Data pemegang saham 1% dibuka, risiko outflow asing intai lantai bursa

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pasar saham Indonesia memasuki fase penyesuaian baru seiring penerapan keterbukaan data pemegang saham dengan porsi kepemilikan di atas 1% serta rencana kenaikan ambang batas free float dari 7,5% menjadi 15%. Kebijakan ini dinilai positif untuk transparansi, tetapi berpotensi memicu tekanan teknis dan risiko outflow asing dalam jangka pendek.

Tim riset Maybank Sekuritas menjelaskan, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memastikan bahwa data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% kini dapat diakses publik melalui laman resmi. Sebelumnya, informasi yang tersedia hanya mencakup kepemilikan di atas 5%.

Langkah ini memungkinkan pasar menilai struktur kepemilikan emiten secara lebih akurat. Namun, setelah data 1% dibuka, sejumlah saham yang selama ini tercatat memiliki porsi free float relatif besar ternyata didominasi kepemilikan individu yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Kondisi tersebut membuat porsi free float efektif beberapa emiten terlihat menyusut signifikan.

: Investor Asing Diam-diam Beli Saham RI Rp3,44 Triliun saat IHSG Keok

Bagi saham-saham yang telah masuk indeks global seperti MSCI maupun indeks domestik seperti LQ45, perubahan perhitungan free float ini berpotensi memicu arus keluar dana asing apabila tidak memenuhi ambang batas minimum yang dipersyaratkan.

“Jangka pendek volatilitas tinggi sangat mungkin,” ujar Tim, Rabu (4/3/2026).

: : IHSG Sesi I Turun 4,32%, Semua Indeks Sektoral Kompak Merah

Menurut Maybank Sekuritas, untuk emiten dengan fundamental solid dan rencana ekspansi kuat, penyesuaian free float masih dapat diatasi melalui aksi korporasi, meski langkah tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Dengan demikian, tekanan yang muncul cenderung bersifat teknikal dan jangka pendek.

Selain keterbukaan data 1%, BEI juga memaparkan progres peningkatan batas minimum saham publik menjadi 15%. Apabila pengurangan free float cukup besar dan bertepatan dengan keputusan resmi MSCI terhadap Indonesia, maka volatilitas IHSG berpotensi meningkat.

: : IHSG Tersungkur 4,32% Sesi I, Dihantam Perang AS-Iran dan Kejutan Transparansi Saham?

Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebelumnya menyampaikan bahwa perluasan data ini merupakan bagian dari empat proposal penguatan pasar modal yang diajukan kepada penyedia indeks global MSCI dan FTSE. Data tersebut disediakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Menurutnya, rancangan peraturan terkait kenaikan free float telah selesai dibahas secara internal setelah melalui fase public hearing pada 19 Februari lalu dan tinggal menunggu tahapan lanjutan.

Dengan kombinasi transparansi yang lebih tinggi dan penyesuaian ambang batas saham publik, pelaku pasar kini menanti bagaimana reaksi investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap perubahan komposisi indeks.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.