BI catat indeks keyakinan konsumen naik jadi 127

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) melaporkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia pada Januari 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai level optimis 127,0, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 123,5.

Berdasarkan hasil Survei Konsumen yang diterbitkan BI, lonjakan keyakinan konsumen ini didorong oleh penguatan dua komponen utama, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

1. Kelompok pengeluaran Rp4,1 hingga Rp5 juta alami penurunan

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso mengatakan bila berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada Januari 2026 meningkat pada seluruh kelompok pengeluaran, kecuali kelompok Rp4,1-5 juta yang mengalami penurunan indeks menjadi sebesar 124,2.

Berdasarkan kelompok usia, peningkatan IKK terjadi pada sebagian besar kelompok usia dengan indeks tertinggi tercatat pada responden usia 20-30 tahun di level 134,2.

“Secara spasial, IKK mengalami peningkatan di mayoritas kota yang disurvei, terutama di Semarang, Palembang, dan Padang,” ungkapnya.

2. Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini naik

Secara rinci, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan IKE Januari 2026 tercatat sebesar 115,1, lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

“Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan seluruh komponen pembentuk IKE, seperti Indeks Penghasilan Saat Ini (IPS), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG). Masing-masing indeks ini tercatat sebesar 123,7, 109,9, dan 111,8, yang mencerminkan perbaikan persepsi konsumen terhadap daya beli, lapangan kerja, serta pembelian barang durable,” tegasnya.

3. Ada optimisme di kelompok usia produktif

Lebih lanjut, dari segi pengeluaran, hampir seluruh kelompok mengalami kenaikan dalam Indeks Penghasilan Saat Ini, kecuali kelompok dengan pengeluaran Rp4,1–5 juta yang justru tercatat menurun menjadi 118,8. Dari sisi usia, responden usia 20-30 tahun mencatatkan indeks tertinggi dengan angka 136,6, menandakan optimisme yang tinggi pada kelompok usia produktif ini.

Meskipun terjadi peningkatan secara umum, kelompok usia di atas 51 tahun masih menunjukkan sikap pesimis terhadap ketersediaan lapangan kerja. Sementara itu, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) juga mengalami kenaikan pada hampir seluruh kelompok pengeluaran, kecuali pada kelompok Rp4,1–5 juta yang turun menjadi 107,2.

4. Ekspektasi konsumen terhadap ekonomi 6 bulan mendatang alami peningkatan

Sementara itu, harapan konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang juga menunjukkan peningkatan. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Januari 2026 tercatat 138,8, naik dari 135,6 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi yang lebih baik terhadap penghasilan serta prospek kegiatan usaha, dengan Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) mencapai 146,0 dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) tercatat 135,3.

Di sisi perilaku konsumsi, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat turun menjadi 72,3 persen, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 74,3 persen.

“Meski demikian, proporsi untuk pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) tetap stabil di angka 11,2 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, tabungan konsumen menunjukkan tren positif, dengan proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 16,5 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 14,9 persen. Hal ini menunjukkan adanya kehati-hatian dalam pola konsumsi, di mana konsumen mulai lebih fokus untuk menyisihkan pendapatan mereka.

Pada segmen pendidikan, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja enam bulan ke depan meningkat pada responden berpendidikan sarjana dan pascasarjana, dengan indeks masing-masing mencapai 145,2 dan 150,7. Peningkatan ini juga tercatat pada kelompok usia 20–40 tahun dan di atas 60 tahun, sementara kelompok usia 41–60 tahun mengalami penurunan dalam indeks ekspektasi lapangan kerja.

Secara keseluruhan, meskipun ada ketidakmerataan dalam persepsi berdasarkan pengeluaran, usia, dan pendidikan, data ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia pada awal tahun 2026 lebih optimistis terhadap kondisi ekonomi yang lebih baik, dengan harapan yang lebih tinggi terhadap prospek penghasilan dan lapangan kerja.

Kenapa Menghilangkan Simbol Rp Bisa Bikin Konsumen Belanja Lebih Banyak? 5 Alasan Pemahaman Perilaku Digital Konsumen Jadi Penentu Arah Bisnis OJK Rilis Aturan Gugatan untuk Perlindungan Konsumen