Pasar tertekan, BRI Danareksa pangkas target IHSG 2026 jadi 7.200

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas merevisi target Indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 7.200 hingga akhir tahun. Revisi ini didasarkan pada berbagai sentimen yang belakangan menekan kinerja pasar modal RI.

Dalam risetnya yang bertajuk Equity Strategy: Repricing the Risk; Potential Tactical Reliefs to Emerge, analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menegaskan bahwa penurunan IHSG yang terjadi sepanjang tahun berjalan 2026 mencerminkan meningkatnya premi risiko Indonesia.

Artinya, kondisi ini bukan sekadar aksi jual yang terjadi secara luas dan bersamaan di pasar negara berkembang atau emerging market (EM).

Sedikitnya, terdapat empat faktor yang dinilai menurunkan minat investor terhadap pasar saham RI, antara lain risiko fiskal dari memanasnya harga minyak lantaran penutupan Selat Hormuz, menurunnya prediktabilitas kebijakan, outlook negatif terhadap peringkat utang RI, hingga rebalancing MSCI yang menghapus sejumlah saham dalam negeri.

Arus keluar dana asing dari pasar saham sebesar US$3,1 miliar sepanjang tahun ini juga dinilai mencerminkan langkah investor asing untuk mengurangi risiko.

Analis menilai, valuasi indeks saat ini telah mencerminkan tekanan secara jangka pendek. Spread antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi saat ini berada di level 242 bps atau 270 bps lebih lebar dari rata-rata jangka panjanganya.

: : IHSG Diproyeksi Uji Level 6.3262, Cermati Saham BRPT hingga KLBF

”Karena pertumbuhan EPS konsensus FY26 sebesar 14% secara umum sejalan dengan proyeksi BRIDS sebesar 13,4%, spread yang lebih lebar tersebut merupakan kompensasi atas premi risiko yang lebih tinggi,” kata para analis dalam risetnya, Selasa (2/6/2026).

Meskipun begitu, masih terdapat risiko jangka pendek berupa revisi outlook oleh S&P pada Juli mendatang, yang dinilai telah tecermin dalam harga pasar.

Belum lagi, MSCI Market Accessibilty review pada Juni mendatang dinilai turut membayangi langkah IHSG ke depan.

”Kami merevisi target IHSG Desember 2026 menjadi 7.200 dari sebelumnya 9.440. Penurunan target ini mencerminkan dihapuskannya premi aliran dana saham konglomerat sebesar 40% yang sebelumnya mempengaruhi target lama,” katanya. 

Analis menerangkan, target anyar itu didasarkan pada pertumbuhan EPS BRIDS pada 2026—2027 sebesar 13—14%. Namun, pertumbuhan sektor perbankan dipangkas menjadi 4—5% seiring outlook yang lebih berhati-hati.

Selain itu, target anyar ini juga mempertimbangkan spread earnings yield terhadap obligasi sebesar 220 bps. Skenario bullish target ini berada pada level 8.600, dengan bearish pada level 6.550.

Potensi Pasar Pulih

Dalam waktu dekat, BRIDS menyoroti tiga faktor utama yang berpotensi mendorong laju pasar saham RI.

Pertama, setelah aksi jual rebalancing MSCI terjadi, saham-saham berkapitalisasi jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengalami net sell senilai US$162,6 juta. Kondisi itu hampir memenuhi estimasi BRIDS yang memprediksi arus keluar dana senilai US$176 juta untuk keseluruhan proses rebalancing.

Kedua, BRIDS memprediksi pelemahan rupiah akan kembali mereda saat memasuki kuartal III/2026. Hal itu terjadi lantaran selama kuartal II, merupakan periode terburuk bagi rupiah karena repatriasi dividen dan kebutuhan valas untuk haji.

Meskipun hal ini tidak menyelesaikan sentimen domestik yang membayangi rupiah, tetapi setidaknya dapat memberikan sedikit ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengatur kebijakan moneter.

Ketiga, narasi perang dan memanasnya harga minyak diprediksi mencapai puncaknya, meskipun harga rata-rata masih tetap pada level yang tinggi. Dengan begitu, sebagian premi risiko yang dibebankan kepada negara pengimpor minyak dapat berkurang.

”Faktor-faktor ini memang tidak menyelesaikan risiko terkait peringkat utang negara maupun ketidakpastian kebijakan yang lebih luas, tetapi menurut kami cukup untuk mendorong pemulihan pasar,” katanya.

Di tengah kondisi ini, terdapat sejumlah saham yang direkomendasikan analis BRIDS, yang dinilai dapat dimanfaatkan untuk memanfaatkan potensi rebound.

  • Buy PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan target harga Rp10.900. Analis menilai, PBV BBCA saat ini mendekati level -2 standar deviasi, sementara rata-rata 10 tahun sebesar 2,1 kali. Kualitas bisnis BBCA juga dinilai solid dengan neraca yang cukup untuk mengimbangi pertumbuhan yang lebih moderat.
  • Buy PT Indosat Tbk. (ISAT) dengan target harga Rp3.000. Analis menilai, proyeksi pertumbuhan ISAT yang solid belum tecermin sepenuhnya dalam valuasinya saat ini. Selain itu, sektor telekomunikasi dinilai tidak memiliki katalis regulasi spesifik seperti logam atau batu bara yang menjadi penentu utama kinerja sektoral.
  • Buy PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) target harga Rp9.400 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) pada target harga Rp10.500. Menurut analis, diskon valuasi kedua saham ini tidak mencerminkan risiko pelemahan permintaan dan tekanan biaya pada 2026.
  • Buy PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) pada target harga Rp3.300. Analis menilai, valuasi EV/EBITDA MIKA berada di level -3 standar deviasi.
  • Buy PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dengan target harga Rp5.900. Menurut analis, sektor ini telah diperdagangkan pada level -2 standar deviasi dari rentang valuasi 10 tahunan. Namun, premi risikonya setara dengan IHSG.
  • Buy PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) pada target harga Rp550 dan PT Elnusa Tbk. (ELSA) pada target harga Rp1.110.
  • PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Timah Tbk. (TINS) menilai jika proyeksi BRIDS terealisasi, meskipun hanya setengahnya, sektor ini dinilai masih mengalami mispriced yang signifikan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.