Gen Z ramai-ramai main saham, akademisi UPR: Jangan cuma ikut tren!

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Tren Generasi Z (Gen Z) terjun ke pasar saham makin terlihat, termasuk di Kalteng. Fenomena anak muda berinvestasi saham ini dinilai sebagai sinyal positif meningkatnya literasi keuangan generasi muda.

Pengamat Ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR), Suherman Juhari, menyebut maraknya Gen Z masuk ke dunia investasi saham menunjukkan mereka sudah lebih melek finansial dibanding generasi sebelumnya. Akses aplikasi investasi digital dan derasnya informasi di media sosial jadi pendorong utama.

“Banyaknya Gen Z masuk pasar saham menandakan mereka sudah well literate terhadap produk investasi. Ini fenomena yang positif,” ujar Suherman, Jumat (13/2/26).

Meski begitu, dia mengingatkan agar semangat investasi tidak berubah menjadi sekadar ikut-ikutan tren. Menurutnya, investor muda harus paham betul perbedaan antara investasi dan spekulasi.

“Jangan sampai hanya karena Fear of Missing Out. Harus paham dasar-dasarnya, seperti analisis teknikal dan fundamental. Gen Z wajib bisa bedakan mana investasi, mana spekulasi,” tegasnya.

Terkait dampaknya bagi ekonomi Kalteng, Suherman mengakui kontribusi langsung terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memang tak bisa dilihat dalam waktu singkat. Namun, efek tidak langsungnya dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Selama ini, kata dia, mayoritas pendapatan masyarakat Kalteng masih bertumpu pada sektor ekstraktif sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan, serta sektor tradisional pertanian dan perdagangan.

“Kalau Gen Z punya alternatif pendapatan dari investasi saham, ini bagus untuk ketahanan ekonomi keluarga. Tidak terus-menerus bergantung pada sektor ekstraktif,” jelasnya.

Ia berharap tren positif ini tak berhenti di Gen Z, tetapi bisa menular ke generasi lain agar budaya investasi semakin kuat.

Bagi pemula yang baru ingin masuk pasar saham, Suherman mengingatkan pentingnya membangun mindset yang benar. Pasar saham adalah instrumen investasi jangka menengah hingga panjang, bukan cara cepat kaya.

“Mulai dari belajar dulu. Tentukan tujuan investasinya,” sarannya.

Ia juga menekankan penggunaan dana dingin, bukan uang kebutuhan harian. Diversifikasi investasi pun wajib agar risiko bisa ditekan.

“Jangan pakai uang kebutuhan. Jangan taruh di satu instrumen saja. Dan jangan mudah percaya rekomendasi tanpa analisis. Perlu pengalaman dan pengamatan yang matang,” pungkasnya. (her)