Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 yang akan digelar siang ini. Sikap ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang masih mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, selama tekanan eksternal belum mereda, ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga tetap terbatas.
“Meski pasar global pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama masih bertahan, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,” katanya, Rabu (22/4/2026).
1. Alasan BI harus tahan suku bunga acuan berkaitan stabilitas rupiah
Ia menjelaskan, ada beberapa alasan yang mendorong BI harus menahan suku bunga acuan. Pertama berasal dari faktor eksternal. Pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait prospek perdamaian global, dengan risiko dua arah yang tetap besar.
Dalam situasi ini, BI perlu memprioritaskan stabilitas rupiah. Memang, sempat muncul sentimen positif dari perkembangan perundingan dan perpanjangan gencatan senjata yang menekan dolar AS dan harga minyak.
“Namun, pergerakan tersebut masih rapuh dan sangat bergantung pada perkembangan harian. Pada 16 April 2026, USD/IDR berada di kisaran Rp17.127 per dolar AS. Ini mencerminkan bahwa tekanan terhadap dolar AS belum cukup stabil. Dari sudut pandang BI, memangkas suku bunga di tengah ketidakpastian seperti ini berisiko memperlemah daya tahan rupiah ketika pasar belum sepenuhnya stabil,” tuturnya.
2. Faktor inflasi harga energi
Alasan kedua adalah faktor inflasi energi. Menurut saya, kenaikan harga energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, memang mendukung keputusan BI untuk menahan suku bunga, tetapi bukan satu-satunya alasan.
Dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi April memang cenderung terbatas karena yang naik hanya segmen tertentu dan pangsa volumenya kecil. Namun, BI juga mempertimbangkan dampak tidak langsung, seperti ekspektasi inflasi, biaya logistik, biaya produksi, dan inflasi impor apabila rupiah tetap tertekan.
3. Ruang penurunan suku bunga acuan makin sempit
Dengan berbagai perkembangan terkini, ruang penurunan BI Rate pada 2026 semakin sempit jika harga minyak bertahan di sekitar 80 dolar AS per barel dan nilai tukar mendekati Rp17 ribu dolar AS per barel. Dengan demikian, kenaikan BBM nonsubsidi tidak serta-merta mendorong kenaikan suku bunga, tetapi jelas mempersempit peluang penurunan dalam waktu dekat.
Alasan ketiga adalah kondisi domestik belum cukup lemah untuk menuntut pelonggaran segera. Ini menjadi poin penting.
“Inflasi inti pada Maret 2026 justru disebut menurun, keyakinan konsumen masih kuat dengan IKK 122,9, penjualan ritel masih tumbuh, dan PMI manufaktur masih berada di zona ekspansi meskipun melambat ke 50,1,” ucapnya.
Ruang Penurunan BI Rate Semakin Sempit, Terhambat Gejolak Geopolitik Rupiah Loyo Pagi Ini, Investor Menanti Hasil Rapat Bank Indonesia Daftar Lowongan Kerja Special Hire Bank Indonesia 2026, Cek di Sini!