Jakarta, IDN Times – Selama sepekan terakhir (19-23 Januari 2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar -1,37 persen dan ditutup pada level 8.951,01 dalam akhir perdagangan pekan lalu. Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menjelaskan, sentimen dari global yang memengaruhi IHSG yakni meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa dalam menekan sentimen risiko pasar.
Sementara dari dalam negeri, tekanan IHSG diperparah oleh koreksi tajam pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII dan UNTR pada awal pekan.
“Koreksi UNTR terjadi menyusul pencabutan izin tambang emas milik anak usahanya oleh pemerintah. Selain itu, tekanan pasar berlanjut seiring kebijakan MSCI yang akan menerapkan formula perhitungan baru, sehingga memicu aksi jual pada saham-saham dengan narasi indeks MSCI seperti BUMI, PTRO, dan emiten terkait lainnya,” tutur Hari, dikutip Senin (26/1/2025).
1. Sentimen pekan ini
Memasuki pekan perdagangan 26-30 Januari 2026, Hari memprediksi Wall Street bergerak terbatas dengan kecenderungan konsolidasi seiring meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah beragam sentimen global dan agenda pasar ke depan.
“Dari Amerika Serikat, pasar juga akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting, seperti Non-Farm Payrolls (NFP), neraca perdagangan serta data jobless claims, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dan membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter selanjutnya,” kata dia.
Sementara itu dari sisi domestik makro, Pemerintah Indonesia diperkirakan akan semakin memfokuskan kebijakan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
“Langkah tersebut tercermin dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan, mulai dari pengendalian defisit anggaran, optimalisasi penerimaan negara, hingga pengelolaan belanja yang lebih terarah,” ujar Hari.
Dari sisi moneter, kata Hari, Bank Indonesia (BI) cenderung mempertahankan suku bunga acuannya sebagai upaya menjaga daya tarik aset domestik sekaligus mendukung stabilisasi pasar valas dan pengelolaan likuiditas.
“Kombinasi kebijakan ini diharapkan dapat menahan tekanan eksternal, menjaga kepercayaan investor, serta menopang stabilitas pasar keuangan domestik ke depan,” kata Hari.
2 Proyeksi market pekan ini
Berbicara tentang potensi market untuk pekan ini, Hari memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dalam range support 8.950 dan resistance 9.080 kendati aturan baru terkait perhitungan free float belum resmi diberlakukan.
Pasar cenderung bergerak lebih dahulu dengan mengantisipasi skenario terburuk sehingga pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi. Dampaknya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.
“Dalam kondisi tersebut investor dan trader dapat mencermati peluang pada saham-saham defensif maupun saham yang masih berada dalam tren naik (uptrend), khususnya yang didukung oleh volume transaksi yang solid serta aliran dana asing. Meski demikian, manajemen risiko tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan di tengah potensi volatilitas pasar,” tutur Hari.
3. Rekomendasi saham pekan ini
Merespons dinamika market yang ada saat ini, IPOT pun merekomendasikan sejumlah saham yang bisa jadi pertimbangan bagi trader. Berikut daftarnya.
1. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
Secara teknikal, AADI masih bergerak dalam tren uptrend dan didukung oleh aksi akumulasi asing yang konsisten. Dalam sepekan terakhir, saham AADI tercatat dibukukan net buy asing sebesar Rp145 milia sehingga potensi kelanjutan penguatan dinilai masih relatif kuat seiring terjaganya minat beli investor.
2. PT Pertamina Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS)
Secara teknikal, PGAS juga mencatat penguatan yang cukup solid dengan pergerakan uptrend yang didukung oleh peningkatan volume perdagangan. Selain faktor teknikal, sentimen positif datang dari kenaikan harga gas alam di pasar global yang turut memperkuat prospek kinerja emiten.
Dengan kombinasi tersebut, PGAS dinilai masih memiliki potensi penguatan yang relatif besar untuk pergerakan pekan ini.
3. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)
Saham EMAS yang berhasil menembus area all time high pada pekan lalu masih berpotensi melanjutkan penguatan. Prospek positif ini sejalan dengan kenaikan harga emas global yang masih berada dalam fase rally sehingga sentimen terhadap saham berbasis emas tetap kuat.
IHSG Tancap Gas Awali Pekan, 5 Saham Ini Masuk Top Gainers Analis Pede IHSG Tembus 10 Ribu di Tengah Tensi Geopolitik Global Daftar Saham Tercuan dan Terboncos Pekan Ini: RMKO Terbang 133 Persen