Harga emas konsolidasi, pasar pantau langkah suku bunga The Fed

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Harga emas turun tipis di tengah penutupan sebagian pasar Asia karena libur Tahun Baru Imlek dan fokus pelaku pasar terhadap langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (19/2/2026), harga emas di pasar spot melemah 0,2% ke level US$4.969,37 per ounce. Sementara itu, harga emas Comex tercatat melemah 0,38% ke level US$4.990 per ounce.

Pada awal perdagangan, harga emas sempat diperdagangkan di kisaran US$4.975 per ounce, didukung aksi beli saat harga turun (buy on dip) setelah dua hari terkoreksi.

Pergerakan pasar cenderung volatil sejak aksi jual besar-besaran pada awal bulan yang menyeret harga emas turun dari rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.595 per ounce.

Risalah rapat kebijakan The Fed pada 27—28 Januari yang dirilis Rabu (18/2/2026) menunjukkan para pejabat bank sentral AS tersebut lebih berhati-hati terhadap rencana pemangkasan suku bunga. Sikap itu berpotensi memicu ketegangan dengan Presiden Donald Trump serta mempersulit langkah calon ketua The Fed pilihannya, Kevin Warsh.

Trump sebelumnya menyuarakan dukungan terhadap suku bunga yang lebih rendah, yang biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

: : Harga Emas Hari Ini Turun, Momentum Diskon Tahun Baru Imlek dan jelang Ramadan

Di sisi lain, dolar AS menguat setelah rilis data yang menegaskan ketahanan ekonomi Amerika Serikat. Produksi industri AS pada bulan lalu mencatat kenaikan terbesar dalam hampir setahun. Laporan terpisah juga menunjukkan pesanan barang modal inti meningkat melebihi ekspektasi pada Desember 2025.

Indeks Bloomberg Dollar Spot—yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama—naik 0,5% pada Rabu (18/2/2026).

Sejumlah bank global seperti BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan tren kenaikan emas akan berlanjut, dengan berbagai faktor pendukung reli jangka panjang yang masih bertahan.

Kekhawatiran terhadap independensi The Fed, serta pergeseran global menjauh dari mata uang dan obligasi negara, turut menopang daya tarik emas. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik juga memperkuat minat terhadap aset safe haven tersebut.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Timur Tengah, terutama perundingan nuklir antara AS dan Iran yang hingga kini belum menghasilkan terobosan.

Setelah negosiasi di Jenewa pekan ini, seorang pejabat AS menyatakan bahwa delegasi Teheran akan kembali dalam dua pekan dengan proposal rinci untuk menjembatani perbedaan kedua pihak.

Sementara itu, laporan media berbasis AS, Axios, menyebutkan bahwa jika terjadi operasi militer AS, langkah tersebut kemungkinan berupa kampanye yang berlangsung selama beberapa pekan.