Motor pendorong saham bank mini: AMAR, BBKP cs ungguli big banks awal 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham-saham emiten bank mulai pulih di 2026. Pertumbuhan tersebut cenderung didominasi oleh emiten bank mini, atau dari Kelompok Bank Bermodal Inti (KBMI) I, dibanding emiten big banks seperti BBNI maupun BMRI.

Sebagai pembanding, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) per penutupan Rabu (7/1/2026) tergerus 5,69% year to date (YtD) ke Rp4.810, atau saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang turun 3,89% YtD ke Rp4.200. Sedangkan, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hanya naik 0,93% YtD ke Rp8.150, atau saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang menguat 1,09% YtD ke Rp3.700.

Sementara dari kelompok bank-bank mini, saham PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) naik 5,45% YtD ke Rp232, saham PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) melompat 10,39% YtD ke Rp85, saham PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC) melejit 37,39% YtD ke Rp158, atau saham PT Bank Sinarmas Tbk. (BSIM) yang menguat 63,95% YtD ke Rp1.410.

: Bank of Singapore Lepas Saham BACA Kurang dari Sebulan, BEI Minta Klarifikasi

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan penguatan saham small bank tersebut adalah bentuk respons pasar pada kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan mengubah peraturan perbankan KBMI I. Regulasi tersebut dibuat untuk memperkuat permodalan dan mendorong konsolidasi perbankan kecil atau membentuk Kelompok Usaha Bank (KUB) yang lebih besar.

“Hal ini direspons positif oleh pasar dengan spekulasi pada aksi merger hingga inject modal yang lebih besar sehingga membuka peluang kinerja yang lebih solid,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2025).

: : Banjir Sumatra Bayangi Pemulihan Saham Perbankan BMRI, BBRI Cs Awal 2026

Menurutnya, penggerak utama pertumbuhan saham emiten bank tersebut lebih disebabkan oleh investor domestik. Kiwoom Sekuritas mencatat saat ini inflow asing belum sepenuhnya struktural, seiring dengan persentase yang kecil atau sekitar 2% dari total transaksi selama enam bulan terakhir.

Sementara bagi saham-saham emiten big banks, Oktavianus melihat peluang penguatan masih ada, sejalan dengan perbaikan demand kredit, khususnya jika sudah tumbuh dua digit. Per November 2025, penyaluran kredit bank baru tumbuh sebesar 7,74% year on year (YoY).

: : Bank Bangkrut Bertambah, OJK Cabut Izin BPR Suliki Gunung Mas

“Di sisi lain, risiko yang akan menghambat big bank adalah pertumbuhan kredit yang melambat, pemangkasan suku bunga yang terbatas, dan penurunan kualitas aset,” ujarnya.

Untuk rekomendasi beli, Kiwoom Sekuritas memilih BMRI dengan target harga Rp5.500, BBCA di Rp9.000 dan BBRI dengan target harga Rp4.250.

Adapun, selain ketimpangan performa saham antar kelas modal, kinerja saham emiten big banks sendiri juga tak merata. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan kondisi tersebut murni disebabkan oleh rotasi dan valuasi harga saham yang telah terbentuk.

“BBCA naik karena safe haven, sedangkan BBRI naik karena technical rebound, saham ini sudah undervalued. Sementara itu, BMRI mengalami koreksi itu wajar karena profit taking,” kata Wafi.

Menurutnya, koreksi dan kenaikan antar harga saham emiten bank besar ini tak mencerminkan proyeksi tren dalam setahun ke depan. Wafi menilai saham-saham emiten big banks tetap relevan untuk dijadikan portofolio di perdagangan 2026.

“Saya yakin BMRI akan rebound, 2026 tetap overweight. BBRI jadi top pick buat turnaround, BBCA buat defensif, dan BMRI menarik saat koreksi begini karena paling solid,” tandasnya.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.