Geliat BREN di tengah gejolak indeks global, kebut 1 gigawatt intip prospeknya

Emiten energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tengah mengebut peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi menjadi 1 gigawatt 2026.

Seiring dengan ekspansi perusahaan, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengumumkan High Shareholding Concentration (HSC) pada saham BREN. Hal itu memicu kekhawatiran terkait potensi downweight atau pengurangan bobot BREN dalam indeks MSCI. 

Dalam keterangannya, BEI mengumumkan saham Grup Barito itu dimiliki oleh sejumlah terbatas pemegang saham yang secara agregat menguasai hingga 97,31% dari total saham beredar.  Adapun free float BREN tercatat 12,29% per Februari 2026.

Kemudian pada 7 April 2026, FTSE Russell mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. FTSE juga menegaskan tidak memasukkan Indonesia dalam daftar pantauan untuk penurunan status.

Baca juga:

  • IHSG Sesi I Naik ke 7.492, Saham Kongsi Prajogo BRPT, CDIA hingga PTRO Melonjak
  • Adu Kinerja 12 Emiten Grup Bakrie: BUMI, DEWA, BNBR hingga UNSP, Siapa Terkuat?
  • Purbaya Siapkan Skema Legalisasi Rokok Ilegal untuk Kerek Penerimaan Negara

Prospek BREN di Tengah Gejolak Indeks Global

Strategic Note Research Division Henan Putihrai Sekuritas menilai prospek emiten Energi Baru Terbarukan (EBT) menunjukkan daya tahan kuat di tengah sentimen negatif indeks global.

Sejak awal April, investor aktif terpantau telah melakukan langkah antisipasi (front-running) sehingga sebagian besar tekanan jual diperkirakan telah terserap sebelum eksekusi dana pasif dilakukan.

Tak hanya itu, keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai secondary emerging market dan tidak memasukkannya ke watch list. Henan mennilai hal ini adalah sinyal validasi yang seharusnya menjadi penyeimbang utama di tengah spekulasi seputar MSCI. 

“Dua lembaga indeks global mengevaluasi pasar yang sama, dan salah satunya memberikan penilaian yang tegas positif,” demikian tertulis Henan dalam analisisnya, Senin (13/4). 

Henan menilai bahwa kekhawatiran terkait risiko likuiditas yang beredar di publik terhadap saham BREN cenderung berlebihan dibanding kondisi sebenarnya. Hal ini tercermin dari data VWAP selama enam bulan yang menunjukkan harga rata-rata berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.100.

Tak hanya itu, total transaksi mencapai lebih dari tiga miliar lembar saham. Angka tersebut mencerminkan adanya basis akumulasi yang kuat di pasar. Di sisi lain, BlackRock tercatat telah meningkatkan kepemilikannya di BREN secara signifikan hingga 176 kali lipat sejak kuartal pertama 2024, dengan rata-rata harga akumulasi di level Rp 7.948 per saham.

“Itu bukan perilaku investor yang takut pada dinamika indeks, itu justru conviction buying oleh manajer aset terbesar di dunia,” tulis Henan. 

Targetkan Kapasitas 1 Gigawatt

Secara operasional, Henan Sekuritas menilai BREN masih on track untuk mencapai kapasitas terpasang 1 GW pada 2026. Pergerakan indeks dinilai hanya memengaruhi struktur kepemilikan saham, tanpa berdampak pada operasional pembangkit maupun arus kas perseroan. 

Selain itu sinyal dari FTSE Russell juga menegaskan nilai jangka panjang emiten EBT tetap lebih kuat dibanding gejolak sentimen pasar jangka pendek. Henan menegaskan, perubahan indeks tidak menyentuh fundamental aset. 

Dalam hal ini, nilai BREN tetap ditopang oleh kinerja operasional dan keberlangsungan kontrak PPA, seiring langkah perseroan menuju target kapasitas 1 GW.

“Volatilitas yang dipicu sentimen jangka pendek cenderung bersifat sementara, sedangkan nilai intrinsik akan tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental jangka panjang,” kata Henan.