
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah tingginya ketidakpastian global. Meski sempat menguat pada pertengahan pekan, tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026). Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah dalam sejarah.
Namun, rupiah kemudian berbalik menguat ke kisaran Rp 17.333 per dolar AS pada Kamis (7/5), sebelum kembali melemah tipis menjadi Rp 17.382 pada perdagangan Jumat (8/5).
Indosat (ISAT) Tebar Dividen Rp 3,57 Triliun dengan Yield 5% Simak Jadwal Lengkapnya!
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama meningkatnya harapan terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Kondisi tersebut sempat mengurangi permintaan dolar AS sebagai aset safe haven.
Selain itu, pelemahan indeks dolar AS serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi turut menopang penguatan rupiah.
“Dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valas, penguatan koordinasi dengan pemerintah serta pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo yang menilai rupiah masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued dengan dukungan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” ujar Amru kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai rupiah masih mengalami tekanan cukup signifikan seiring ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Tawaran Kupon Hingga 6,25%, ST016 Bisa Jadi Incaran Menarik Investor
“Ada kekhawatiran pengaruh eksternal pada tekanan inflasi, pelebaran defisit transaksi berjalan, dan PMI manufaktur terkontraksi ke level 49,1,” kata David.
Menurut David, sentimen sepekan ke depan masih dibayangi konflik geopolitik yang berkaitan dengan blokade Selat Hormuz.
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati data ketenagakerjaan AS, terutama US Non Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis Jumat malam waktu AS atau Sabtu dini hari WIB.
Amru menambahkan, data NFP akan menjadi acuan penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta pergerakan dolar AS.
“Selain itu, perkembangan negosiasi AS-Iran dan situasi di Selat Hormuz juga tetap menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap harga minyak dan sentimen pasar keuangan global,” kata Amru.
Dari domestik, pasar juga akan memantau efektivitas kebijakan stabilisasi Bank Indonesia, dinamika arus modal asing, posisi cadangan devisa, serta kondisi fiskal nasional.
Untuk pekan depan, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah dalam sepekan ke depan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas pada kisaran Rp 17.250 – Rp 17.450 per dolar AS.
Total Persada (TOTL) Cetak Kenaikan Laba 37%, Begini Strategi Hadapi Tahun 2026
Sementara itu, David memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp 17.200 – 17.500 per dolar AS.
Menurut Amru, peluang penguatan rupiah masih terbuka apabila sentimen global tetap kondusif, seiring meredanya permintaan terhadap dolar AS dan meningkatnya minat investor terhadap aset emerging market.
Namun, ia mengingatkan volatilitas tetap perlu diwaspadai apabila data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari ekspektasi atau tensi geopolitik kembali meningkat sehingga mendorong arus dana masuk ke aset safe haven.