
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pemegang saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel, Glencore International Investments Ltd. melakukan aksi penjualan saham secara bertahap dengan nilai mencapai Rp276,9 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, dikutip Sabtu (10/1/2026), aksi divestasi dilakukan dalam kurun waktu akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026.
Glencore tercatat melepas sekitar 204,97 juta saham emiten tambang nikel tersebut dalam rentang waktu 29 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026.
: Perubahan Kepemilikan Saham BSML, BUMI, CMNP, DEWA, GJTL, NCKL Hingga ULTJ per 6 Januari 2026
Transaksi dilakukan secara bertahap melalui lima kali penjualan tidak langsung dengan kisaran harga Rp1.129 hingga Rp1.414 per saham. Jika dikalkulasikan, harga jual rata-rata dari seluruh transaksi berada di level Rp1.351 per saham.
Transaksi dengan volume terbesar tercatat terjadi pada 7 Januari 2026 kala Glencore melepas 122,45 juta saham pada harga Rp1.414 per lembar, diikuti transaksi pada 6 Januari 2026 sebanyak 64,24 juta saham di harga Rp1.288.
: : Kepemilikan Glencore International Investment di Harita Nickel (NCKL) Susut 18,28 Juta Saham
Setelah penjualan, porsi kepemilikan Glencore di NCKL susut, dari semula 4,53 miliar saham atau setara dengan 7,20% kini turun menjadi 4,33 miliar saham atau sekitar 6,87% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham NCKL saat ini berada di level Rp1.300 per saham hingga penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026). Harga itu mencerminkan pertumbuhan sebesar 15,56% sepanjang tahun berjalan.
: : Prospek Saham ANTM, INCO hingga NCKL Kala Harga Nikel Menanjak
Kenaikan harga saham NCKL terjadi seturut kenaikan harga komoditas nikel. Peningkatan nikel saat ini dinilai memiliki dasar struktural setelah pasar global keluar dari fase kelebihan pasokan yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menyampaikan bahwa normalisasi pasokan menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga nikel saat ini.
Dia menjelaskan bahwa pada 2023–2024, pasar nikel global berada dalam kondisi oversupply yang tinggi. Kondisi tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan dari sektor baja tahan karat serta kendaraan listrik secara global.
“Sifat yang struktural ini lebih dipengaruhi oleh adanya normalisasi pasokan setelah sebelumnya mengalami fase oversupply yang sangat tinggi,” ungkap Nafan saat dihubungi Bisnis, Rabu (7/1/2026).
Di sisi lain, pasar juga sempat tertekan oleh ekspansi kapasitas produksi yang masif di Indonesia, baik melalui penerapan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) maupun Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Namun demikian, memasuki tahun 2026, arah kebijakan mulai berubah melalui isu pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.