BI catat modal asing masuk ke Indonesia 1,6 miliar dolar AS, rupiah terdorong lebih stabil

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyampaikan terus berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah, di antaranya dengan melakukan pendalaman instrumen operasi moneter. BI mencatat investasi portofolio asing masuk atau net inflows telah mencapai 1,6 miliar dolar AS hingga pertengahan Februari 2026, membantu upaya stabilisasi rupiah.

“Berdasarkan data settlement di tanggal 18 Februari ini, inflow di SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) mencapai Rp 31 triliun dan di SBN mencapai sekitar Rp 530 miliar. Jadi inflow terus meningkat, secara overall year to date (ytd) sudah mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026, dikutip Jumat (20/2/2026).

Jumlah aliran modal tersebut memang terutama ditopang arus modal asing ke SRBI dan SBN. Sedangkan investasi pada saham masih mencatatkan arus modal asing ke luar atau outflow.

“Ini (arus modal asing ke SRBI dan SBN) sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” tutur Destry.

Menurut data BI, nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 tercatat sebesar Rp 16.880 per dolar AS, melemah 0,56 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Januari 2026. Pelemahan nilai tukar tersebut disinyalir terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan kenaikan kegiatan ekonomi.

BI memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dengan begitu, BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

 Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Destry melanjutkan, selain upaya-upaya intervensi tersebut, BI juga melakukan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sebagai langkah lain menstabilkan nilai tukar rupiah, di antaranya dengan terus mengembangkan dan memperkuat implementasi local currency transaction (LCT).

“Sekarang memang kami terus juga sedang memperdalam pasar valas untuk rupiah-CNY atau yuan renminbi untuk transaksi perdagangan kita dengan China, khususnya untuk merespons LCT kita dimana transaksi dengan China terus mengalami peningkatan. Bahkan di bulan Desember, satu bulan saja sudah mencapai 2,7 miliar dolar AS, ini yang akan juga meningkatkan (stabilisasi rupiah) supaya tidak semua tergantung kepada dolar,” jelasnya.

Menurut penuturan Destry, suplai dari implementasi LCT tersebut terus mengalami peningkatan. Ia menekankan terus melakukan penambahan suplai dari CNY dan CNH di pasar valas untuk memenuhi kebutuhan.

Diketahui, BI mencatat data LCT sepanjang 2025 mengalami peningkatan yang pesat. Pada akhir Desember 2025, nilai transaksi LCT mencapai 25,66 miliar dolar AS, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 sebesar 12,5 miliar dolar AS.

Dengan tren peningkatan penggunaan LCT, BI optimistis dapat meminimalisasi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Saat ini, BI telah menjalin kerja sama penggunaan LCT dengan sejumlah negara, antara lain Malaysia, Thailand, China, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA).