
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sejumlah saham diprediksi akan menjadi incaran pasar seiring Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan penyesuaian kewajiban free float menjadi 15% secara bertahap dalam tiga tahun ke depan.
Dalam kerangka kebijakan tersebut, OJK telah menjelaskan bahwa untuk menambah porsi free float, emiten dapat menempuh berbagai aksi korporasi strategis, mulai dari rights issue, hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), non-HMETD, program employee stock ownership plan (ESOP), management stock option plan (MSOP), penawaran umum pemegang saham (PUPS), divestasi pemegang saham, hingga konversi kepemilikan saham dari script ke scriptless.
Skala penyesuaian yang harus dilakukan emiten pun tidak kecil. Berdasarkan data regulator, lebih dari 200 emiten saat ini masih memiliki free float di bawah 15%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49 emiten berkapitalisasi besar akan menjadi prioritas awal implementasi kebijakan penambahan porsi saham publik.
: Free Float Bertambah, Investor Atur Strategi Koleksi Saham
Jika dipersempit pada kelompok emiten dengan nilai pasar terbesar, data yang diolah Bisnis menunjukkan terdapat 10 emiten dengan free float di bawah 15% dan kapitalisasi pasar terbesar per 2 Februari 2026. Secara berurutan, saham-saham tersebut adalah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Bank Permata Tbk. (BNLI), PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO), PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), hingga PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO).
Dari deretan emiten tersebut, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai pasar cenderung menunggu saham-saham big caps yang sudah masuk radar BEI sebagai pilot project dan memiliki jarak cukup lebar menuju ambang batas free float 15%.
: : Erajaya (ERAA) Pastikan Buyback Terukur, Free Float 15% Tetap Aman
“Terutama BREN yang memiliki free float 12,3% per Desember 2025, TPIA 10,66%, CDIA 9,97%, serta HMSP 7,5%. Keempat nama itu paling ‘ditunggu’ bukan karena opini soal fundamental, tapi karena mereka kombinasi market cap besar dan kebutuhan penyesuaian yang nyata, sehingga langkah korporasi/aksi distribusi saham publiknya akan paling material dampaknya ke pasar,” ujar Liza kepada Bisnis, Kamis (6/2/2026).
Namun demikian, potensi peluang tersebut tetap dibayangi risiko teknikal. Liza mengingatkan bahwa saham berpotensi menjadi undervalue akibat oversupply, terutama pada emiten dengan selisih free float yang jauh dari 15% dan kapitalisasi pasar besar, karena tambahan pasokan saham ke pasar bisa signifikan secara mekanis.
: : Free Float jadi 15%, BRI Danareksa Pastikan Mandat IPO Terus Jalan
Sebaliknya, risiko oversupply dinilai lebih terbatas pada emiten yang posisi free float-nya sudah mendekati ambang batas ketentuan.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis per 2 Februari 2026, emiten yang memiliki free float di atas 14,9% namun masih di bawah 15% antara lain MSTI, PSAT, IPTV, dan SAMF.
“Sehingga kebutuhan tambahan supply relatif kecil dan risiko oversupply-nya lebih rendah dibanding yang gap-nya jauh,” jelasnya.
Lebih lanjut, secara struktural Liza menilai likuiditas pasar domestik sebenarnya cukup siap menyerap tambahan saham publik, meski kapasitasnya tidak merata antar emiten maupun waktu. Pada saham big caps dengan fundamental kuat dan basis investor luas, kenaikan free float justru berpotensi memperbaiki likuiditas, mempersempit bid–ask spread, serta meningkatkan kualitas price discovery.
Risiko baru muncul apabila pelepasan saham dilakukan terlalu cepat atau berbarengan. Pasalnya, pasar domestik masih didominasi investor ritel dan institusi lokal dengan keterbatasan kapasitas.
“Karena itu, pendekatan bertahap selama tiga tahun menjadi krusial agar supply tambahan tidak menekan harga secara teknikal,” ujarnya.
Dari sisi emiten, dinamika kebijakan ini juga memengaruhi strategi korporasi. Liza menilai aksi buyback yang dilakukan sejumlah perusahaan merupakan langkah menjaga stabilitas valuasi. Di tengah dorongan otoritas agar emiten meningkatkan porsi saham publik, BREN dan TPIA justru mengumumkan rencana buyback saham.
Menurut Liza, buyback di tengah agenda kenaikan free float bukanlah kontradiksi, melainkan strategi pengelolaan timing dan stabilisasi valuasi. Dalam jangka pendek, buyback berfungsi sebagai shock absorber untuk menahan tekanan harga akibat volatilitas IHSG dan sentimen kebijakan.
