Rupiah melemah dan suku bunga BI naik ke 5,25 persen, ini tips strategi amankan keuangan keluarga dari defisit

Ussindonesia.co.id – Tekanan ekonomi global kian nyata berdampak ke dompet masyarakat. Bank Indonesia (BI) baru saja mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Langkah ini diambil demi memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan meredam ketidakpastian global. Hari ini (21/5), di pasar spot, mata uang garuda ditutup melemah cukup dalam di posisi Rp 17.667 per dolar AS.

Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga ini jelas memicu efek domino. Harga barang meroket, bunga cicilan berpotensi naik, dan daya beli masyarakat otomatis tergerus. Kendati situasi penuh tantangan, Anda tidak boleh patah arang.

Cegah Tindak Pidana Korporasi, Polri sebut Perlu Bangun Sistem Transportasi Logistik

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno membagikan sejumlah strategi penting agar keuangan keluarga Anda tetap bertahan dan tangguh menghadapi badai ekonomi ini.

Realita di Lapangan: Daya Beli Merosot, Waspada Jebakan Paylater

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka makro ekonomi, melainkan hantaman riil bagi keuangan pribadi. Saat ini, kenaikan harga sudah mulai terasa di berbagai sektor kehidupan sehari-hari.

“Jadi, bukan hanya yang pasti secara makro ekonomi berdampak, namun pastinya akan sampai juga kepada keuangan pribadi. Contoh ya, barang kebutuhan yang kita beli jika komponen untuk produksi bahan tersebut banyak menggunakan bahan impor, tentunya akan mengalami kenaikan harga ya,” ujar Mike Rini kepada JawaPos.com, Kamis (21/5).

Kenaikan ini sudah terlihat jelas pada harga makanan di restoran, bahan pokok, jajanan, hingga tarif listrik dan bahan bakar. Ketika harga melambung sementara pendapatan tetap, kemampuan masyarakat untuk menabung dan membayar cicilan utang pun otomatis ikut menyusut.

Menariknya, di tengah himpitan ekonomi ini, ada pergeseran perilaku psikologis di masyarakat. Demi mempertahankan gaya hidup atau menutup defisit bulanan, banyak orang yang mulai ketergantungan pada pembiayaan instan.

“Nah, padahal dalam situasi ekonomi begini ya, itu harus hati-hati kita kalau kita mau menutup defisit keuangan keluarga kita dengan pinjaman,” kata Mike.

Penggunaan paylater yang tidak terkontrol bisa menjadi bom waktu, terutama karena masyarakat cenderung melakukan avoidance alias enggan menghadapi realita bahwa daya beli mereka sebenarnya sedang menurun.

Tips Cara Mengelola Keuangan dengan Stabilisasi Arus Kas

Langkah pertama dan paling krusial untuk menyelamatkan dompet Anda adalah melakukan stabilisasi cash flow (arus kas). Tujuannya, mencegah pengeluaran menjadi lebih besar pasak daripada tiang.

Guna mencapai stabilitas tersebut, Anda wajib melakukan tracking atau audit menyeluruh terhadap pos pemasukan dan pengeluaran. Kelompokkan pengeluaran Anda ke dalam beberapa bagian besar, seperti:

– Biaya Hidup: Transportasi, komunikasi, belanja dapur mingguan/bulanan, uang saku anak, hingga sokongan dana untuk orang tua.

– Proteksi: Pembayaran premi asuransi kesehatan dan asuransi jiwa.

– Kewajiban: Cicilan utang yang sedang berjalan dan lainnya.

Jika setelah diaudit pos keuangan Anda mengalami defisit, maka langkah ekstrem yang harus diambil adalah memangkas pengeluaran yang tidak utama (tersier).

Prioritaskan pendapatan untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Ingat, jika cicilan lama belum lunas, sangat tidak disarankan untuk menambah utang baru.

Berapa Formula Ideal Dana Darurat Saat Ini?

Di tengah volatilitas ekonomi, risiko ketenagakerjaan seperti PHK atau bisnis yang gulung tikar meningkat tajam. Oleh sebab itu, porsi dana darurat wajib ditingkatkan dari kondisi normal.

Mike menyarankan formula ideal pembentukan dana darurat yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing individu:

– Karyawan Tetap: Jika sebelumnya cukup 3-4 kali pengeluaran bulanan, kini amankan minimal 6 kali pengeluaran bulanan.

– Freelancer & Wirausaha: Karena pendapatan lebih fluktuatif dan bergantung pada kondisi bisnis klien, targetkan dana darurat sebesar 9 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

– Sudah Berkeluarga & Punya Anak: Karena tanggungan hidup jauh lebih besar, kelompok ini sangat disarankan mengunci dana darurat hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

“Jadi, bagi apalagi bagi masyarakat yang sudah berkeluarga, punya tanggungan lebih besar ya, dana darurat itu sangat disarankan untuk ditambah ya, karena ketidakpastian ini ya perlu memang diantisipasi dengan kesiapan kita mencukupi kebutuhan dana darurat tadi,” tutur Mike.

Amankan Aset Lewat Reallokasi Investasi

Selain memperketat ikat pinggang dan mempertebal tabungan darurat, situasi melemahnya rupiah juga menjadi momentum pas untuk menata ulang (rearrange) portofolio investasi Anda.

Agar kekayaan tidak tergerus inflasi, devaluasi, dan pelemahan mata uang, jangan menaruh semua aset dalam bentuk rupiah. Cobalah melirik aset riil atau mata uang asing yang lebih stabil sebagai instrumen pelindung nilai (hedging).

Masyarakat bisa mulai mengalokasikan sekitar 5 persen hingga 10 persen dari total aset ke dalam bentuk emas batangan atau mengoleksi mata uang dolar AS. Langkah diversifikasi ini penting agar nilai kekayaan Anda tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.