IHSG sesi I naik 1,45% ke 7.150, surplus neraca dagang RI cetak rekor 70 bulan

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,45% ke level 7.150,68 pada sesi I perdagangan Rabu (1/4/2026), seiring rilis surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.

Data RTI Business menunjukkan IHSG menguat 1,45% atau 102,46 poin ke level 7.150,68 pada sesi I perdagangan. Rentang pergerakan IHSG berada di antara 7.136 hingga 7.207.

Total perdagangan saham mencapai 17,37 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp8,64 triliun dan frekuensi sebanyak 1,13 juta kali. Tercatat 489 saham menguat, 196 saham melemah, dan 128 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa tercatat mencapai Rp12.623 triliun.

: Rapor Merah IHSG Kuartal I/2026: Indeks Utama dan Saham Sektoral Kompak Koreksi

Dari deretan emiten bank jumbo, tercatat saham BBCA menguat 1,16% atau 75 poin ke level Rp6.525 per lembar. Selanjutnya saham ANTM juga menguat 4% ke posisi Rp3.640 per lembar. Saham BRMS dan MDKA juga terapresisasi dengan penguatan masing-masing 5,48% dan 5,73%.

Sementara itu, emiten big caps yang melemah di antaranya BMRI yang turun 0,21% atau 10 poin ke level Rp4.710 per lembar. Menyusul saham MEDC juga melemah 4,66% atau 85 poin ke level Rp1.740 per lembar. Tak ketinggalan, saham AADI juga terkoreksi 3,10% atau 350 poin ke level Rp10.925 per lembar.

: : IHSG Dibuka Rebound Hari Ini (1/4), Saham INCO, BRPT, hingga BREN Melaju

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar per Februari 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang pada Januari yang senilai US$0,95 miliar.

: : Potensi Rebound IHSG Efek De-eskalasi Perang Iran, Cermati Saham EXCL hingga INCO

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% dibandingkan Februari 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$1,08 miliar atau turun 4,25%. sementara nilai ekspor nonmigas naik 1,30% dengan nilai pada Februari 2026 sebesar US$21,09 miliar.

Ateng menyebut peningkatan nilai ekspor Februari 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu lemak/minyak nabati (HS 15), nikel dan barang daripadanya (HS 75), dan mesin/perlengkapan elektrik (HS 85).

Adapun, nilai impor Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar atau naik 10,85% dibandingkan Februari 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Februari 2026 mencapai US$ 2 miliar atau turun 30,36% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Februari 2026 mencapai US$18,90 miliar atau naik 18,24% secara yoy.

Ateng menyebut peningkatan impor Februari 2026 ini didorong oleh impor nonmigas dengan andil 15,47%.

“Pada Februari 2026, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$1,27 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 70 bulan berturut turut sejak Mei 2020,” kata Ateng pada Senin (1/4/2026).

Surplus pada Februari 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$2,19 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bisa rebound pada perdagangan hari ini, Rabu (1/4/2026), mengikuti kenaikan sejumlah bursa utama dunia.

Phintraco Sekuritas menjelaskan indeks di Wall Street telah ditutup menguat signifikan pada Selasa (31/3/2026). Penguatan indeks utama di Amerika Serikat itu menyusul harapan pelaku pasar soal de-eskalasi perang di Timur Tengah yang kembali muncul.

“IHSG diperkirakan berpotensi rebound karena sentimen positif dari ekspektasi akan de-eskalasi perang, dengan menguji level resistance di 7100-7200,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset harian, Rabu (1/4/2026).

Adapun, Presiden AS Donald Trump akan terbuka untuk mengakhiri kampanye militer meskipun Iran memegang kendali atas Selat Hormuz. Sementara itu, Iran disebut juga akan mengakhiri perang jika diberikan jaminan keamanan. Merespons berita tersebut harga minyak mentah terpantau mendingin dan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 bps ke level 4.321%.

Dari dalam negeri, pemerintah akan mengumumkan harga BBM belum naik pada awal bulan ini. Selain itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan WFH sekali dalam seminggu bagi ASN, efisiensi di kementerian/lembaga, serta percepatan pelaksanaan B50 untuk menangkal tekanan dari lonjakan harga minyak.

Hari ini investor akan mencermati rilis data indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, dan inflasi.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.