
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Saham emiten berbasis emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut bergeliat seiring dengan lonjakan harga logam mulia awal pekan ini, seperti EMAS, ANTM, dan HRTA.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot menguat 1,25% ke US$5.049,9 per troy ounce, Senin (26/1/2026) pagi. Adapun, harga emas berjangka Comex AS kontrak April 2026 menguat 1,24% ke US$5.079,20 per troy ounce.
Seiring dengan kenaikan harga emas dunia, data perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), memperlihatkan bahwa sejumlah saham di sektor komoditas emas membukukan penguatan secara signifikan.
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) memimpin dengan kenaikan harga sebesar 17,41% menuju Rp7.250 per saham. Posisi ini disusul saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang meningkat 12,82% ke Rp4.840.
: Potensi Reli Lanjutan Harga Emas Menuju US$6.000 per Ons
Selanjutnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) menguat 6,44% menjadi Rp2.480 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 5,20% ke Rp1.315.
Sementara itu, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) turut mencetak kenaikan sebesar 4,91% menjadi Rp2.030 per saham, dan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) mengikuti dengan pertumbuhan 4,03% ke level Rp645.
Investment Analyst Stockbit Sekuritas Theodorus Melvin menyatakan sentimen utama penguatan emas bersumber dari kekhawatiran investor terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, termasuk ancaman tarif 100% terhadap Kanada jika melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
“Saat ini, investor menanti keputusan Trump terkait pemilihan calon ketua The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026,” ujarnya dalam riset, Senin (26/1/2026).
Pada pekan lalu, Trump mengeklaim telah mewawancarai sejumlah kandidat potensial. Jika terpilih figur yang cenderung dovish, ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini diprediksi akan meningkat.
Seiring hal tersebut, Melvin menuturkan bahwa reli harga komoditas safe-haven ini berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sejumlah emiten tambang emas dalam jangka pendek.
Sebelumnya, Analis Riset MNC Sekuritas, Raka Junico, mengatakan harga emas global diproyeksikan memiliki ruang kenaikan signifikan hingga tahun fiskal 2026. Hal ini didorong oleh langkah akumulasi bank sentral dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve atau The Fed.
“Emas berhasil mempertahankan momentum penguatannya yang didorong oleh permintaan struktural jangka panjang, ketidakpastian global, serta bias pelemahan dolar AS,” ujar Raka dalam riset terbarunya.
Menurut Raka, katalis utama yang akan menjaga tren bullish ini adalah ketidakpastian makroekonomi yang masih berlangsung. Pasalnya, pasar berekspektasi The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish di masa depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.