
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik geopolitik di Timur Tengah membuat dolar Amerika Serikat (AS) menekan mata uang utama lainnya seperti euro (EUR), pound sterling (GBP), dan Yen Jepang (JPY).
Mengutip situs Trading Economics, Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) pada Kamis (12/03) pukul 16.53 WIB menanjak ke 99,31 dari akhir pekan lalu di 98,39.
Sementara itu, EUR/USD dalam sehari turun 0,06% ke 1,15. GBP/USD secara harian turun 0,15% ke 1,33 dan USD/JPY dalam sehari turun 0,12% ke 158,76.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo memberikan strategi investasi valuta asing (valas) paling efektif di kondisi saat ini menggunakan pendekatan top down.
Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Begini Proyeksi Dolar ke Depan
Pendekatan tersebut mengharuskan investor menganalisis kondisi ekonomi global lalu kondisi ekonomi negara serta memilih pasangan mata uang yang berpotensi bergerak.
“Investor sebaiknya fokus pada pemanfaatan rasio Fibonacci untuk mencari titik entri yang objektif dan menghindari spekulasi berlebih di tengah intervensi pasar, terutama pada pasangan mata uang yang mendekati level psikologis krusial seperti JPY, guna memitigasi risiko volatilitas yang ekstrem,” kata Sutopo kepada Kontan pada Kamis (12/3/2026).
Di sisi lain, founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menyarankan investor melakukan Dollar-Cost Averaging (DCA), membeli mata uang secara bertahap dalam jumlah tetap untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil.
Indeks Dolar Naik, Ini Sentimen Pendorongnya
“Diversifikasi keranjang mata uang yang tidak hanya terpaku pada USD, namun mulai melirik mata uang berbasis komoditas atau mata uang dengan fundamental domestik yang kuat untuk membagi risiko,” kata Wahyu.
Selain itu, investor juga harus mencermati manajemen risiko yang ketat dengan menggunakan batas kerugian (stop loss) dan target keuntungan yang realistis sehingga berinvestasi hanya menggunakan dana yang tidak akan digunakan dalam jangka pendek (uang dingin).
Wahyu juga menyarankan agar investor mengamati rilis data tenaga kerja AS (NFP), data inflasi (PCE), dan pernyataan pejabat bank sentral karena hal ini sering menjadi katalis perubahan arah tren secara mendadak.
Konflik Timur Tengah Memanas, Emas, Dolar dan Yen Jadi Safe Haven Investor