Mulai kehilangan kepercayaan, investor global serukan “Sell Indonesia”

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Seruan untuk menjual saham Indonesia diantara investor global meningkat. Investor global semakin kehilangan kepercayaan pada Indonesia. 

Hal ini tercermin dari indeks saham utama negara ini mencatat penurunan tercepat di dunia, sementara rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Hanya lima bulan setelah mencapai rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia anjlok 37%, menjadikannya kinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg. Rupiah melemah lebih dari 7%, sementara investor asing menarik miliaran dolar dari obligasi pemerintah Indonesia.

Telkom (TLKM) Siapkan Rp 4 Triliun untuk Buyback Saham, Demi Jaga Keyakinan Investor

Perubahan ini terasa dramatis bagi negara kaya komoditas yang sebelumnya menjadi alokasi utama dalam portofolio pasar berkembang. Kekhawatiran investor dipicu oleh agenda populis dan intervensi pemerintah yang terus meningkat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang selama ini dipandang lebih ramah terhadap investor asing. Konflik di Timur Tengah semakin mempercepat aliran modal keluar dan meningkatkan kehati-hatian global terhadap risiko.

“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘jual Indonesia’,” ujar George Boubouras, kepala riset di hedge fund K2 Asset Management, yang mengelola sekitar US$ 4,3 miliar. Setelah puluhan tahun berinvestasi di Indonesia, ia keluar sepenuhnya dari pasar pada 2024.

Sejak menjabat pada Oktober 2024, Prabowo menargetkan pertumbuhan tahunan 8%, memperluas program makanan gratis di sekolah, meningkatkan peran negara dalam ekonomi, dan menyalurkan dana ke Danantara, sovereign wealth fund Indonesia. Langkah terbarunya mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas utama untuk menekan penghindaran pajak, yang memicu penjualan saham perusahaan eksportir.

Bagi banyak investor, pengunduran diri mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tahun lalu menjadi titik balik. Ia dikenal sebagai penjamin disiplin fiskal yang meyakinkan pasar bahwa Indonesia akan mempertahankan pengelolaan anggaran konservatif, yang sebelumnya membantu mendapatkan peringkat kredit investasi dan menarik modal asing jangka panjang. Kini, investor mulai meragukan komitmen tersebut.

“Ketidakpastian politik domestik adalah risiko tipikal di pasar berkembang, dan investor global cenderung menunggu sampai ada prediktabilitas kembali,” kata Yuxuan Tang, kepala strategi suku bunga dan valuta asing Asia di JPMorgan Private Bank, Hong Kong.

Rupiah menjadi ekspresi paling jelas dari kekhawatiran pasar, jatuh sekitar 14% sejak Prabowo menjabat dan menjadi mata uang terlemah di Asia tahun ini. Konflik Timur Tengah dan harga energi yang tinggi memperburuk posisi eksternal Indonesia, mengingat negara ini masih menjadi pengimpor minyak bersih.

Market Fokus ke Fundamental Emiten di Tengah Arus Sentimen Negatif Jangka Pendek

Mata uang nasional menembus level 18.000 per dolar minggu ini, dengan pasar opsi memperkirakan kemungkinan penurunan lebih lanjut: 45% menuju 19.000 per Desember dan 28% hingga 20.000 dalam setahun.

Tekanan juga meluas ke pasar obligasi. Investor asing telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp86 triliun (US$ 4,8 miliar), sekitar 9%, sejak Agustus lalu. Obligasi tersebut telah merugi lebih dari 8% bagi investor berbasis dolar tahun ini, dibandingkan dengan kenaikan 1,6% untuk obligasi pasar berkembang secara keseluruhan, meski Bank Indonesia beberapa kali melakukan intervensi.

Kekhawatiran lain muncul dari kepemilikan Bank Indonesia yang terus meningkat terhadap obligasi pemerintah, kini sekitar 27%, angka yang tinggi untuk ekonomi berkembang. Banyak investor mempertanyakan apakah langkah ini lebih menyerupai pelonggaran kuantitatif.

“Yang menjadi fokus adalah prospek rupiah yang melemah, serta kekhawatiran tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan fiskal,” ujar Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments.

Penurunan juga menghantam pasar saham. Indeks Jakarta Composite anjlok lebih dari 30% tahun ini, dengan kekhawatiran akan penurunan peringkat kredit negara. MSCI bahkan sempat memperingatkan kemungkinan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang ke frontier market, memicu salah satu penurunan saham terburuk dalam beberapa dekade.

Investor mempertanyakan implementasi kebijakan pemerintah, mulai dari kontrol ekspor komoditas, program belanja negara, hingga upaya pemberantasan korupsi. Kekhawatiran bukan hanya pada konsep kebijakan, tetapi pada ketidakjelasan pelaksanaannya.

“Jika saya tidak bisa mempercayai ‘plumbing’-nya, saya tidak ingin menjadi yang terakhir keluar,” ujar Ana Isabel Gonzalez Encinas, Chief Investment Officer di Farringdon Asset Management, Singapura.

IHSG Balik Melemah 1,62% di Pagi Ini (5/6), Sektor Keuangan Terjun Bebas!

Meski begitu, sebagian investor tetap percaya pada prospek jangka panjang Indonesia. Ekonomi masih tumbuh lebih dari 5%, utang pemerintah relatif rendah, dan Indonesia tetap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global, khususnya sebagai produsen nikel terbesar dunia. Populasi yang besar dan muda juga menambah potensi pertumbuhan konsumsi domestik.

Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah kepastian fiskal, independensi bank sentral, transparansi peran Danantara, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi. Kemampuan Indonesia mengembalikan prediktabilitas akan menentukan seberapa cepat modal asing kembali masuk.

“Pemerintah butuh mitra  para pemegang obligasi. Sampai itu tercapai, strategi ‘jual Indonesia’ tetap berlaku,” tutup Boubouras.