
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat (AS) dihantam gelombang aksi jual pada perdagangan Jumat waktu setempat, yang dipicu meningkatnya eskalasi konflik Iran dan risiko lumpuhnya ekonomi global.
Dilansir dari Bloomberg, Sabtu (28/3/2026), para pelaku pasar terpantau menjauhi aset ekuitas di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak global.
Indeks S&P 500 mengalami koreksi beruntun dalam lima pekan usai ditutup melemah 1,7%. Catatan tersebut merupakan rentetan koreksi terpanjang sejak 2022. Pelemahan ini menyeret indeks acuan AS tersebut ke level terendahnya dalam lebih dari tujuh bulan terakhir.
: Trump Serang Pusat Ekspor Iran: Saham AS Rontok, Harga Minyak Melejit
Sementara itu, indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi turun 1,9%. Nasdaq tercatat anjlok lebih dari 10% dari level puncaknya pada Oktober lalu, sehingga secara teknis memasuki zona koreksi.
Hal serupa juga dialami Indeks Dow Jones Industrial Average yang melemah 1,7% dan masuk ke teritori koreksi.
: : Bursa Saham AS Wall Street Lesu di Tengah Kecemasan soal Investasi AI
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent menembus level US$114 per barel menyusul laporan serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir serta pabrik baja Iran pada Jumat. Iran membalas dengan melancarkan serangan di sepanjang Teluk Persia.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memajukan tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur listriknya.
: : Gejolak Politik Indonesia-Thailand Guncang Pasar Saham Asean
Harapan Pasar Pupus
Chief Market Strategist di HB Wealth Management, Gina Martin Adams menilai pasar saham AS mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena pupusnya harapan akan resolusi konflik dalam waktu dekat.
“Konsensus pasar sebelumnya meyakini perang akan selesai dengan cepat, namun pandangan itu mulai runtuh seiring berjalannya waktu,” katanya.
Di sektor S&P 500, saham sektor consumer discretionary mengalami kontraksi sekitar 3%. Sektor komunikasi, teknologi, dan keuangan juga merosot lebih dari 2%. Secara keseluruhan, indeks S&P 500 telah terkoreksi hampir 9% dari rekor tertingginya pada akhir Januari, kian mendekati zona koreksi.
Langkah Trump yang menunda serangan militer selama lima hari dan potensi resolusi total sempat membawa optimisme saat harga minyak mendingin dan bursa saham menguat. Namun, sentimen positif tersebut tidak berlangsung lama seiring dengan buntunya upaya diplomasi di tengah konflik.