
Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/1), dipicu oleh tekanan pada saham-saham sektor keuangan menyusul kekhawatiran terhadap rencana Presiden Donald Trump yang mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen.
Mengutip Reuters pada Rabu (14/1), indeks S&P 500 (.SPX) turun 13,97 poin atau 0,20 persen ke level 6.963,30, Nasdaq Composite (.IXIC) turun 22,70 poin atau 0,10 persen ke 23.711,20, sementara Dow Jones Industrial Average (.DJI) merosot 394,97 poin atau 0,81 persen ke 49.195,23.
Pelemahan terjadi meskipun data inflasi AS untuk bulan Desember dirilis sesuai ekspektasi pasar, yang sejatinya mempertahankan peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang tahun ini.
Namun, sentimen positif tersebut kalah oleh kekhawatiran terhadap dampak kebijakan pembatasan bunga kartu kredit terhadap industri keuangan.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah jajaran eksekutif JPMorgan, termasuk CEO Jamie Dimon, memperingatkan kebijakan tersebut justru berpotensi merugikan konsumen.
Pernyataan ini memicu kembali aksi jual di saham-saham keuangan, yang sebelumnya sudah tertekan sejak Trump mengumumkan rencana pembatasan bunga tersebut untuk jangka waktu satu tahun mulai 20 Januari.
Saham perusahaan pembayaran Visa dan Mastercard ikut melemah, sementara sektor keuangan menjadi salah satu kontributor utama penurunan indeks S&P 500.
Saham JPMorgan sendiri turut turun. Meski bank tersebut membukukan laba kuartalan di atas perkiraan, namun mencatatkan penurunan pada pendapatan perbankan investasi.
“Sektor keuangan terpukul oleh proposal kartu kredit Trump,” kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, New York, Tim Ghriskey.
Tekanan juga dialami bank-bank besar lainnya yang dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam waktu dekat, meski analis masih memperkirakan kinerja yang relatif solid pada kuartal terakhir tahun lalu.
Di luar sektor keuangan, saham Delta Air Lines turut melemah setelah proyeksi laba tahun 2026 yang disampaikan perusahaan berada di bawah ekspektasi analis.
Menurut Wakil presiden senior dan penasihat di Wealthspire Advisors, Oliver Pursche, koreksi pasar kali ini lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah reli panjang yang membawa indeks ke rekor tertinggi. Ia menilai musim laporan keuangan kuartal keempat berpotensi memberikan kejutan positif ke depan. “Saya menduga akan ada beberapa revisi ke atas,” ujarnya.