
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) masih akan ditopang oleh aset pendapatan berulang (recurring income) di tahun 2026.
Tren tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2025. PWON membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 7,11 triliun pada 2025, meningkat 7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,67 triliun.
Corporate Secretary PT Pakuwon Jati Tbk, Minarto Basuki, mengatakan pertumbuhan pendapatan juga ditopang oleh kontribusi pendapatan berulang.
“Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih dimana didukung oleh pendapatan berulang yang terdiri dari segmen pusat perbelanjaan ritel yang meningkat 14% dari Rp 3,43 triliun pada tahun sebelumnya, menjadi Rp 3,93 triliun,” ungkap Minarto, dalam keterangannya.
Kinerja Tergolong Solid, Tapi Kenapa Saham BBCA Masih Terus Tertekan?
Sementara itu, pendapatan sewa perkantoran tercatat sebesar Rp 273 miliar, turun 26% dari Rp 369 miliar pada tahun sebelumnya, dan pendapatan dari bisnis perhotelan mencapai Rp 1,42 triliun, meningkat 2% dari Rp 1,38 triliun pada tahun sebelumnya.
“Development revenue relatif stabil, dari Rp 1,48 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp 1,49 triliun,” katanya.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata melihat, aset hunian PWON tidak lagi jadi unggulan bukan karena produknya melemah, tetapi karena siklus properti yang belum mendukung.
“Secara struktur, pendapatan PWON sudah bergeser dengan sekitar 75–80% berasal dari recurring income, seperti mall dan hotel,” katanya kepada Kontan, Senin (20/4/2026).
Sementara, marketing sales turun 16% year on year (YoY) ke Rp 1,3 triliun pada tahun 2025 dan hanya mencapai 72% target.
Permintaan hunian masih tertahan oleh suku bunga tinggi dan daya beli yang belum pulih penuh, ditambah penjualan yang banyak ditopang insentif PPN sehingga sifatnya tidak organik.
“Selain itu, segmen landed house juga paling terdampak karena sangat siklikal. Jadi ini lebih mencerminkan downcycle pasar hunian, bukan perubahan kinerja fundamental PWON,” tuturnya.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan, tingginya suku bunga menekan permintaan properti hunian.
“Sehingga, recurring income seperti mal dan hotel menjadi penopang berkat stabilnya tingkat okupansi dan trafik,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/4/2026).
Astra Graphia (ASGR) Tebar Dividen di Atas Laba, Seberapa Menarik Sahamnya?
Untuk 2026, aset hunian belum akan kembali jadi motor utama penggerak kinerja PWON. Pemulihan juga cenderung bertahap dan tetap bergantung pada kebijakan, seperti PPN DTP dan arah suku bunga Bank Indonesia (BI rate).
Liza melihat, dari sisi penggerak kinerja, PWON saat ini lebih menyerupai quasi-REIT (Real Estate Investment Trust). Artinya, bisnis Pakuwon didominasi aset sewa yang menghasilkan arus kas rutin dan stabil seperti mall dan hotel, bukan penjualan proyek sekali jadi.
Okupansi mall yang tinggi di kisaran 95–96% memberikan pricing power yang berarti PWON punya kemampuan untuk menaikkan harga produk tanpa kehilangan pelanggan secara signifikan.
Hal itu didukung oleh keberagaman tenant food and beverages (F&B) dan lifestyle yang relatif tahan terhadap disrupsi digital, serta pertumbuhan recurring income yang konsisten sekitar 5%–6% per tahun.
“Selain itu, ekspansi superblock PWON juga masih berlanjut di kawasan Bekasi dan Surabaya, yang akan menambah kontribusi rental income ke depan,” katanya.
Namun, risiko tetap ada dari lemahnya pendapatan dari segmen office yang masih terkontraksi, serta ketergantungan sektor properti terhadap stimulus serta sensitivitas terhadap suku bunga dan konsumsi.
Dibandingkan peers emiten properti lain, seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PWON unggul dari sisi stabilitas dan visibilitas earnings.
“Tetapi kinerja PWON relatif tertinggal dalam potensi upside saat siklus properti pulih, sehingga lebih tepat diposisikan sebagai defensive property play dibandingkan growth story yang agresif,” ungkapnya.
Wafi menambahkan, pendapatan PWON di tahun ini masih akan didominasi oleh kontribusi dari aset recurring income.
Sentimen utama berasal dari pelonggaran suku bunga BI, stabilitas konsumsi domestik, dan progres proyek IKN.
“Kinerja akan lebih stabil dan bisa lebih baik dibanding peers karena tingginya porsi recurring income,” tuturnya.
Dari sisi kinerja saham, valuasi PWON cenderung murah karena masih di bawah rata-rata historisnya. Saat ini, price to earning ratio (PER) ada di 7,14x dan price to book value (PBV) di 0,75x.
“Ini menarik untuk mengejar capital gain, tapi kurang atraktif untuk dividend yield, karena kebijakan PWON yang menahan laba untuk ekspansi,” katanya.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk PWON dengan target harga Rp 520 per saham.