
Ussindonesia.co.id , MALANG — Bank Indonesia (BI) Malang mewaspadai harga BBM menjadi pemicu inflasi di Malang Raya dan Pasuruan yang dipicu konflik AS-Iran.
Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan yang juga perlu diwaspadai terkait harga emas yang harganya mengalami volatilitas dan cenderung naik. Namun, negara apalagi daerah tidak mempunyai instrumen untuk mengendalikan harga emas.
“Inflasi di Kota Malang dan Probolinggo cenderung tinggi. Pemicu utama dari komoditas pangan, yakni cabai rawit, ayam ras, dan telur ayam ras, namun cabai keriting dan merah besar justru stabil. Karena itulah, masyarakat bisa beralih dari mengkonsumsi cabai rawit ke cabai keriting dan merah besar,” ujarnya, Kamis (5/3/2025).
: Pertumbuhan Ekonomi Kota Malang 2025 Tembus 5,9%
Dia meyakinkan, daerah didukung BI Malang lewat TPID melakukan aksi pengendalian inflasi, seperti di Kota Malang, menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di 34 titik.
Untuk melancarkan distribusi bahan-bahan kebutuhan pangan, juga akan diberikan bantuan ongkos transportasi oleh Bapanas. “Intinya, masyarakat jangan panic buying,” ucapnya.
: : Ramadan, Optimisme Konsumen di Malang Tetap Terjaga
Langkah pemerintah memberikan a.l diskon pada tarif KA dan tol, serta mudik bersama gratis positif untuk menekan angka inflasi dari sektor transportasi pada Maret 2026.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan menjadi pendorong inflasi di Kota Malang pada Februari 2026 yang mencapai 0,74% dan 1,12% di Kota Probolinggo.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada bulan Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,74% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,10% (mtm).
“Dengan capaian tersebut, Kota Malang mengalami inflasi tahunan sebesar 4,81% (yoy), berada di bawah inflasi tahunan Jawa Timur sebesar 4,88% (yoy), namun di atas inflasi tahunan Nasional sebesar 4,76% (yoy),” katanya.
Menurutnya, inflasi IHK pada Februari 2026 terutama didorong oleh peningkatan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,48% (mtm).
Berdasarkan penyebabnya, inflasi Kota Malang terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah, masing-masing dengan andil sebesar 0,20%, 0,17%, 0,10%, 0,07%, dan 0,02% (mtm).
Kenaikan harga komoditas pangan, yakni cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah, dia menegaskan, disebabkan oleh penurunan pasokan di tengah curah hujan yang tinggi dan meningkatnya permintaan pada awal HBKN Ramadhan 1447 H. Sementara kenaikan harga emas perhiasan terjadi sejalan dengan tren peningkatan harga komoditas emas yang masih berlanjut.
Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh beberapa komoditas yang mencatatkan deflasi, a.l, bensin, wortel, sawi putih/pecay/pitsai, bawang merah, dan tarif kereta api. Komoditas bensin memberikan andil deflasi sebesar -0,05% (mtm), sementara empat komoditas lainnya memberikan andil terhadap deflasi masing-masing sebesar -0,01% (mtm).
Penurunan harga bensin terjadi seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, Pertamina Dex) per 1 Februari 2026. Adapun penurunan harga wortel, sawi putih/pecay/pitsai, dan bawang merah disebabkan oleh pasokan yang tetap terjaga.
Tarif kereta api juga mengalami penurunan seiring dengan program diskon tarif kereta api dari PT KAI (Persero) sebesar 30% dalam rangka mendukung angkutan Lebaran 2026.
Tekanan inflasi Kota Malang pada Februari 2026 masih sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional. Hal ini tidak terlepas dari koordinasi solid yang dilakukan TPID melalui sinergi kolaboratif dalam pengendalian inflasi, a.l pelaksanaan GPM Serentak 13 Februari 2026 oleh TPID Kota Malang, pelaksanaan GPM Kota Malang 23 Februari – 17 Maret 2026 di 34 titik lokasi, monitoring harga bahan pangan pokok selama Februari 2026 oleh TPID Kota Malang.
