Bahana TCW bidik pertumbuhan AUM reksadana di atas 5% pada 2026

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) membidik pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana yang tetap positif sepanjang 2026. Di tengah berbagai tantangan pasar, perseroan optimistis mampu menjaga stabilitas kinerja dan mencatatkan kenaikan AUM.

Plt. Presiden Direktur merangkap Direktur Pemasaran Bahana TCW Danica Adhitama mengungkapkan, pada 2026 pihaknya memproyeksikan dana kelolaan tetap terjaga stabil meski pasar dibayangi sejumlah guncangan.

“Kami membidik pertumbuhan yang positif dan optimis dapat mencatatkan peningkatan dana kelolaan di atas 5% hingga akhir tahun mendatang,” ujar Danica kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Porsi Free Float Unilever (UNVR) Belum Capai 15%, Ini Penjelasan Manajemen

Ada pun Danica juga menilai prospek industri reksa dana pada 2026 masih memiliki daya tarik yang kuat. Meskipun pasar dihadapkan pada tantangan seperti isu MSCI dan perubahan outlook Moody’s, Bahana TCW tetap optimistis AUM industri reksa dana berpotensi terus meningkat.

Menurutnya, katalis utama pertumbuhan industri berasal dari kondisi ekonomi nasional yang tetap terjaga. Target pertumbuhan ekonomi pemerintah dinilai masih berada dalam jalur yang baik, ditopang oleh tingkat konsumsi masyarakat yang kuat. Kondisi ini sekaligus menjadi stimulus nyata dari kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per 29 Januari 2026, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 714,04 triliun, tumbuh 5,73% mtm. Nilai ini meningkat dibandingkan NAB per akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 675,32 triliun atau tumbuh 4,80% mtm.

Tren kinerja NAB yang solid di awal Januari tersebut didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, yaitu mencapai Rp 41,18 triliun mtm. Adapun di akhir Desember, net subscription sebesar Rp 23,91 triliun mtm.

Langkah ini dinilai sebagai respons strategis investor dalam menghadapi dinamika ketidakpastian global yang terjadi sepanjang 2025. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan AUM yang didominasi oleh Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dan Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), yang menjadi pilihan utama untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

“Kenaikan total dana kelolaan industri reksa dana pada awal tahun ini dipicu oleh preferensi investor yang cenderung memilih aset investasi bersifat konservatif,” jelasnya.

Laporan Data Ketenagakerjaan AS Lebih Baik, Rupiah Melemah ke Rp 16.828 per Dolar AS

Secara khusus, Danica berpandangan reksa dana pendapatan tetap menjadi instrumen yang paling populer dan mencatatkan tren pertumbuhan dana kelolaan signifikan sepanjang periode terakhir. Tingginya minat investor terhadap produk ini didorong oleh performa obligasi yang relatif menarik serta profil risiko yang lebih rendah.

Karakteristik tersebut menjadikan reksa dana pendapatan tetap sebagai solusi investasi yang relevan bagi berbagai kalangan investor, terutama untuk memitigasi risiko di tengah ketidakpastian pasar.