
Ussindonesia.co.id , PADANG — Bank Indonesia melihat pada kuartal II/2026 yang tengah berjalan ini terdapat sejumlah tantangan yang akan dihadapi dan perlu bagi pemerintah daerah di Provinsi Sumatra Barat melakukan sejumlah langkah yang strategis.
Kepala Perwakilan BI Sumbar M. Abdul Majid mengatakan tantangan yang dimaksud mulai dari menghadapi potensi musim kering El Nino yang berdampak pada penurunan produksi pangan. Hal ini perlu jadi perhatian pemerintah daerah, agar persoalan pangan bisa diatasi menghadapi potensi musim kering tersebut.
“Kami sudah mulai melakukan urban farming di Kota Padang. Saya berharap kabupaten dan kota lainnya bisa ikut membuat urban farming ini, sebagai upaya bisa memenuhi kebutuhan pangan,” katanya, Senin (4/5/2026).
: Pemprov Sumbar Minta Apindo Berperan dalam Pengembangan UMKM
Dia bilang perlu juga membuka kerja sama pangan antar daerah, dan meminta komitmen kelompok-kelompok tani hortikultura khususnya cabai dan bawang menjadi champion dengan menyediakan stok saat defisit.
Kemudian pada bulan Mei 2026 ini ada momen Hari Iduladha atau hari raya kurban, Majid menjelaskan ada potensi penurunan harga daging. Tapi, untuk komoditas cabai, bawang dan beberapa komoditas pangan berdasarkan tracking harga mulai merangkak naik.
: : Zero Pungli di Lokasi Wisata Padang, Ekonomi UMKM Tumbuh Positif Lebaran 2026
“Jadi ini yang kami pantau dan lakukan preemptive action, seperti berkoordinasi dengan Bulog untuk memastikan kecukupan stok beras dan Minyakita,” ujarnya.
Selain itu hal yang juga akan menjadi tantangan, yakni terkait kenaikan harga avtur akibat ketidakpastian konflik global akan menaikkan tarif tiket penumpang dan kargo pesawat.
Oleh karena itu, di sisi lain, TPID Sumbar juga harus tetap waspada dan berjaga-jaga dari potensi bencana alam yang tidak terduga kapan terjadinya, sehingga manajemen stok dan distribusi harus dijaga.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumbar sebesar 1,97% yoy atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,77 pada April 2025 menjadi 111,93 pada April 2026.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin mengatakan inflasi yang terjadi secara yoy hingga April 2026 itu, disumbangkan dari komoditas emas perhiasan, daging ayam ras, beras, hingga minyak goreng, yang tercatat terjadi kenaikan harga. Kondisi ini membuat IHK mengalami kenaikan dibandingkan bulan Maret 2026.
“Kalau secara mtm, Sumbar ini mengalami inflasi sebesar 0,39%. Hingga April 2026, deflasi ytd sebesar 0,43%,” katanya dikutip dari data resmi BPS, Senin (4/5/2026).
Dia menjelaskan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi mtm pada April 2026 angkutan udara, bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, nasi dengan lauk, hingga laptop/notebook.
Menurutnya adanya angkutan udara yang menjadi penyebab inflasi secara mtm pada April 2026, karena dampak dari adanya kebijakan dari pemerintah menaikkan harga avtur, di mana membuat harga tiket pesawat turut naik.
“Jadi selain adanya angkutan udara, komoditas lain yang andil memberikan inflasi juga pada angkutan umum lainnya , seperti tarif kendaraan travel, angkutan antar kota, kendaraan carter,” jelasnya.
Nurul menjelaskan di Sumbar ini terdapat empat wilayah cakupan IHK, semua wilayah mengalami inflasi yoy. Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44% dengan IHK sebesar 113,81 dan terendah terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,03%, dengan IHK sebesar 112,82.
Sementara itu, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 2,48% dengan IHK sebesar 111,80 dan Kota Padang mengalami inflasi sebesar 1,97% dengan IHK sebesar 111,41.