
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sektor konstruksi dan properti menjadi sasaran aksi jual pada perdagangan hari ini menyusul keputusan Moody’s, yang memangkas prospek ekonomi Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham BUMN Karya dan properti mencatatkan pelemahan cukup dalam pada perdagangan akhir pekan, Jumat (6/2/2026) hingga pukul 10.30 WIB.
PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) tercatat merosot hingga 9,09% ke level Rp20, sementara PT PP Presisi Tbk. (PPRE) turun 4,59% ke harga Rp208.
: OJK: Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid Meski Outlook Moody’s Turun
Pelemahan serupa dialami PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) yang terkoreksi 3,89% ke Rp346, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) melemah 3,39% ke Rp228, serta PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) turun 3,09% ke posisi Rp94.
Tekanan juga menjalar ke sektor properti. PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) mencatatkan penurunan tajam sebesar 5,71% ke level Rp132. Adapun saham PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) turun 3,26% ke Rp89.
Sementara itu, saham PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) melemah 2,87% ke Rp845, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) terkontraksi 2,17% ke Rp900, dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) memerah 2,01% di posisi Rp390.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan sebesar 2,37% ke 7.912,20 saat pembukaan pasar pukul 09.02 WIB. Hari ini, indeks komposit dibuka pada level 7.945,04 dan sempat ke posisi 7.945,43.
Dalam pengumuman resminya, Moody’s menilai ada penurunan koherensi dalam perumusan kebijakan di Indonesia selama setahun. Hal ini berisiko menggerus kredibilitas kebijakan yang menopang stabilitas makroekonomi dan fiskal.
: : Sinyal Positif Fitch Ratings, Peringkat Investasi INA Tetap Stabil di BBB
“Komunikasi kebijakan yang kurang efektif telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas Indonesia di mata investor. Perkembangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi,” tulis Moody’s.
Meski demikian, Moody’s menegaskan peringkat Baa2 masih layak dipertahankan berkat kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam, demografi yang menguntungkan, serta kebijakan moneter yang tetap pruden.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penurunan ini merupakan sinyal peringatan bagi pelaku pasar. Meskipun status layak investasi terjaga, ketidakpastian kebijakan dapat menekan persepsi global secara struktural.
“Peringatan dari Moody’s tidak bisa dianggap enteng. Jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang nyata disertai memburuknya kualitas regulasi, persepsi global terhadap pasar Indonesia bisa tertekan,” ujar Hendra.
Secara teknikal, Hendra memperkirakan IHSG saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi dan rentan menguji area psikologis di level 8.000.
“Apabila level 8.000 ditembus, ruang penurunan terbuka menuju area support berikutnya di kisaran 7.888. Sementara resistansi kuat berada di level 8.200 selama sentimen domestik belum sepenuhnya pulih,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.