Ratusan emiten belum free float 15%, siap-siap banjir suplai saham!

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan laporan terbaru mengenai laporan pemantauan aturan free float minimal 15%. MNC Sekuritas memperkirakan jumlah suplai saham akan naik seiring dengan aturan batas pemenuhan free float ini.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan terdapat ratusan emiten tercatat yang belum memenuhi ambang batas free float tersebut dan memberikan masa transisi bertahap ke depannya. 

“Penutupan gap free float pada saham-saham large cap berpotensi meningkatkan suplai saham secara signifikan pada 2027-2029,” ucap Herditya, Jumat (8/5/2026). 

: BEI Umumkan Status Pemenuhan Free Float, Cek Nasib Emiten-Emiten Prajogo Pangestu

Dia melanjutkan rights issue dan secondary placement menjadi beberapa opsi aksi korporasi yang struktural. 

“Sementara itu, opsi go private kemungkinan hanya menjadi pilihan terakhir bagi emiten yang tidak ingin terdilusi,” ujar Herditya.

: : SUPA Tak Buru-buru Kejar Free Float 15%, Bos Superbank Buka Suara

Adapun Herditya menjelaskan tenggat waktu pemenuhan free float bagi emiten dengan Market Cap atau kapitalisasi pasar lebih dari Rp5 triliun wajib mencapai 12,5% adalah pada 31 Maret 2027, dan wajib mencapai 15% pada 31 Maret 2028. 

Lalu emiten dengan Market Cap kurang dari Rp5 triliun wajib mencapai 15% pada 31 Maret 2029.

: : Pasar Sudah Antisipasi Nasib BREN dan DSSA, Fokus Berikutnya ke Pemenuhan Free Float

Kondisi khusus juga berlaku bagi emiten yang posisi free float saat ini di antara 12,5–15%, wajib langsung memenuhi free float pada 2027.

MNC Sekuritas juga memberikan sejumlah saham big caps yang perlu dipantau, yaitu BREN dengan free float 12,3%, TPIA dengan free float 10,6%, dan PANI dengan free float sebesar 11%. 

Lalu saham DNET yang memiliki free float 6,2%, BNLI sebesar 10%, BRIS dengan free float 9,3%, dan HMSP sebesar 7,5%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.