
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin berada dalam tren penurunan. Hal ini seiring dengan menurunnya kapitalisasi pasar kripto. Mengutip Coin Market Cap Jumat (13/2/2026) pukul 19.37 WIB, harga Bitcoin naik 1,33% dalam sepekan ke US$ 67.046.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin menyoroti rontoknya kapitalisasi pasar kripto dan turunnya Crypto Fear & Greed Index ke level extreme fear ke level 8 menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang berada dalam fase kapitulasi. Periode ketika investor menjual tanpa mempertimbangkan harga.
“Secara historis, zona extreme fear sering kali bertepatan dengan potensi terbentuknya local bottom. Namun, dalam jangka pendek, tekanan volatilitas masih bisa berlanjut karena sentimen masih sangat rapuh,” ujar Fahmi kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, dari sudut pandang teknikal, beberapa indikator memang menunjukkan pelemahan signifikan. Terjadinya multiple breakdown dalam waktu singkat, tertembusnya 365-day moving average, serta rusaknya support psikologis utama di US$75.000 menjadi sinyal negatif yang tidak bisa diabaikan. Namun, skenario bear market panjang seperti siklus sebelumnya belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Kepercayaan Publik Dinilai Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Aset Digital
Data di Polymarket menunjukkan probabilitas 71% Bitcoin kembali ke US$ 85.000 sebelum akhir Februari. Akan tetapi hanya 10% peluang kembali ke US$ 100.000 dalam periode yang sama. Ini mengindikasikan ekspektasi pasar lebih condong pada fase stabilisasi atau pergerakan sideways dibandingkan tren bearish berkepanjangan.
Fahmi melihat untuk tahun ini, level teknikal yang perlu diperhatikan adalah support kritis di level US$ 60.000 sampai US$ 65.000 dan resistance utama di level US$ 75.000 dan US$ 95.000.
“Selama area US$60.000-65.000 mampu bertahan, peluang rebound tetap terbuka. Faktor yang memicu tekanan saat ini lebih dominan berasal dari eksternal, khususnya kebijakan moneter AS, bukan dari melemahnya fundamental industri kripto itu sendiri,” ucap Fahmi.
Terkait strategi investasi, di tengah volatilitas tinggi, Fahmi menyarankan investor untuk tetap disiplin pada rencana investasi masing-masing.
“Menjual saat Fear & Greed Index berada di bawah 10 adalah keputusan yang berisiko tinggi, mempertimbangkan potensi terciptanya local bottom. Jika memiliki keyakinan terhadap tesis jangka panjang kripto, fase ini justru bisa menjadi zona akumulasi yang menarik, terutama melalui pendekatan yang meminimalisir risiko seperti dollar-cost averaging,” jelas Fahmi.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menyoroti pasar kripto yang mengalami tekanan signifikan pada 11 Februari setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (non-farm payrolls/NFP). Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Bitcoin sempat turun di bawah level US$ 67.000 atau sekitar Rp1,12 miliar, sementara sejumlah altcoin mencatat koreksi lebih dalam seiring meningkatnya sentimen risk-off global.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan menyusut hampir US$ 90 miliar dalam hitungan jam. Bitcoin turun mendekati US$ 66.000 dan memicu likuidasi posisi leverage sekitar US$70 juta. Sementara Ethereum sempat menyentuh area US$1.900. Indeks Ketakutan dan Keserakahan (Fear & Greed Index) kembali masuk zona “ketakutan ekstrem”, mencerminkan sikap defensif pelaku pasar.
Open Interest Bitcoin Turun ke Level Terendah sejak 2024, TradFi Meninggalkan BTC?
Fyqieh menilai penurunan kali ini lebih banyak dipicu oleh aksi deleveraging di pasar derivatif dibandingkan faktor fundamental Bitcoin itu sendiri. Penurunan open interest lebih dari 10% dan lonjakan likuidasi hingga di atas US$ 160 juta menunjukkan pasar sedang melakukan pengurangan risiko secara agresif.
“Ketika posisi leverage ditutup secara paksa, tekanan jual menjadi terakumulasi dalam waktu singkat dan memperdalam koreksi harga,” ucap Fyqieh.
Sejumlah analis global juga mencatat bahwa Bitcoin kini semakin berkorelasi dengan saham teknologi berisiko tinggi, bukan lagi dipandang sebagai aset lindung nilai. Pelemahan indeks utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq turut menyeret harga aset digital.
Fyqieh menambahkan bahwa dinamika makroekonomi, termasuk ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS akan menjadi katalis utama pergerakan harga selanjutnya. Bitcoin saat ini sangat sensitif terhadap data ekonomi AS.
“Jika inflasi menunjukkan perlambatan signifikan dan membuka ruang penurunan suku bunga lebih cepat, kita bisa melihat momentum pemulihan. Namun narasi ‘higher for longer’ masih menjadi tekanan jangka menengah,” kata Fyqieh.
Di tengah tekanan jangka pendek, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi signifikan oleh investor besar (whale). Tercatat aliran lebih dari 66.000 BTC masuk ke alamat akumulasi pada awal Februari—terbesar dalam siklus ini.
Fyqieh melihat fenomena ini sebagai fondasi struktural yang positif bagi pasar. Akumulasi whale menunjukkan kepercayaan jangka panjang masih terjaga. Ketika koin ditarik dari exchange dan disimpan, suplai yang tersedia untuk dijual berkurang.
“Jika sentimen makro membaik, kondisi ini bisa memicu supply squeeze dan reli yang kuat,” terang Fyqieh.
Meski demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa pasar saat ini masih berada dalam fase tarik-menarik antara akumulasi institusional dan tekanan makro global. Dalam jangka pendek volatilitas masih tinggi. Struktur pasar cenderung konsolidatif dengan bias melemah, namun secara jangka panjang fondasi tetap terbentuk.
“Investor perlu disiplin dalam manajemen risiko dan menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah ketidakpastian,” pungkas Fyqieh.
Menanggung Rugi Usai Merger, Begini Rekomendasi Saham XLSMART (EXCL)