Chandra Asri Pacific (TPIA) raih laba bersih US$ 1,49 miliar pada 2025

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten produsen petrokimia terintegrasi, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencetak kinerja keuangan positif pada 2025. Hal ini ditunjukkan oleh kenaikan pendapatan bersih sebesar 293,2% year on year (yoy) menjadi US$ 7,02 miliar pada akhir 2025.

Kontribusi utama pendapatan bersih TPIA berasal dari segmen energi yang melesat 31.984,6% yoy menjadi US$ 3,66 miliar pada 2025. Selain itu, TPIA juga mencatat kenaikan pendapatan dari segmen kimia sebesar 92,1% yoy menjadi US$ 3,24 miliar dan segmen infrastruktur yang tumbuh 35,4% yoy menjadi US$ 121,2 juta pada 2025.

EBITDA TPIA juga melesat 2.078,3% yoy menjadi US$ 1,66 miliar pada 2025. TPIA pun membukukan laba bersih setelah pajak sebanyak US$ 1,49 miliar pada 2025, berbanding terbalik dari tahun 2024 di mana perusahaan tersebut mengalami rugi bersih US$ 56,5 juta.

Group Chief Financial Officer Chandra Asri Pacific Andre Khor mengatakan, TPIA meraih kinerja yang kuat pada 2025 dengan profitabilitas tinggi dan mempertahankan neraca yang tangguh dengan likuiditas lebih dari US$ 3 miliar.

Ini Upaya OJK Menjawab Evaluasi MSCI

Hal ini mencerminkan kekuatan platform terintegrasi TPIA serta disiplin dalam eksekusi. TPIA tetap fokus dalam mendorong tiga pilar strategis, yakni energi, kimia, dan infrastruktur, serta menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari pertumbuhan untuk menciptakan nilai jangka panjang. 

TPIA memasuki tahun 2026 dengan momentum yang kuat, didukung oleh kinerja operasional yang solid serta kontribusi awal dari berbagai inisiatif strategis terbaru. 

“Meskipun kondisi pasar tetap dinamis, platform terintegrasi dan disiplin eksekusi kami menempatkan kami pada posisi yang baik untuk membukukan kinerja yang tangguh pada kuartal pertama serta berkelanjutan ke depan,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Kamis (26/3).

Di segmen energi, TPIA mengakselerasi transformasinya melalui integrasi Aster Chemicals and Energy (ACE), sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park, yang diakuisisi bersama Glencore. Kompleks kilang dan petrokimia kelas dunia ini memperkuat jalur dekarbonisasi serta ambisi keberlanjutan jangka panjang TPIA. 

TPIA juga melakukan ekspansi regional melalui akuisisi jaringan ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura yang didukung oleh solusi pembiayaan khusus senilai US$ 750 juta dari KKR. Setelah penandatanganan Conditional SPA pada Oktober 2025, transaksi ini diselesaikan dengan cepat pada 1 Januari 2026. Akuisisi ini mendukung strategi TPIA dalam membangun platform energi terintegrasi di Asia Tenggara. 

Beralih ke segmen kimia, TPIA memperluas portofolio hilir melalui akuisisi Chevron Phillips Singapore Chemicals, kini menjadi Aster Polymer Solutions (APS). Fasilitas High-Density Polyethylene (HDPE) berkapasitas 400 kiloton per tahun ini secara langsung memberikan nilai tambah serta memperluas fungsi pemasaran terintegrasi TPIA di Asia Tenggara, China, dan Australia. 

Di dalam negeri, proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai sekitar US$ 800 juta telah mencapai progres lebih dari 50% dan tetap sesuai rencana untuk mulai beroperasi pada kuartal I-2027. Proyek ini akan memperkuat rantai nilai industri Indonesia, khususnya pada sektor pertambangan dan pengolahan alumina. 

Partisipasi Danantara dan INA sebesar US$ 200 juta dalam proyek CA-EDC TPIA mencerminkan dukungan strategis untuk memperkuat sektor kimia hilir Indonesia serta mengurangi ketergantungan impor.

Di segmen infrastruktur, melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI Group), TPIA memperkuat platform infrastruktur sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama di bidang energi, air, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta logistik, dengan berbagai pencapaian penting. 

Pada pilar kepelabuhanan dan penyimpanan, TPIA telah memperoleh izin konsesi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan eksternal. 

Pada sektor logistik, jumlah armada telah berkembang menjadi 14 kapal gas dan kimia, serta lebih dari 200 truk. Pada saat yang sama, ekspansi kapasitas penyediaan listrik dan air juga terus dilakukan untuk mendukung peningkatan permintaan industri.

IHSG Ambruk 1,21% ke 7.214 Sesi I, Top Losers LQ45: ASII, GOTO, NCKL, Kamis (25/3)