Juga, sidak pasar oleh Satgas Pangan Kota Malang 19 Februari 2026 untuk memastikan ketersediaan pasokan, bantuan fasilitasi distribusi ongkos angkut dan penyelenggaraan GPM Serentak Kota Malang 13 Februari 2026, bantuan fasilitasi distribusi ongkos angkut dan penyelenggaraan GPM Kota Malang 23 Februari – 17 Maret 2026 di 34 titik lokasi, keikutsertaan TPID di Wilker BI Malang pada HLM TPID & TP2DD Provinsi Jatim 26 Februari 2026, serta keikutsertaan pada rakor TPID mingguan bersama Kemendagri selama Februari 2026.
“Menghadapi risiko meningkatnya tekanan inflasi pada periode HBKN Idulfitri yang jatuh pada Maret, TPID akan berupaya meningkatkan intensitas pemantauan harga dan melakukan intervensi melalui operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok,” kata Indra.
Risiko Tekanan Inflasi jelang Lebaran
Menghadapi risiko meningkatnya tekanan inflasi pada periode HBKN Idulfitri yang jatuh pada Maret, kata Indra, TPID akan berupaya meningkatkan intensitas pemantauan harga dan melakukan intervensi melalui operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Berdasarkan rilis BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Probolinggo pada bulan Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 1,12% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatatkan deflasi sebesar 0,03% (mtm).
“Secara tahunan, Kota Probolinggo mencatatkan inflasi sebesar 5,04% (yoy). Inflasi IHK pada Februari 2026 terutama didorong oleh peningkatan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,70% (mtm),” katanya.
Berdasarkan komoditasnya, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas emas perhiasan, cabai rawit, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras masing-masing dengan andil sebesar 0,40%, 0,23%, 0,15%, 0,05%, dan 0,04% (mtm).
Peningkatan harga emas perhiasan, kata dia, terjadi sejalan dengan peningkatan harga komoditas emas yang masih terus berlanjut. Sementara peningkatan harga cabai rawit dipicu oleh berkurangnya pasokan di tengah peningkatan curah hujan yang berdampak pada penurunan produksi, di tengah kenaikan permintaan pada momen HBKN Ramadan. Pada saat yang juga terjadi peningkatan permintaan yang berdampak pada kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras.
Menurutnya, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga komoditas bensin, bawang merah, bawang putih, dan wortel dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,02%, -0,01%, -0,01%, dan -0,01% (mtm).
Penurunan harga bensin terjadi seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, Pertamina Dex) per-1 Februari 2026. Selanjutnya, penurunan harga bawang merah disebabkan oleh melimpahnya pasokan seiring dengan terjaganya pasokan di tengah periode panen raya di sentra produksi.
Adapun penurunan harga bawang putih terjadi seiring dengan masuknya bawang putih impor ke pasar domestik untuk menekan peningkatan harga menjelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Sementara penurunan harga wortel disebabkan oleh pasokan yang tetap terjaga.
Tekanan Inflasi Kota Probolinggo pada Februari 2026 masih terjaga sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional. Hal ini tidak terlepas dari koordinasi solid di dalam TPID yang diwujudkan melalui sinergi kolaboratif dalam upaya pengendalian inflasi, a.l, pelaksanaan Pasar Murah Kota Probolinggo 21 Februari – 14 Maret 2026, monitoring harga bahan pangan pokok selama bulan Februari 2026 oleh TPID Kota Probolinggo.
Juga, Pelatihan Budidaya Cabai Rawit di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo tanggal 9 Februari 2026, serta keikutsertaan TPID di wilker BI Malang pada HLM TPID & TP2DD Provinsi Jatim 26 Februari 2026, dan keikutsertaan pada rakor TPID mingguan selama Februari 2026.