
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Pasar kripto sedang terpuruk. Koin-koin berkapitalisasi pasar jumbo dalam sepekan terakhir jeblok lebih dari 20%. Sosok Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed pilihan Presiden AS Donald Trump dinilai bakal menjadi game changer yang mengubah peta pasar.
Panji Yudha, Financial Expert Ajaib mengatakan pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menjadi angin segar dan katalis positif pasar. Menurutnya, Warsh dikenal memiliki pandangan yang lebih terbuka terhadap aset digital dan mendukung kebijakan suku bunga yang lebih rendah, yang secara historis menguntungkan aset kripto.
Selama kepemimpinan Jerome Powell di Bank Sentral AS, Panji melihat kecenderungan menahan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Meskipun ada harapan rate cut, realitanya The Fed diprediksi masih menahan suku bunga di kuarta I 2026. Potensi pemangkasan 25 basis poin (bps) baru terlihat di Juni 2026, yang berarti likuiditas pasar mungkin masih akan tertahan dalam jangka pendek. Adapun, periode Powell di The Fed akan berakhir Mei 2026 nanti.
“Dalam siklus kali ini menunjukkan bahwa kinerja Bitcoin sangat dipengaruhi oleh kebijakan pelonggaran moneter The Fed. Namun, ketidakhadiran pemangkasan suku bunga di awal 2026 menyebabkan tren arus keluar terus berlanjut pada ETF Bitcoin Spot,” ujar Panji kepada Bisnis, dikutip Jumat (6/2/2026).
: Biang Kerok Pasar Kripto Ambrol, Bitcoin Terjun ke US$70.000
Panji mencontohkan, data SoSoValue mencatat arus keluar mencapai US$19 juta pada Rabu (21/1/2026), setelah US$147 juta di hari sebelumnya. Tren defensif ini melanjutkan pelemahan sejak akhir tahun lalu, dengan total arus keluar besar-besaran sebesar US$1,09 miliar pada Desember dan US$3,4 miliar pada November 2025.
Berbicara ihwal permintaan pasar Indonesia, Panji melihat sebenarnya minat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda terhadap investasi kripto terus meningkat seiring penguatan edukasi dan literasi keuangan oleh regulator dan pelaku industri. Hingga November 2025, jumlah investor kripto tercatat mencapai 19,56 juta orang, naik dari 19,08 juta pada Oktober. Sementara itu, total nilai transaksi sepanjang 2025 menembus Rp482,23 triliun.
“Meski basis investornya besar, tingkat adopsi kripto Indonesia di Asia Tenggara masih berada di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia berdasarkan Henley Crypto Adoption Index 2025. Namun, Indonesia dinilai memiliki potensi adopsi yang sangat luas berkat besarnya jumlah populasi,” ujarnya.
Melansir Coinmarketcap pada pukul 17.05 WIB, harga Bitcoin (BTC) dalam 7 hari terakhir telah jatuh 19,99% ke US$65.775, Ethereum (ETH) bahkan ambles 29,40% ke US$1.918, kemudian BNB susut 24,40% ke US$629,99, sampai XRP yang terjun 24,16% ke US$1,32.
Panji bilang, pasar kripto dihantam oleh beragam sentimen negatif seperti risiko geopolitik yang dipicu konflik AS-Iran. Ancaman serangan terhadap Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent ke arah $70, sekaligus memperkuat narasi risk-off di aset berisiko. Dari situ, Bitcoin yang sering dianggap safe haven oleh sebagian orang, terbukti masih bergerak sebagai aset berisiko yang terkoreksi saat tensi perang meningkat.
Faktor kedua, adanya ketidakpastian regulasi akibat permintaan eksekutif Trump. Menurutnya, spekulasi mengenai Executive Order Presiden Trump menciptakan wait and see di pasar.
“Ketidakjelasan detail kebijakan memicu volatilitas tinggi karena investor mengantisipasi perubahan kepemimpinan di institusi keuangan dan regulasi ekonomi,” tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.