
PT Pupuk Kalimantan Timur atau Pupuk Kaltim (PKT) menggelontorkan anggaran sebesar Rp900 miliar untuk proyek peremajaan alias revamping Pabrik Amonia 2. Langkah ini sebagai strategi efisiensi operasional, khususnya dalam penggunaan gas sebagai bahan baku utama produksi pupuk.
VP Pengembangan Bisnis Pupuk Kaltim Astri Agustina mengatakan, pendanaan ini sepenuhnya berasal dari internal perusahaan dan skema pembiayaan non-APBN, melalui dua skema pembiayaan dengan total sekitar Rp 900 miliar.
“Terkait dengan pendanaan, untuk proyek pengembangan PKT memang kami ada dua sumber dana, tapi memang tidak dari APBN,” ujar Astri dalam media briefing di Jakarta Pusat, Rabu (29/4).
Sumber pendanaan disebutnya berasal dari ekuitas perusahaan serta kredit investasi tahunan melalui sindikasi perbankan.
Baca juga:
- Produksi Pupuk Kaltim 2,14 Juta Ton pada Kuartal I 2026, Stok Aman di Atas 100%
- Biaya Produksi Membengkak Imbas Konflik Global, Pupuk Kaltim Lakukan Efisiensi
- Strategi Pupuk Kaltim Turunkan 32% Emisi Karbon pada 2030
Proyek revamping itu merupakan bagian dari program revitalisasi industri yang bertujuan menekan konsumsi energi sekaligus meningkatkan kinerja pabrik.
“Tujuan utamanya adalah menurunkan konsumsi energi untuk meningkatkan efisiensi,” katanya.
Selain efisiensi energi, peremajaan pabrik juga dilakukan untuk meningkatkan keandalan operasional (reliability) fasilitas produksi. Menurut dia, pembaruan peralatan akan membuat pabrik lebih andal, memperpanjang usia operasional aset, serta menjaga kesinambungan produksi.
Astri menambahkan, peningkatan efisiensi dan keandalan pabrik juga diharapkan memperkuat daya saing produk amonia maupun pupuk yang dihasilkan perusahaan.
“Dengan adanya revitalisasi ini, efisiensi produksi akan meningkat dan competitiveness produk juga semakin baik,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Anggono Widjaya mengatakan melalui modernisasi fasilitas, perusahaan dapat menekan konsumsi gas hingga 4 MMBTU.
“Dengan adanya peremajaan pabrik, penggunaan konsumsi gas bisa menurun sebesar 4 MMBTU,” ujar Anggono.
Ia menjelaskan, pendanaan proyek revamping tersebut berasal dari internal perusahaan melalui alokasi investasi tahunan. Menurut dia, langkah ini menunjukkan komitmen Pupuk Kaltim dalam menjaga efisiensi sekaligus meningkatkan kapasitas industri pupuk nasional.
Menurut catatan Katadata.co.id, secara teknis, proyek Revamping Ammonia Pabrik-2 mencakup pembaruan teknologi pada shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan operasi.
Selain itu, sistem kontrol pabrik kini menggunakan Distributed Control System(DCS) berbasis digital, menggantikan sistem pneumatik konvensional.
Pupuk Indonesia mencatat, proyek ini berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 110.000 ton CO2 per tahun, sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Efisiensi energi yang dihasilkan juga diharapkan menekan biaya produksi sehingga harga pupuk dapat tetap terjangkau bagi petani.