BI wanti-wanti stagflasi global gegara konflik Timur Tengah

Jakarta, IDN Times – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengingatkan potensi stagflasi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Destry menjelaskan, konflik yang terjadi telah mendorong kenaikan biaya pengapalan dan premi asuransi, sehingga berdampak pada meningkatnya biaya logistik. Kondisi ini kemudian memicu gangguan pada rantai pasok global (global supply chain).

“Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan premi asuransi. Logistik juga naik, dan pada akhirnya terjadi gangguan terhadap global supply chain,” ujar Destry.

1. Muncul stagflasi di saat pertumbuhan ekonomi global lesu

Stagflasi adalah kondisi ekonomi langka yang ditandai dengan kombinasi stagnasi ekonomi (pertumbuhan melambat/resesi), tingginya pengangguran, dan inflasi tinggi (kenaikan harga) secara bersamaan.

Fenomena ini sulit diatasi karena kebijakan untuk menurunkan inflasi biasanya justru akan memperburuk pengangguran, dan sebaliknya. 

2. Harga emas dan komoditas minyak alami kenaikan

Ia menuturkan, gangguan tersebut berdampak luas terhadap harga komoditas global. Harga emas dan minyak mengalami kenaikan, diikuti indeks harga komoditas ekspor Indonesia serta produk pertanian.

“Yang terbaru adalah plastik. Kita merasakan dampaknya secara tidak langsung. Kejadiannya memang di Iran, tetapi karena adanya keterkaitan dalam supply chain, harga plastik ikut naik,” jelasnya.

Menurut Destry, kondisi ini pada akhirnya memicu penurunan produksi serta gangguan distribusi di berbagai sektor.

3. Kebijakan moneter global yang semula longgar jadi ketat dan hati-hati

Dari sisi makroekonomi, dampak yang muncul adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Produk domestik bruto (PDB) dunia diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun 2025, sementara inflasi justru meningkat.

“Ini kondisi yang tidak terlalu baik bagi ekonomi global, yaitu stagflasi. Ekonominya stagnan, tetapi inflasi meningkat,” kata Destry.

Ia menekankan, dalam situasi tersebut respons kebijakan menjadi sangat penting. Sejumlah negara diperkirakan akan melonggarkan kebijakan fiskal untuk menjaga pertumbuhan.

Sementara itu, kebijakan moneter yang sebelumnya cenderung longgar akan menjadi lebih berhati-hati “Karena saat ini masing-masing negara berlomba-lomba membuat aset domestiknya lebih menarik,” ujarnya.

Destry menambahkan, kondisi ini menjadi gambaran tantangan yang sedang dihadapi perekonomian global saat ini.

Bank Indonesia Ungkap Perang Timur Tengah Picu Dampak Multi-Sektoral CEK FAKTA: Benarkah Bank Indonesia Batasi Pembelian Tunai Dolar AS? ASEAN Perkuat Stabilitas Keuangan, Ini 3 Fokus Utama