IHSG berpotensi rebound terbatas, cermati sentimen royalti dan arus asing

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak fluktuatif pada pekan ini setelah sempat melemah cukup dalam pada akhir pekan lalu.

Sebagaimana diketahui, IHSG ditutup turun 2,86% ke level 6.969, tertekan sentimen rencana kenaikan tarif royalti mineral yang dikhawatirkan menekan margin emiten tambang.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengatakan pelemahan IHSG dipicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tersebut. Namun, tekanan dinilai mulai mereda setelah muncul kabar penundaan implementasi.

“Untuk pekan ini, IHSG masih akan volatile, tetapi ada peluang technical rebound selama foreign flow membaik dan sentimen global kondusif,” katanya kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan risiko pelemahan lanjutan masih tetap ada, meskipun potensi penurunannya dinilai lebih terbatas dibandingkan pekan lalu.

Secara teknikal, Wafi memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas pada pekan ini.

“IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.850-7.100. Level 6.900 menjadi support psikologis penting,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika sentimen royalti mereda dan nilai tukar rupiah stabil, IHSG berpeluang menguat ke area 7.050-7.100. Namun, pasar masih sensitif terhadap isu global serta arah suku bunga.

Dari sisi sektoral, saham komoditas khususnya tambang dinilai masih memiliki prospek yang beragam.

“Penundaan kenaikan royalti memberi ruang nafas sementara. Namun ke depan, pergerakan saham tambang akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah selain harga komoditas global,” katanya.

Untuk strategi investasi, Wafi menyarankan investor tetap selektif dalam mencermati saham sektor komoditas.

“Belum perlu dihindari, tetapi harus lebih selektif. Emiten low-cost producer dan yang memiliki diversifikasi hilirisasi masih menarik,” ujarnya.

Ia mencontohkan saham batubara seperti ADRO serta saham nikel seperti ANTM dan INCO yang masih menarik untuk trading maupun jangka menengah.

Selain sektor komoditas, investor juga dapat mencermati sektor lain yang cenderung defensif.

“Perbankan besar dan sektor telekomunikasi masih layak dicermati karena relatif defensif dan mulai diakumulasi investor asing,” tutupnya.