dihasilkan.

Herdanang mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih aktif melakukan riset dan analisis terhadap praktik lembaga keuangan, termasuk dengan memanfaatkan data publik dan membangun kolaborasi dalam melakukan kampanye.

“Kalau mau melakukan kampanye, kita harus mulai dari data dan tidak bisa sendirian. Harus kolaborasi, karena yang dihadapi adalah kepentingan besar,” tambahnya.

Workshop ini menunjukkan bahwa peran anak muda tidak hanya sebagai penerima dampak, tetapi juga sebagai aktor penting yang dapat mendorong perubahan melalui pilihan finansial dan keterlibatan dalam gerakan kolektif.

Tanpa peningkatan kesadaran dan partisipasi publik, khususnya generasi muda, transisi menuju keuangan berkelanjutan berisiko berjalan lambat. Sebaliknya, dengan dorongan dari konsumen dan investor muda, perubahan dinilai dapat berlangsung lebih cepat dan berdampak luas.