Telkom jelaskan alasan laba 2025 terkontraksi, dividen diupayakan tetap terjaga

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat penurunan laba bersih pada tahun buku 2025 di tengah proses transformasi dan perubahan kebijakan akuntansi perusahaan. Meski demikian, manajemen memberi sinyal pembagian dividen tetap akan dijaga setidaknya sama dengan tahun sebelumnya.

Laba bersih Telkom pada 2025 tercatat sebesar Rp 17,8 triliun, turun 24,66 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 23,64 persen. Sementara laba bersih yang telah dinormalisasi (normalized net income) mencapai Rp 22,7 triliun dengan margin 15,4 persen, dari total pendapatan konsolidasi Rp 146,7 triliun.

EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2 persen. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp 73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9 persen.

Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, yang terdiri dari capital gain sebesar 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

“Kalau kita lihat di sini sebetulnya di kuartal IV 2025 itu sudah lebih membaik dibanding kuartal IV sebelumnya, tetapi secara keseluruhan memang revenue-nya itu lebih rendah dari tahun 2024,” ujar Direktur Utama PT Telkom Indonesia Dian Siswarini dalam media update di Kantor Telkom, Jakarta, Rabu (20/5).

Dian mengungkapkan, penurunan laba bersih terutama dipengaruhi perubahan kebijakan akuntansi terkait masa manfaat aset jaringan. Telkom mengubah umur depresiasi sejumlah aset jaringan yang sebelumnya mencapai 25 tahun menjadi hanya 5-10 tahun mengikuti perkembangan industri telekomunikasi.

“Perubahan kebijakan akuntansi yang kami lakukan itu membuat kami harus menerapkan kebijakan tersebut, baik itu ke depan maupun yang ke belakang atau retrospective,” kata Dian.

Ia menjelaskan, perubahan tersebut dilakukan agar laporan keuangan mencerminkan kondisi konsumsi manfaat ekonomi aset yang sebenarnya sekaligus mempermudah modernisasi jaringan Telkom ke depan.

“Tujuannya supaya kalau Telkom akan melakukan koordinasi jaringan itu menjadi lebih mudah. Karena apa? Kalau depresiasinya panjang, nilai umurnya itu akan berat,” ujarnya.

Meski menekan laba bersih secara akuntansi, Dian menegaskan kebijakan tersebut tidak berdampak terhadap arus kas perusahaan maupun kemampuan Telkom membagikan dividen.

“Sekali lagi penyesuaian tersebut tidak berdampak kepada hak-hak, karena itu non-cash item dan juga tidak berdampak kepada kemampuan kami untuk memberikan dividend kepada stakeholder karena non-cash,” tutur Dian.

Dari sisi operasional, Telkom justru mengeklaim arus kas operasional meningkat sepanjang 2025. Menurut Dian, hal ini menunjukkan program efisiensi dan pengelolaan investasi perusahaan berjalan lebih disiplin.

Kalau net income itu sebetulnya accounting buku ya, tapi kalau cash ini real cuan,” katanya.

Selain perubahan depresiasi, Telkom juga melakukan restatement laporan keuangan 2023 dan 2024 seiring penyesuaian kebijakan akuntansi dan proses kepatuhan terhadap regulator pasar modal Amerika Serikat, SEC.

Di tengah tekanan laba, Telkom tetap mencatat total shareholder return (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Dian pun memberi sinyal kuat bahwa dividen tahun buku 2025 akan tetap besar.

Dividen kami kalau di-approve oleh shareholder nanti ya, usulannya adalah supaya dividennya itu masih sama, at least sama dengan tahun lalu,” ujar Dian.

Untuk prospek 2026, Dian mengaku lebih optimistis setelah kompetisi industri seluler mulai mereda pascakonsolidasi operator telekomunikasi.

“Kompetisi tidak terlalu sengit, semua operator itu sudah menjauhi price point. Jadi tadi kita lihat kuartal 2, 3, dan 4 itu trajectory-nya (tren pergerakan) sudah meningkat. Jadi itu yang menjadi modal kami untuk 2026, kenapa memberikan lebih optimisme di tahun 2026,” terangnya.