
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Harga emas terkoreksi tajam seiring penguatan dolar AS yang dipicu oleh kabar Presiden AS Donald Trump yang akan menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (30/1/2026), harga emas di pasar spot sempat anjlok hingga 4,8% sebelum memangkas penurunannya menjadi US$5.207,70 per ons, atau turun 3,%1pada pukul 11.10.
Pergerakan ini mencerminkan volatilitas tinggi yang memutus reli pemecahan rekor pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS menguat hingga 0,5%, sehingga membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi sebagian besar pembeli global.
: Harga Emas Antam Hari Ini (30/1) Turun Rp48.000, Dibanderol Rp3,12 Juta per Gram
Presiden Donald Trump dilaporkan akan menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed. Warsh dikenal luas sebagai tokoh yang berpandangan ketat terhadap inflasi (inflation hawk). Namun, dalam beberapa bulan terakhir dia sejalan dengan sikap Trump dengan secara terbuka mendorong kebijakan suku bunga yang lebih rendah.
Trump mengatakan pengumuman resmi mengenai calon Ketua The Fed akan disampaikan pada Jumat pagi waktu AS.
“Pergerakan emas ini menegaskan peringatan klasik soal kenaikan yang terlalu cepat diikuti koreksi yang sama cepatnya,” ujar Christopher Wong, ahli strategi Oversea-Chinese Banking Corp.
Menurutnya, meski kabar pencalonan Warsh menjadi pemicu, koreksi harga emas memang sudah lama dinantikan pasar. Dia mengatakan, kabar itu seperti alasan yang ditunggu pasar untuk mengakhiri pergerakan harga yang terlalu parabolik.
Meski terkoreksi, harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 20% sepanjang tahun ini. Kinerja tersebut ditopang oleh kebijakan Trump yang mengguncang tatanan internasional serta tekanan terhadap independensi The Fed.
Ketegangan geopolitik juga tetap tinggi setelah Trump mengancam akan menyerang Iran, sekaligus menyatakan akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Ancaman tarif terhadap Eropa, Kanada, dan Korea Selatan turut mengguncang pasar keuangan global.
Di sisi lain, risiko terjadinya penutupan pemerintahan AS (government shutdown) dalam waktu dekat berhasil dihindari setelah Trump dan Senat yang dikuasai Partai Demokrat mencapai kesepakatan sementara.
Gedung Putih saat ini masih melanjutkan negosiasi dengan Demokrat terkait pembatasan baru terhadap operasi penegakan imigrasi, yang sebelumnya memicu protes luas di tingkat nasional.