“Dalam jangka menengah, buyback memberi fleksibilitas bagi emiten untuk mengatur ulang supply saham, sehingga saat pelepasan saham publik dilakukan, harga berada pada level yang lebih rasional dan terkendali. Dengan kata lain, buyback lebih mencerminkan manajemen ekspektasi pasar dan kontrol valuasi, bukan sekadar upaya spekulatif mengejar harga tinggi,” tandasnya.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal Reydi Octa. Menurutnya, aksi buyback yang dilakukan emiten afiliasi Prajogo Pangestu tersebut lebih diarahkan pada stabilisasi harga di tengah volatilitas, sekaligus memanfaatkan momentum valuasi murah sebelum saham dilepas kembali saat valuasi lebih optimal.
“Yang paling menarik dan ditunggu investor adalah BREN, TPIA, PGEO, dan BRIS karena market cap besar, visibilitas bisnis, dan potensi masuk radar institusi. Namun, yang berisiko undervalue akibat oversupply adalah saham dengan free float kecil dan likuiditas rendah jika pelepasan saham tidak bertahap,” ujar Reydi.
Dalam horizon tiga tahun implementasi kebijakan kenaikan free float, Reydi memperkirakan ratusan emiten akan mulai merilis saham ke publik. Secara struktural, langkah ini dinilai akan memperbaiki likuiditas pasar dengan memperluas basis investor.
“Namun, penyerapan demand tidak merata. Saham dengan fundamental kuat relatif diserap, sementara yang likuiditasnya tipis berisiko tekanan jangka pendek,” tandasnya.
Emiten Big Caps Jadi Pilot Project Kenaikan Free Float 15%
Otoritas bursa memberikan waktu tiga tahun bagi emiten untuk menyesuaikan free float secara bertahap dari ketentuan saat ini sebesar 7,5% menjadi 15%. Saat ini, masih terdapat lebih dari 200 emiten tercatat yang belum memenuhi ketentuan tersebut.
Dalam implementasinya, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memprioritaskan emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar. Dengan mengacu pada kapitalisasi pasar emiten yang free float-nya masih di bawah 15%, BREN dan TPIA masuk dalam kriteria prioritas tersebut.
Sesuai regulasi yang berlaku, definisi saham free float adalah saham yang dimiliki oleh pemegang saham kurang dari 5% dari seluruh saham tercatat, tidak dimiliki oleh pengendali dan afiliasinya, bukan milik anggota dewan komisaris atau direksi, serta bukan saham hasil pembelian kembali (buyback).
Berdasarkan data Bloomberg Terminal per Senin, 2 Februari 2026, terdapat 248 emiten tercatat yang masih memiliki free float di bawah 15%. Jika diurutkan berdasarkan kapitalisasi pasar terbesar, BREN menempati posisi teratas dengan free float 12,29%.
Posisi berikutnya ditempati TPIA dengan free float 10,67%, disusul PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sebesar 10,87%, serta PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) yang baru memiliki free float 9,97%.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan bahwa berdasarkan data BEI terdapat 267 emiten yang masih memiliki free float di bawah 15%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49 emiten menyumbang sekitar 90% dari total kapitalisasi pasar kelompok tersebut.
“Jadi kita coba sasar dulu yang 49 ini, walaupun seluruhnya 267 harus memenuhi. Tapi kalau kita lihat lagi, 49 saja, ini sudah merepresentasikan 90% dari market cap-nya mereka yang belum memenuhi. Jadi kita prioritaskan dulu yang ini, yang 49 ini,” kata Nyoman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Nyoman berharap keberhasilan penyesuaian free float tahap awal oleh 49 emiten tersebut dapat menjadi pilot project atau referensi bagi ratusan emiten lainnya.
“Tentunya kami di Bursa dan OJK men-support rencana-rencana mereka [emiten] dan kita akan upayakan yang terbaik, termasuk mapping tindakan korporasi apa yang mereka dapat lakukan,” tandasnya.
Adapun, revisi regulasi yang mengatur ketentuan free float dari ketentuan saat ini sebesar 7,5% ditargetkan rampung pada Maret 2026. Implementasinya akan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun ke depan.
10 emiten berkapitalisasi pasar terbesar yang memiliki free float di bawah 15% per 2 Februari 2025: No. Kode Saham Free Float (%) Market Cap (Rp) 1 BREN 12,29 1.113.770.281.500.000 2 TPIA 10,67 510.418.116.090.000 3 BNLI 10,87 144.725.438.080.000 4 CDIA 9,97 124.829.374.700.000 5 MPRO 11,16 109.367.500.000.000 6 BRIS 9,89 103.790.835.310.500 7 HMSP 7,56 94.217.642.289.000 8 ADMR 11,96 75.632.313.275.000 9 PGUN 7,62 48.197.930.608.800 10 PGEO 10,90 46.833.655.003.520
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.