Perubahan besar LPPF: Transformasi ritel multi konsep, cek rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) akhirnya mengubah nama menjadi PT MDS Retailing Tbk. Perubahan itu telah disepakati oleh para pemegang saham LPPF dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Rabu (15/4/2026). 

CEO MDS Retailing Monish Mansukhani mengatakan, perubahan nama tersebut menandai babak baru dalam transformasi berkelanjutan perusahaan menjadi jaringan ritel multi konsep. 

“Perubahan nama mencerminkan transformasi perusahaan menjadi jaringan ritel multi konsep seiring langkah kami untuk bertumbuh melampaui model bisnis berformat tunggal menjadi perusahaan yang mengelola berbagai merek dan konsep pengalaman belanja yang lebih relevan. Kami tetap berkomitmen untuk berinovasi, beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen, dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Monish dalam keterangan resminya, Selasa (21/4/2026).

Perubahan ini terbatas pada tingkat entitas perusahaan dan tidak berdampak pada operasional gerai, merek, maupun pengalaman pelanggan, serta tetap berjalan dengan nama jenama masing-masing seperti yang sudah dikenal saat ini, termasuk Matahari atau Matahari Department Store.

Suku Bunga BI Tetap 4,75%, Saham Properti Masih Menarik?

“Nama baru ini mencerminkan ekspansi strategis perusahaan dari format department store tunggal menjadi jaringan ritel yang lebih luas yang mengembangkan dan mengoperasikan berbagai merek dan konsep,” ucap Monish.

Saat ini, portofolio bisnis perusahaan terus berkembang dengan sejumlah konsep ritel yang beragam.

Pertama, Matahari Department Store yang tetap menjadi destinasi utama untuk memenuhi kebutuhan fesyen dan gaya hidup keluarga di Indonesia, dengan tetap mempertahankan identitas jenama Matahari.

Kedua, SUKO, yaitu brand yang menawarkan produk kebutuhan sehari-hari dengan pendekatan minimalis dan fungsional, yang kini telah hadir di lima lokasi di Jakarta, Bekasi, dan Surabaya.

Ketiga, ZES, merek fesyen urban kontemporer dengan desain modern dan sleek, yang saat ini dipasarkan melalui dua gerai monostore di Jakarta dan Bekasi.

Keempat, MU+KU, konsep toko berbasis kurasi yang menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih berkesan dan kaya akan pilihan baru, dan kini telah hadir di Jakarta serta Surabaya.

Selain itu, LPPF juga terus mengembangkan dan memperkuat portofolio merek eksklusifnya, termasuk Nevada, COLE, Connexion, Little M, dan lainnya, yang mencakup berbagai kategori mulai dari kebutuhan kasual dan keluarga hingga gaya yang lebih fashion-forward dan kontemporer.

Ke depannya, perusahaan berencana untuk terus mengembangkan berbagai konsep tersebut menjadi jaringan ritel yang lebih luas dan terintegrasi, guna memperkuat kemampuannya dalam melayani berbagai segmen pelanggan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.

  LPPF Chart by TradingView  

Sebagai salah satu peritel di Indonesia, LPPF memiliki lebih dari 60 tahun pengalaman di industri ini, dengan jaringan gerai kuat yang mencakup lebih dari 140 gerai di hampir 80 kota di seluruh Indonesia. 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, perubahan nama Matahari Department Store menjadi MDS Retailing sebagai langkah yang cukup tepat secara strategis di tengah persaingan industri ritel yang semakin ketat. 

“Transformasi ini mencerminkan upaya perusahaan untuk tidak lagi bergantung pada format department store konvensional yang sudah relatif matang, melainkan bergerak menuju model bisnis multi konsep yang lebih fleksibel,” kata Elandry kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Selain itu, langkah ini juga relevan dengan perubahan perilaku konsumen yang kini mengarah pada pengalaman belanja yang lebih variatif serta integrasi kanal online dan offline. 

Meski demikian, kunci keberhasilan dari strategi ini tetap berada pada aspek eksekusi, terutama dalam hal kurasi produk, efisiensi operasional, dan kemampuan menarik segmen pasar baru.

Untuk prospek kinerja hingga akhir 2026, Elandry melihat LPPF masih berada dalam fase transisi dengan kecenderungan perbaikan yang berlangsung secara bertahap. 

Sejumlah faktor dapat menjadi penopang, seperti potensi pemulihan daya beli masyarakat, optimalisasi gerai dan portofolio merek, serta penguatan strategi private label yang berpotensi meningkatkan margin. Momentum musiman seperti periode hari raya dan akhir tahun juga dapat memberikan dorongan terhadap penjualan. 

Namun di sisi lain, tantangan tetap cukup besar, mulai dari persaingan yang ketat dengan pemain ritel lain, baik online maupun offline, perubahan preferensi konsumen yang cepat, hingga tekanan biaya operasional. 

Pasar Kripto Menguat, Analis: Hindari Fomo dan Lakukan Profit Taking

“Oleh karena itu, perbaikan kinerja diperkirakan belum akan terlalu agresif dalam jangka pendek, dengan potensi yang lebih terlihat pada periode berikutnya apabila transformasi berjalan efektif,” ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Dari sisi rekomendasi, Elandry saat ini cenderung memberikan pandangan hold atau netral terhadap saham LPPF. Ini didasarkan pada valuasi yang relatif telah mencerminkan ekspektasi pemulihan, sementara proses transformasi bisnis masih berada pada tahap awal dan menyisakan risiko eksekusi. Meskipun terdapat indikasi perbaikan fundamental, konsistensinya masih perlu dikonfirmasi dalam beberapa periode ke depan. 

Untuk target harga, Elandry memproyeksikan akan berada kisaran Rp 2.000 hingga Rp 2.400 di sepanjang 2026, dengan potensi penyesuaian bergantung pada keberhasilan implementasi strategi multi konsep, pertumbuhan penjualan toko yang sama (same-store sales growth), serta kemampuan perusahaan dalam menjaga stabilitas margin.