Memasuki 2026, pasar saham Indonesia diprediksi menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Perubahan arah kebijakan moneter global, dinamika geopolitik, serta tren konsumsi domestik akan sangat memengaruhi pergerakan indeks dan kinerja emiten. Di tengah kondisi tersebut, investor mulai lebih selektif dalam memilih sektor yang berpotensi memberikan imbal hasil optimal.
Oleh karena itu, mengenali sektor pasar saham yang bakal bersinar pada 2026 menjadi langkah strategis sebelum menyusun portofolio investasi. Berbagai lembaga riset dan analis pasar menilai ada sejumlah sektor yang berpeluang mencatatkan kinerja positif. Faktor pendorongnya beragam, mulai dari dukungan kebijakan pemerintah hingga perubahan gaya hidup masyarakat. Berikut tujuh sektor yang diprediksi akan menjadi sorotan pasar saham pada 2026.
1. Sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung pasar saham
Sektor perbankan diperkirakan masih memegang peranan penting sebagai penopang utama pasar saham Indonesia pada 2026. Pertumbuhan kredit yang relatif stabil, khususnya dari segmen konsumsi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja laba perbankan. Selain itu, potensi penurunan suku bunga acuan dinilai mampu mendorong peningkatan permintaan kredit baru dari masyarakat dan dunia usaha.
Di sisi lain, transformasi digital yang terus dilakukan perbankan besar menjadi faktor pendukung jangka panjang. Digitalisasi layanan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperluas basis nasabah melalui kanal digital yang lebih mudah diakses. Dengan fundamental yang kuat dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi, sektor perbankan dinilai tetap menarik bagi investor yang mengincar stabilitas dan pertumbuhan moderat.
2. Sektor energi terbarukan semakin dilirik investor
Sektor energi terbarukan diproyeksikan menjadi salah satu sektor yang paling mendapat perhatian pada 2026, seiring meningkatnya komitmen pemerintah terhadap transisi energi bersih. Pengembangan pembangkit listrik berbasis energi surya, angin, dan hidro terus dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Kondisi ini membuka peluang bisnis yang besar bagi emiten yang bergerak di sektor energi hijau.
Selain faktor domestik, sentimen global juga memberikan dorongan positif. Investor institusi semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam keputusan investasi mereka. Aliran dana ke saham berbasis energi ramah lingkungan berpotensi meningkat, sehingga menjadikan energi terbarukan sebagai sektor pasar saham yang bakal bersinar pada 2026.
3. Sektor teknologi mulai menemukan momentum baru
Setelah mengalami tekanan akibat koreksi valuasi dalam beberapa tahun terakhir, sektor teknologi diperkirakan mulai menemukan momentum kebangkitan pada 2026. Perubahan strategi bisnis yang lebih menekankan pada profitabilitas dan efisiensi membuat kinerja keuangan emiten teknologi menjadi lebih solid. Hal ini secara bertahap memulihkan kepercayaan investor terhadap sektor tersebut.
Di Indonesia, potensi pertumbuhan ekonomi digital masih tergolong besar. Perkembangan kecerdasan buatan, cloud computing, serta layanan financial technology terus menciptakan peluang baru. Emiten teknologi yang mampu menyesuaikan produk dan layanannya dengan kebutuhan pasar diprediksi akan menikmati pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
4. Sektor kesehatan diuntungkan perubahan demografi
Sektor kesehatan diperkirakan tetap mencatatkan kinerja positif pada 2026, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya layanan kesehatan. Pertumbuhan kelas menengah dan perubahan struktur demografi, khususnya meningkatnya populasi usia lanjut, turut memperkuat permintaan terhadap layanan medis. Kondisi ini memberikan prospek yang stabil bagi emiten rumah sakit dan farmasi.
Di samping itu, adopsi teknologi dalam layanan kesehatan semakin meluas. Pemanfaatan telemedicine dan digitalisasi sistem pelayanan membantu meningkatkan efisiensi serta jangkauan layanan. Dengan karakter bisnis yang relatif defensif, sektor kesehatan kerap menjadi pilihan investor di tengah ketidakpastian ekonomi.
5. Sektor konsumer berpeluang terdongkrak daya beli
Sektor konsumer diprediksi kembali menunjukkan kinerja positif pada 2026 seiring membaiknya daya beli masyarakat. Stabilnya tingkat inflasi dan peningkatan pendapatan rumah tangga menciptakan ruang bagi pertumbuhan konsumsi. Emiten konsumer primer diuntungkan karena produknya tetap dibutuhkan dalam berbagai kondisi ekonomi.
Sementara itu, konsumer non primer juga berpotensi mengalami peningkatan permintaan. Meningkatnya kepercayaan konsumen membuka peluang bagi penjualan produk gaya hidup, hiburan, dan rekreasi. Emiten yang mampu membaca tren pasar dan berinovasi dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.
6. Sektor infrastruktur masih mendapat sokongan kebijakan
Pembangunan infrastruktur diperkirakan tetap menjadi fokus pemerintah hingga 2026 sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Proyek transportasi, energi, dan kawasan industri terus dilanjutkan untuk meningkatkan konektivitas dan daya saing nasional. Hal ini memberikan prospek pendapatan yang relatif berkelanjutan bagi emiten di sektor infrastruktur.
Meski demikian, sektor ini tidak lepas dari tantangan, terutama terkait pembiayaan proyek dan pengelolaan arus kas. Investor perlu lebih selektif dalam memilih emiten dengan fundamental keuangan yang kuat. Perusahaan yang memiliki rekam jejak proyek baik dinilai lebih mampu memanfaatkan peluang yang ada.
7. Sektor komoditas selektif masih menarik perhatian
Sektor komoditas diperkirakan tetap relevan pada 2026, meski pergerakannya cenderung fluktuatif. Permintaan global terhadap komoditas seperti nikel dan tembaga masih cukup kuat, terutama karena perannya dalam industri kendaraan listrik dan energi terbarukan. Posisi Indonesia sebagai produsen utama memberikan keuntungan kompetitif bagi emiten di sektor ini.
Namun, volatilitas harga komoditas global menjadi risiko yang perlu diperhitungkan. Investor disarankan untuk lebih selektif dengan mempertimbangkan efisiensi biaya dan diversifikasi pasar emiten. Dengan pendekatan yang tepat, sektor komoditas masih berpotensi memberikan imbal hasil menarik.
Secara keseluruhan, sektor pasar saham yang bakal bersinar pada 2026 dipengaruhi oleh kombinasi tren global, kebijakan domestik, dan kekuatan fundamental masing-masing industri. Investor perlu melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi agar dapat mengelola risiko dengan lebih baik. Dengan strategi yang matang dan perspektif jangka menengah hingga panjang, peluang cuan di pasar saham 2026 tetap terbuka lebar.
IHSG Sempat Tembus 9.000-an, Purbaya: Kenaikannya Bakal Berlanjut IHSG Melemah Usai Sentuh ATH pada level 9.002, Ini Alasannya Sempat All Time High pada Level 9.002, IHSG Malah Kebakaran Kamis Sore