
Situasi di kawasan Teluk semakin memanas. Iran pada akhir pekan ini resmi memperbarui ancaman mereka terhadap infrastruktur vital di Timur Tengah.
Langkah tersebut diambil Teheran setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bersumpah akan melenyapkan pembangkit listrik di republik Islam tersebut jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor berita Fars, Komando Operasional Militer Iran, Khatam Al-Anbiya, memberikan peringatan keras kepada Washington. Mereka menegaskan, setiap pelanggaran terhadap infrastruktur bahan bakar dan energi milik Negeri Persia itu oleh pihak musuh akan memicu serangan balasan yang luas.
Teheran pun memperingatkan bahwa seluruh infrastruktur energi, jaringan teknologi informasi, hingga fasilitas desalinasi air milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut akan menjadi target operasi militer jika ancaman Washington benar-benar dilaksanakan.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran dilanggar oleh musuh, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, hingga fasilitas desalinasi milik AS dan rezim di kawasan ini akan menjadi target,” tulis pernyataan militer Iran seperti dikutip AFP, Minggu (22/3).
Ketegangan di Teluk Persia kian meningkat setelah Trump melayangkan ultimatum kepada Teheran untuk segera membuka akses Selat Hormuz bagi pelayaran komersial dalam tempo 48 jam. Lewat unggahannya di Truth Social pada Sabtu (21/3) malam, Trump menegaskan bahwa militer AS siap melumpuhkan jaringan pembangkit listrik Iran, dimulai dari fasilitas paling vital, jika jalur energi strategis tersebut tetap diblokade.
Sikap agresif yang ditunjukkan bos Gedung Putih itu menandai perubahan arah kebijakan yang drastis di Washington. Sebab, sebelumnya Trump sempat mengisyaratkan pengurangan keterlibatan militer AS dan justru mendorong negara-negara konsumen energi untuk lebih proaktif dalam mengamankan jalur tersebut.
Blokade di Selat Hormuz, yang menjadi pintu keluar bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, secara otomatis mengguncang pasar energi global dan mengerek harga minyak Brent hingga menyentuh angka US$ 112,19 per barel pada penutupan Jumat (20/3) lalu.
Meskipun ancaman militer kian nyata, celah diplomasi tampaknya masih terbuka bagi beberapa pihak. Sebagai contoh, India berhasil mengamankan pengiriman kargo LNG mereka melalui pengawalan langsung Angkatan Laut Iran setelah menempuh jalur komunikasi diplomatik yang intens dengan Teheran di tengah kemacetan logistik global ini.