
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Kondisi pasar saham Tanah Air tertekan berbagai sentimen sepanjang tahun berjalan 2026. Tekanan MSCI, penurunan outlook kredit Indonesia, hingga ketegangan geopolitik yang memuncak di Iran telah mendorong IHSG ambles 15,14% YtD.
Meskipun begitu, analis memprediksi bahwa peluang rebound pasar saham terbuka, tetapi cenderung terbatas. Hal itu mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia.
Pasalnya, berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI berjangka telah naik 11,36% ke US$101,23 per barel. Sementara itu, minyak brent telah menguat 11,30% ke level US$103,16 per barel. Posisi Indonesia sebagai importir dinilai dapat memicu risiko pembengkakan defisit APBN, inflasi, pelemahan rupiah, hingga capital outflow asing.
: IHSG Tertatih, LQ45 Jadi ‘Benteng’ Investor Tunggu Pasar Pulih
”Rebound lebih jangka pendek. Tren pergerakan IHSG secara struktural masih bergantung pada de-eskalasi geopolitik dan stabilisasi harga minyak global,” kata Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, Senin (9/3/2026).
Wafi menilai, peluang rebound IHSG secara jangka pendek datang dari rilis laporan keuangan kuartal I/2026, musim pembagian dividen, hingga potensi masuknya dana asing selepas rebalancing indeks global seperti MSCI hingga FTSE.
: : Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Selasa 10 Maret 2026
Namun, KISI memprediksi pergerakkan harga minyak akan tetap tinggi dan volatil selama konflik AS—Israel dan Iran berlanjut, sehingga dapat mengancam rantai pasok energi global. Dengan begitu, dia memberikan saran bagi investor untuk menerapkan strategi yang defensif.
”Fokus akumulasi pada saham hulu migas seperti MEDC yang langsung diuntungkan, serta aset safe haven seperti ANTM. Hindari sektor dengan ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan bahan bakar,” sarannya.
: : IHSG Merosot, Saham Bank Kompak Merah di Sesi I
Menurutnya, emiten energi seperti migas dan batu bara dapat mengalami kenaikan margin laba di tengah kondisi ini. Sebaliknya, sektor logistik, manufaktur, hingga consumer goods justru bakal mengalami tekanan margin akibat kenaikan biaya operasional dan distribusi.
Senada, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, menilai bahwa pasar sebaiknya tidak terlalu optimistis pada saat ini. Pasalnya, sentimen global tidak dapat diprediksi. Secara teknikal, target dekat level IHSG pada level 7.486, dengan target lanjutan pada level 7.640 atau 7.777.
”Masih cenderung spekulatif, sebaiknya wait and see dulu untuk sementara, sambil berharap yang terbaik,” kata Liza dalam riset hariannya, Senin (9/3/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.