Dividen jumbo & sinyal positif ekonomi jadi pemantik reli saham BUMN

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham BUMN diproyeksikan terus mencatatkan apresiasi nilai seiring dengan fundamental perusahaan yang solid dan tingginya daya tarik imbal hasil dividen atau dividend yield

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Selasa (20/1/2026), indeks saham BUMN atau IDX BUMN 20 menguat 5,87% secara year to date (YtD) ke level 403,41. Laju tersebut lebih tinggi dibandingkan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang meningkat 5,64% menjadi 9.134,70.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menyampaikan bahwa sektor perbankan pelat merah kini mulai bangkit kembali dan menjadi incaran para pemburu dividen.

: BUMN Tekstil Rp100 Triliun di Bawah Danantara dan Kejelasan Penyelamatan Sritex (SRIL)

Selain sektor perbankan, emiten tambang PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menjadi sorotan utama karena menawarkan dividend yield di atas 10%. Angka ini dinilai sangat menarik bagi pelaku pasar di tengah volatilitas global.

“PTBA memberikan imbal hasil yang sangat kompetitif. Di sisi lain, saham seperti PGAS dan TLKM saat ini sudah berada dalam jalur uptrend yang diprediksi masih akan berlanjut,” ujar Nafan kepada Bisnis, Rabu (21/1/2026).

: : Danantara Batasi Porsi Injeksi BUMN pada 2026, Fokus Genjot Nilai Tambah

Nafan menilai performa impresif saham BUMN tidak lepas dari sinergi kebijakan pemerintah di sektor ekonomi riil, fiskal, serta stabilitas moneter yang terjaga.

Di samping itu, ekspektasi perbaikan kinerja emiten tahun ini didukung oleh fundamental makroekonomi domestik yang tetap kokoh meskipun ketidakpastian global masih membayangi pasar keuangan.

: : Presiden Prabowo Perintahkan Danantara Bersih-Bersih BUMN

Nafan menuturkan bahwa optimisme pasar kian diperkuat oleh langkah International Monetary Fund (IMF) yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,2 poin persentase menjadi 5,1% pada 2026. 

Walaupun proyeksi ini masih berada di bawah angka pertumbuhan China dan Amerika Serikat, revisi naik tersebut memberikan sinyal positif bagi kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.

“Ada kombinasi antara kebijakan ekonomi riil, fiskal, dan moneter yang menjadi katalis peningkatan likuiditas di IDX BUMN 20. Sentimen pasar juga didukung oleh fundamental domestik yang relatif solid,” pungkas Nafan.

Dari sisi sektoral, ketegangan geopolitik global turut mengerek harga komoditas yang memberikan keuntungan bagi emiten berbasis energi dan bahan baku.

Kondisi tersebut dinilai menguntungkan emiten seperti PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang bernaung di bawah Grup Pertamina, serta emiten lain yang tergabung dalam indeks IDX Energy dan IDX Basic Materials.

Kendati demikian, Nafan mengingatkan investor untuk mewaspadai risiko yang melekat pada karakter pasar saham BUMN. Investor juga diharapkan tetap cermat dalam melihat dinamika arus modal dan kebijakan pemerintah ke depan. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.