
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan tekanan di pasar saham membuat investor perlu lebih selektif dalam mengelola portofolio investasi.
Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp18.036 per dolar AS. Sementara itu, tekanan juga terjadi di pasar saham, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus melemah sepanjang pekan dan ditutup di level 5.594 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026).
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai tekanan di pasar keuangan saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Menurutnya, dari sisi eksternal, suku bunga AS yang masih tinggi membuat dolar AS tetap menjadi aset yang menarik sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Tekanan terutama berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, suku bunga AS yang masih tinggi membuat dolar tetap menarik dan memicu arus dana keluar dari emerging markets,” ujar Budi kepada Kontan, Jumat (5/6/20026).
Sementara dari dalam negeri, investor masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal serta berbagai isu tata kelola dan kepercayaan pasar. Kondisi tersebut berdampak pada pelemahan rupiah, koreksi pasar saham, serta kenaikan yield obligasi.
Budi memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak volatil pada semester II-2026. Ia memproyeksikan kurs rupiah berada di kisaran Rp 17.200 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Investor Perlu Atur Ulang Portofolio Aset di Tengah Pasar Keuangan yang Tertekan
Menurutnya, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), kekuatan dolar AS, dan arus modal asing yang masuk ke pasar domestik.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, Budi menyarankan investor melakukan diversifikasi portofolio. Emas dan dolar AS dapat dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai, sementara pasar uang menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas.
“Emas cocok sebagai safe haven, dolar AS sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, dan pasar uang memberikan likuiditas sambil menunggu peluang investasi yang lebih menarik,” kata Budi.
Untuk investor konservatif, Budi merekomendasikan alokasi 60% pada pasar uang atau deposito, 30% obligasi, dan 10% emas. Sementara investor moderat dapat menempatkan 50% dana di pasar uang, 30% obligasi, 10% saham, dan 10% emas.
Inflasi 10 Tahun Tembus 32%, Begini Strategi Portofolio Agar Return Tak Tergerus
Adapun, investor agresif dapat mempertimbangkan portofolio yang terdiri dari 30% saham, 30% obligasi, 30% pasar uang, dan 10% emas.
Meski demikian, Budi mengingatkan investor untuk tidak terburu-buru masuk ke pasar dalam jumlah besar. Menurutnya, strategi yang lebih tepat saat ini adalah menjaga likuiditas sekaligus mulai mengakumulasi aset yang valuasinya sudah menarik secara bertahap.
“Investor sebaiknya tetap memiliki likuiditas yang cukup, tetapi mulai melakukan akumulasi bertahap pada aset yang valuasinya sudah menarik. Hindari masuk sekaligus dalam satu waktu,” ujar Budi.
Budi menambahkan, terdapat tiga indikator utama yang perlu dicermati investor dalam beberapa bulan ke depan, yakni yield US Treasury tenor 10 tahun, arus dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia, serta pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS.
“Ketiganya biasanya menjadi indikator awal arah pasar ke depan,” tutup Budi.
Tekanan Pasar Keuangan Meningkat, Atur Ulang Portofolio Aset Mesti Tepat