
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Permintaan domestik yang melemah masih menjadi tantangan utama bagi kinerja emiten konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas, mencatat pertumbuhan penjualan domestik ICBP terbatas, sehingga mendorong perusahaan semakin mengandalkan kontribusi dari pasar ekspor.
Penjualan domestik ICBP pada periode sembilan bulan pertama 2025 hanya tumbuh 0,8% secara tahunan (year on year/YoY). Alhasil, kontribusinya terhadap total penjualan turun menjadi 69%, dibandingkan 70% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, penjualan ekspor ICBP tercatat tumbuh 2,8% YoY.
“Kenaikan penjualan ekspor ini didukung oleh kenaikan pengiriman ke pasar Asia dan Afrika, meskipun penjualan ke wilayah lain turun 17% YoY,” ujar Ezaridho dalam riset 1 Desember 2025.
Adapun saat ini Indonesia masih menempati peringkat pasar mi instan terbesar kedua setelah China menurut World Instant Noodles Association. Namun, Ezaridho mencatat pertumbuhan pasar domestik pada 2024 sebesar 0,9% YoY, masih tertinggal dibandingkan pertumbuhan global yang naik 2,4% YoY.
IHSG Diprediksi Bergerak Sideways pada Rabu (21/1), Saham-Saham Ini Bisa Dicermati
Jessica Leonardy, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, bilang dari sisi makro, katalis positif yang dapat menopang kinerja sektor konsumer sepanjang tahun ini berasal dari kebijakan fiskal dan moneter yang lebih ekspansif serta potensi pemulihan daya beli masyarakat.
Berdasarkan Retail Sales Survey, Indeks Penjualan Riil (IPR) diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% YoY, didorong oleh permintaan yang kuat terhadap barang kebutuhan pokok seperti F&B dan tembakau, serta barang rekreasi seiring meningkatnya permintaan musiman saat Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Memasuki kuartal pertama, kami memperkirakan retail sales akan tetap solid, didukung oleh peningkatan household spending menjelang sejumlah perayaan seperti Imlek dan Lebaran,” jelas Jessica kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Namun, menurut Jessica, pemulihan daya beli konsumen akan lebih terlihat pada segmen menengah ke atas (mid-to-upper income), sementara pemulihan pada segmen menengah ke bawah (low-to-mid income) diperkirakan berlangsung lebih gradual.
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan bersih ICBP mencapai Rp 56,26 triliun hingga September 2025, naik 1,4% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 55,47 triliun.
IHSG Terus Naik saat Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Ada Apa?
Namun, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih mencapai Rp 7,10 triliun pada kuartal III-2025, turun 12,77% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 8,15 triliun.
Dari sisi pendapatan, ICBP diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan yang moderat tahun ini. Jessica memperkirakan pertumbuhan pendapatan ICBP akan berada di kisaran low-single digit pada 2025 hingga 2026, seiring tantangan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Kinerja penjualan di pasar luar negeri diproyeksikan tetap solid, terutama ditopang oleh segmen mi instan melalui Pinehill Company Limited yang menjadi kontributor utama penjualan overseas. Permintaan mi instan di pasar internasional dinilai masih kuat dan mampu menjadi penyangga pertumbuhan pendapatan ICBP di tengah perlambatan pasar domestik.
Sementara itu, dari sisi domestik, pertumbuhan volume penjualan dinilai masih cukup terjaga, dengan dukungan utama berasal dari segmen mi instan dan produk dairy. Namun demikian, dari sisi profitabilitas, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menjadi faktor penekan laba bersih perseroan.
Permada Darmono, Analis UBS Sekuritas, mencatat harga saham ICBP telah terkoreksi sekitar 30% sejak akhir Mei. Koreksi tersebut terutama dipicu oleh perlambatan pertumbuhan pendapatan yang membuat realisasi kinerja ICBP berada di bawah ekspektasi konsensus pasar maupun guidance perusahaan.
ICBP Chart by TradingView
Seiring dengan kondisi tersebut, manajemen ICBP juga menurunkan panduan pertumbuhan pendapatan. Faktor lain yang turut membebani pergerakan saham ICBP adalah melemahnya daya beli konsumen Indonesia, yang berdampak langsung pada permintaan produk konsumsi sehari-hari.
Di sisi eksternal, sentimen negatif juga datang dari dikeluarkannya saham ICBP dari indeks MSCI pada November 2025 lalu.
“Meskipun seluruh faktor tersebut valid sebagai penyebab koreksi harga saham, menurut pandangan kami koreksi ini kini sudah berlebihan,” ungkap Permada dalam riset 12 Januari 2026.
Dengan berbagai faktor di atas, Permada menurunkan target harga menjadi Rp 11.300 dari Rp 13.000 dan tetap mempertahankan rekomendasi Buy. Adapun Ezaridho merekomendasikan Overweight saham ICBP dengan target harga Rp 9.700 per saham.
Sementara itu, Abida Massi Armand, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, merekomendasikan Buy ICBP dengan target harga Rp 11.500 per saham.