
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Keputusan Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia diproyeksi berisiko menimbulkan gelombang arus keluar modal investor asing dari pasar saham. Analis merekomendasikan investor untuk mencermati saham potensial tetapi dengan porsi kepemilikan asing yang rendah.
Seperti diberitakan Bisnis, Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat utang Indonesia di level investment grade Baa2, tetapi menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif. Moody’s menyampaikan bahwa perubahan ini mencerminkan menurunnya prediktabilitas penyusunan kebijakan, yang berisiko menurunkan efektivitas kebijakan dan kekhawatiran terkait tata kelola.
Sentimen itu merembet ke pasar saham pada pagi ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka melemah pada posisi 7.945,04. IHSG sempat bergerak di rentang 7.894-7.945 sesaat setelah pembukaan.
Terkait dengan aliran dana investor asing, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan terjadi jual bersih atau net sell senilai Rp1,43 triliun dan Rp469,81 miliar dalam 2 hari terakhir.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan revisi prospek Indonesia oleh Moody’s harus dilihat sebagai sinyal awal premi risiko yang lebih tinggi, bukan sebagai credit event.
Pada pagi ini, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia meningkat 3 bps menjadi 80 bps, seiring dengan penurunan outlook utang Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif.
“Meskipun langkah ini dapat mendorong kehati-hatian jangka pendek terhadap aset Indonesia, hal ini seharusnya tidak memicu forced selling atau penyesuaian harga struktural,” paparnya dalam riset, Jumat (6/2/2026).
: IHSG & Rupiah Kompak Merosot Imbas Sentimen Pengumuman Moody’s
Dengan demikian, Erindra mengatakan dampak keputusan itu menambah sentimen risk-off di pasar saham. Hal itu sudah tecermin pada arus keluar dana asing di pasar saham Indonesia yang mencapai US$711 juta sepanjang tahun berjalan 2026.
“Dengan fundamental makro yang tetap solid dan sorotan pada aspek tata kelola bukan pada tekanan utang atau penurunan indikator makroekonomi, kami percaya bahwa kembalinya prospek yang stabil tetap menjadi skenario base case,” jelasnya.
Meskipun demikian, risiko akan meningkat jika lembaga pemeringkat lain merevisi prospek mereka atau negara tersebut mengalami penurunan signifikan dalam posisi eksternal.
Di tengah sentimen tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mengatur ulang fokus dan saham pilihan dengan menekankan pada aspek potensi upside dan visibilitas laba yang lebih baik. Saham dengan porsi kepemilikan asing yang rendah dan risiko capital outflow kecil juga menjadi pilihan.
Beberapa saham yang menjadi rekomendasi BRI Danareksa Sekuritas ialah ANTM dengan rekomendasi beli dan target harga Rp4.800, AADI dengan rekomendasi beli dan target harga Rp9.850, ISAT dengan rekomendasi beli dan target harga Rp3.000, ICBP dengan rekomendasi beli dan target harga Rp11.500, JPFA dengan rekomendasi beli dan target harga Rp3.100, dan BBNI dengan rekomendasi beli dan target harga Rp4.700 per saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.