
Ussindonesia.co.id NEW YORK. Indeks saham utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1/2026), seiring investor bersiap menghadapi gelombang laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar serta rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang digelar pekan ini.
Melansir Reuters, indeks S&P 500 naik 34,52 poin atau 0,50% ke level 6.950,13. Nasdaq Composite menguat 102,54 poin atau 0,44% ke 23.603,78. Sementara Dow Jones Industrial Average melonjak 307,91 poin atau 0,63% ke 49.406,62.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan untuk hari keempat berturut-turut. Keduanya juga mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan, sekaligus membukukan reli terpanjang sejak Desember. Penguatan pasar terutama ditopang saham-saham raksasa teknologi.
Wall Street Menguat Didukung Meningkatnya Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Sejumlah emiten berkapitalisasi jumbo seperti Apple, Microsoft, Alphabet, Broadcom, dan Meta menjadi pendorong utama kinerja S&P 500.
Fokus investor kini tertuju pada laporan keuangan Apple, Meta, Microsoft, dan Tesla yang dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan. Laporan ini dinilai akan menjadi ujian penting bagi reli pasar yang selama ini ditopang optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Investor menanti bukti nyata bahwa belanja besar di sektor AI mulai menghasilkan keuntungan. Di tengah valuasi saham teknologi yang sudah tinggi, proyeksi kinerja ke depan menjadi krusial karena sedikit saja kekecewaan berpotensi memicu koreksi.
“Pasar teknologi dan komunikasi terlihat bergerak positif menjelang rilis kinerja perusahaan-perusahaan besar,” kata Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
Wall Street Menguat Tipis Jelang Laporan Keuangan Nvidia
Menurutnya, ekspansi laba korporasi yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi membuat investor tetap berhati-hati namun cenderung optimistis menyambut musim laporan keuangan.
Data LSEG mencatat, dari 64 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga Jumat lalu, sekitar 79,7% berhasil melampaui ekspektasi analis.
Dari sisi sektoral, jasa komunikasi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi di S&P 500. Sebaliknya, sektor konsumer non-primer tertahan, terutama akibat pelemahan saham Tesla.
Sektor material juga menguat seiring lonjakan harga emas yang menembus level USD 5.000 per ons untuk pertama kalinya, mendorong saham perusahaan tambang seperti Newmont.
Perhatian pasar juga tertuju pada rapat The Fed yang dimulai Selasa dan berakhir Rabu waktu setempat. Pelaku pasar memperkirakan lebih dari 97% peluang bank sentral akan menahan suku bunga. Meski begitu, investor akan mencermati sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan.
Wall Street Ditutup Naik Senin (24/11): Pasar Yakin The Fed Potong Bunga di Desember
Namun, keputusan The Fed berpotensi dibayangi isu politik setelah Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan terkait Ketua The Fed Jerome Powell.
Presiden Donald Trump juga menyatakan calon ketua The Fed berikutnya bisa segera diumumkan, sehingga memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral.
Di luar indeks utama, pergerakan saham individual cukup beragam. Saham Intel kembali tertekan setelah anjlok tajam pada akhir pekan lalu akibat proyeksi laba dan pendapatan yang di bawah perkiraan.
Saham maskapai JetBlue juga melemah di tengah gangguan besar jadwal penerbangan akibat badai musim dingin di wilayah timur AS.
Wall Street Menguat di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Sementara itu, saham perusahaan pengelola penjara seperti GEO Group dan CoreCivic turun setelah senator Partai Demokrat menyatakan penolakan terhadap rancangan anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Sebaliknya, saham USA Rare Earth melonjak setelah muncul kabar pemerintah AS akan mengambil 10 persen saham perusahaan tersebut melalui paket investasi utang dan ekuitas.
Saham CoreWeave juga menguat setelah Nvidia mengumumkan rencana investasi senilai USD 2 miliar di perusahaan infrastruktur cloud tersebut.