Migrasi hiu paus lintasi 12 negara, dua lokasi kunci ada di RI

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science menunjukkan migrasi hiu paus selama satu dekade (2015-2025) melintasi 12 batas negara dan laut internasional. Hasil penelitian ini menunjukkan hiu paus tidak hanya bergantung pada satu lokasi. Mereka berpindah dari wilayah pesisir ke laut lepas, mengikuti ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan laut.

Penelitian yang melibatkan tim peneliti dari Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International itu menganalisis data pelacakan satelit terhadap 70 individu hiu paus. Mereka ditandai di empat lokasi agregasi Utama di Indonesia, yakni Teluk Cenderawasih (Papua Tengah), Kaimana (Papua Barat), Teluk Saleh (Nusa Tenggara Barat), dan Teluk Tomini (Gorontalo). Tim peneliti juga menganalisis pergerakan hiu paus di Indo-Pasifik.

“Kini kita tidak hanya tahu di mana hiu paus muncul, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan faktor apa yang mendorong pergerakan mereka,” ujar Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, yang memimpin penelitian tersebut, dalam keterangan resmi, Kamis (30/4).

Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan hiu paus tidak bisa hanya berbasis lokasi tetapi harus melihat keseluruhan ekosistem laut yang saling terhubung. Habitat musiman hiu paus justru mendominasi jangkauan spesies ini. Area luas di Indo-Pasifik, seperti Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Timor, hingga Samudra Hindia bagian tenggara dan Samudra Pasifik dimanfaatkan hiu paus secara dinamis untuk migrasi dan mencari makan.

Baca juga:

  • Kejadian Langka, Bayi Hiu Paus Muncul di Teluk Saleh
  • Banyak Hiu Paus Muda Terdampar, Sinyal Darurat Populasi Laut Global
  • Ada di Indonesia, Potensi Pariwisata Hiu Paus Capai Rp 649 Miliar per Tahun

Riset ini juga menunjukkan habitat yang digunakan hiu paus memiliki fungsi yang berbeda. Di wilayah agregasi seperti Teluk Saleh, perilaku hiu paus didominasi aktivitas mencari makan yang relative stabil sepanjang tahun. Di perairan yang lebih luas, hiu paus memanfaatkannya sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik.

Hiu paus dilepas setelah dipasangi alat pelacak satelit. (Konservasi Indonesia/Abdi Hasan) Dua Lokasi Kunci di Indonesia

Iqbal mengatakan, hanya sedikit lokasi di Indonesia yang benar-benar mendukung keberadaan hiu paus sepanjang riset dilakukan. Dua di antaranya adalah Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh. Kedua lokasi ini merupakan habitat kunci yang tidak tergantikan bagi hiu paus.

“Kedua lokasi tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga populasi hiu paus secara keseluruhan. Jika lokasi seperti Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih tidak dilindungi dengan baik, dampaknya bisa terasa pada populasi di seluruh Kawasan Indo-Pasifik,” kata Iqbal.

Hasil riset ini juga menunjukkan Sebagian besar wilayah yang dilakukan hiu paus justru berada di luar Kawasan perlindungan. Mereka bergerak melintasi setidaknya 13 negara, serta laut lepas yang pengelolaannya masih terbatas.

Pergerakan hiu paus mencakup Kawasan lintas negara, yakni Australia, Christmas Island, Timor Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Kawasan di luar yurisdiksi nasional atau laut lepas.

“Ini menunjukkan hiu paus adalah spesies yang sangat lintas batas, sehingga perlindungannya tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja. Kolaborasi di tingkat lokal maupun internasional sangat diperlukan untuk meningkatkan praktik pariwisata berbasis hiu paus, perikanan berkelanjutan, dan menyesuaikan lalu lintas laut guna mengurangi risiko terhadap spesies yang terus menurun ini,” kata Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia.

Tag satelit di tubuh hiu paus (Konservasi Indonesia/Iqbal Herwata) Hiu Paus Manfaatkan Laut Layaknya Jalan Tol

Guru Besar Bidang Oseanografi dari Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, mengatakan hiu paus memanfaatkan dinamika laut layaknya jaringan jalan tol alami.

“Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai rest area, tempat mereka berhenti untuk mencari makan,” kata Anindya. Karena itu, perlindungan hiu paus tidak bisa fokus di satu lokasi saja, tetapi harus mencakup sistem laut yang saling terhubung.

Dengan memahami informasi spasial mengenai jalur migrasi dan habitat penting hiu paus, pemerintah bisa mengurangi tangkapan, mengatur lalu lintas kapal guna meminimalkan tabrakan kapal dan hiu paus, serta merancang pariwisata bahari yang lebih berkelanjutan.

“Dengan perannya sebagai hub konektivitas hiu paus di Indo-Pasifik, Indonesia berada pada posisi unik untuk mendorong kebijakan konservasi yang tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga memperkuat kerja sama regional hingga lintas 13 negara,” kata Iqbal.

Studi ini menjadi acuan bagi Konservasi Indonesia untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, serta sektor swasta untuk berkolaborasi dalam memastikan kelangsungan hidup hiu paus, dari pesisir hingga laut lepas.