BEI catat 16 perusahaan antre IPO, sektor kesehatan mendominasi

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan sampai dengan 17 April 2026 terdapat 16 perusahaan yang terdaftar dalam pipeline penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Sepanjang tahun berjalan, baru ada satu perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan dana yang dihimpun sebesar Rp0,30 triliun, yaitu PT BSA Logistic Indonesia Tbk. (WBSA).

Melansir dokumen pipeline bursa efek Indonesia 2026, dari 16 perusahaan tersebut 5 di antaranya merupakan perusahaan aset skala menengah yakni berkisar antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta 11 perusahaan aset skala besar di atas Rp250 miliar.

: Profil Gayo Mineral Resources, Aset Tambang Grup Bakrie yang Disiapkan IPO

Bila dibedakan berdasarkan sektor usaha, sebanyak 3 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, 3 perusahaan di sektor consumer non-cyclicals, 1 perusahaan energi, 1 perusahaan finansial, 4 perusahaan di bidang kesehatan, 2 perusahaan infrastruktur, dan 2 perusahaan teknologi.

Sementara itu, di dalam pipeline obligasi terdapat 46 emisi dari 31 penerbit EBUS. Penerbit obligasi paling banyak adalah perusahaan sektor finansial berjumlah 15 perusahaan, kemudian 7 perusahaan infrastruktur, 5 perusahaan sektor energi, 2 perusahaan basic materials, dan 2 perusahaan consumer non cyclicals.

: : Dharma Henwa (DEWA) Beberkan Rencana IPO Anak Usaha Gayo Mineral Resources

“Hingga saat ini telah diterbitkan 52 emisi dari 35 penerbit EBUS dengan dana dihimpun sebesar Rp57,16 triliun,” tulis BEI, Sabtu (18/4/2026).

Selanjutnya, dalam pipeline aksi korporasi rights issue terdapat 1 perusahaan dari sektor properti dan real estate. Hingga 17 April 2026, telah ada 3 perusahaan tercatat yang melakukan aksi korporasi rights issue dengan dana yang dihimpun sebesar Rp3,75 triliun.

: : Senjakala IPO dan Musim Berburu ‘Cangkang’ di Bursa

Sebagai informasi, dibandingkan dengan pipeline BEI per 10 April 2026 terdapat tambahan 1 perusahaan di dalam pipeline IPO, sementara di dalam pipeline obligasi terdapat tambahan 6 emisi dan 3 penerbit EBUS. Sedangkan, jumlah aksi korporasi rights issue belum ada perubahan dibanding data per 10 April 2026.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang berada di dalam antrean saat ini sebagian besar telah mengajukan IPO dengan laporan keuangan tahun buku 2025 mereka, sehingga diharapkan realisasi IPO bisa terlaksana paling lambat Juni 2026.

“Maksimal bulan Juni 2026, nanti tergantung kecepatan mereka memberikan tanggapan kepada kita. Jika mereka segera menyampaikan tanggapan, tentu proses di kita akan lebih cepat,” jelasnya saat ditemui di Kantor BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

_________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.