
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Usai libur Hari Raya Idul Adha 1447 H, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan saham hari ini, Jumat 29 Mei 2026. Di tengah tekanan terhadap pasar saham domestik, investor perlu mencermati rekomendasi analis berikut.
Pasar saham Indonesia masih tertekan hingga perdagangan terakhir sebelum libur. Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup melemah pada perdagangan Selasa (26/5/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 1,23% ke level 6.130,19 setelah sempat bergerak menguat pada awal sesi perdagangan.
Pelemahan indeks dipicu aksi profit taking investor serta rebalancing indeks MSCI yang memicu tekanan jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Tonton: Danantara Belum Siap Ekspor SDA Strategis Ditunda 2027
Sentimen global tekan IHSG
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan tekanan tambahan datang dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Serangan terbaru Amerika Serikat di Iran selatan menjadi sentimen negatif bagi pasar, meskipun di tengah harapan terhadap proses perdamaian,” ujarnya kepada Kontan.
Menurut Alrich, sektor industri mencatat pelemahan terbesar pada perdagangan kali ini. Sementara itu, sektor infrastruktur masih mampu mencatat penguatan terbatas.
Secara teknikal, ia menilai IHSG mulai menunjukkan indikasi perbaikan meski masih terbatas.
“Stochastic RSI menunjukkan potensi reversal ke arah pivot dan histogram MACD negatif mulai menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200,” jelasnya.
Tonton: AS Serang Iran Lagi Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Langsung Naik
Pelemahan rupiah jadi perhatian
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai depresiasi rupiah menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi penguatan dolar AS, dinamika geopolitik global, dan repatriasi dividen investor asing.
“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti aksi jual bersih investor asing,” katanya.
Nafan menambahkan, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi penekan utama IHSG karena memiliki bobot dominan dalam indeks.
Meski demikian, ia menilai fundamental sektor perbankan domestik masih cukup solid dengan margin bunga bersih dan permodalan yang tetap kuat.
GJTL Beri Dividen Saham Rp 80, Lo Kheng Hong Dapat Rp 18 Miliar Lebih
Strategi investor di tengah volatilitas pasar
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan lebih selektif dalam memilih saham dan mengedepankan manajemen risiko.
Nafan menyarankan investor mencermati emiten berbasis ekspor, sektor energi, serta saham defensif yang tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor.
Sementara itu, Co-Founder Pasardana Hans Kwee memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) masih bergerak terbatas.
“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih volatil seiring pelaku pasar mencermati perkembangan rupiah, arus dana asing, dan dinamika geopolitik global.