
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Terpilih Thomas Djiwandono menegaskan peran bank sentral tidak lagi sekadar menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga menopang pertumbuhan ekonomi.
Pria yang disapa Tommy ini menolak pandangan seakan melawan peran menjaga stabilitas (pro-stability) dan mendorong pertumbuhan (pro-growth).
Menurutnya, Undang-Undang No. 4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) menegaskan bahwa peran BI tidak hanya menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah, namun juga pertumbuhan yang berkelanjutan.
: Thomas Djiwandono Klaim Tak Pernah Bertemu Prabowo Soal Posisi Deputi Gubernur BI
“Saya sekali lagi enggak melihat itu [stabilitas dan pertumbuhan] sebagai dikotomi,” kata Thomas di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Tommy membandingkan peran BI tersebut dengan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang juga mengemban mandat ganda termasuk menjaga tingkat penyerapan tenaga kerja (full employment)—selain menjaga stabilitas.
: : Thomas Djiwandono Ungkap Perannya ketika Resmi Jadi Deputi Gubernur BI
Apalagi, menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini justru membuka ruang lebar bagi otoritas moneter untuk melakukan ekspansi tanpa mengorbankan stabilitas.
Dia menyoroti neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan surplus selama 67 bulan berturut-turut serta posisi cadangan devisa yang sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada Maret 2025 sebesar US$157,1 miliar.
: : Purbaya Sebut Wamenkeu Pengganti Thomas Djiwandono Dilantik Februari
Kondisi fundamental yang solid tersebut, sambungnya, menjadi landasan mengapa BI berani menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 125 basis poin pada tahun lalu.
Tommy menekankan bahwa sinergi fiskal dan moneter ke depan tidak lagi dalam konteks penanganan krisis seperti saat pandemi, melainkan fokus pada akselerasi pertumbuhan ekonomi.
“Jadi kesempatan ekspansi itu ada. Karena kesempatan ini ada, sinergitas antara fiskal dan monetary itu penting,” katanya.
Di samping itu, keponakan Presiden Prabowo Subianto itu mengklaim bahwa penekanan pada pertumbuhan tidak akan mendegradasi fungsi utama bank sentral sebagai penjaga stabilitas.
“Itu sekali lagi tidak mengurangi peran BI dari peran stabilitasnya. Memang imbangan antara stabilitas dan ekspansi itu selalu menjadi pertanyaan dasar dari pemangku kebijakan di moneter. Itu bukan sesuatu hanya di BI, itu di [bank sentral] manapun seperti itu,” katanya.