Saham chip angkat Wall Street Rabu (13/5), S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor baru

Ussindonesia.co.id  Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada perdagangan Rabu (13/5/2026), didorong penguatan saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang membuat investor mengabaikan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih panas dari perkiraan.

Penguatan dipimpin oleh saham-saham chip dan kelompok megacap teknologi berbasis AI yang bangkit setelah sempat terkoreksi sehari sebelumnya.

Mengutip Reuters, enam dari kelompok “Magnificent Seven” menguat antara 1,4% hingga 3,9%.

S&P 500 Merosot Tertekan Data Inflasi Tinggi, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Sirna

“Di tengah data inflasi yang tetap panas, sektor teknologi masih menunjukkan ketahanan,” ujar Chief Market Strategist Carson Group, Ryan Detrick.

Ia menambahkan, saham-saham chip bangkit tajam setelah mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 67,36 poin atau 0,14% ke level 49.693,20.

Sebaliknya, indeks S&P 500 naik 43,29 poin atau 0,58% ke level 7.444,25 dan Nasdaq Composite melonjak 314,14 poin atau 1,20% ke posisi 26.402,34.

Sektor komunikasi dan teknologi menjadi penopang utama penguatan indeks S&P 500, sementara sektor utilitas menjadi yang paling tertekan.

Bursa Saham Indonesia Diproyeksi Fluktuatif, Cermati Saham Pilihan Analis

Dari sisi makroekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (PPI) melonjak 1,4% pada April 2026, kenaikan bulanan terbesar dalam empat tahun terakhir.

Lonjakan tersebut dipicu gangguan pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz yang membuat harga energi meningkat tajam dan mulai merembet ke sektor ekonomi lain.

Data tersebut memperkuat pandangan pasar bahwa tekanan inflasi di AS masih tinggi dan berpotensi bertahan lebih lama.

Presiden The Fed Boston Susan Collins bahkan mengatakan kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan jika tekanan inflasi tidak mereda.

Tanpa Saham Baru di MSCI, Rupiah Hadapi Tekanan Baru

Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors Jim Baird mengingatkan, investor agar tidak mengabaikan risiko periode inflasi tinggi dan suku bunga elevated yang lebih panjang.

“Laporan PPI memperkuat narasi risiko inflasi dan mendukung kemungkinan jeda suku bunga The Fed berlangsung lebih lama,” ujarnya.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping selama dua hari.

Trump datang bersama delegasi besar yang turut dihadiri CEO Nvidia Jensen Huang dan Elon Musk.

Pertemuan tersebut membahas perdagangan, teknologi, hingga hubungan bisnis AS-China di tengah ketegangan geopolitik dan perang Iran.

Rupiah Berpotensi Kian Tertekan Usai 18 Saham Dicoret dari MSCI

Saham Nvidia naik 2,3% sementara Tesla menguat 2,7%.

Morgan Stanley juga menaikkan target tahunan indeks S&P 500 menjadi 8.000 dari sebelumnya 7.800 karena optimistis laba perusahaan AS masih kuat.

Di pasar saham individual, Ford melonjak 13,2%, kenaikan harian terbesar dalam enam tahun setelah Morgan Stanley menilai bisnis energi Ford dan kerja samanya dengan produsen baterai China CATL sebagai keunggulan kompetitif yang belum sepenuhnya dihargai pasar.

Sementara itu, saham perusahaan cloud AI Nebius Group melesat 15,7% setelah melaporkan pendapatan kuartalan yang melonjak hampir delapan kali lipat.

Di sisi lain, saham perusahaan kripto Coinbase dan Strategy masing-masing turun 2,8% dan 3,5% seiring melemahnya harga bitcoin dan ethereum.