
Ussindonesia.co.id NEW YORK. Harga emas melemah pada perdagangan Selasa (24/2/2026), turun dari level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu.
Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta aksi ambil untung investor, di tengah pasar yang masih menanti kejelasan kebijakan tarif AS dan perkembangan pembicaraan antara Iran dan AS.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot turun 1,4% ke level US$ 5.158,24 per ons pada pukul 13.40 waktu New York, AS. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 0,9% di posisi US$ 5.176,30 per ons.
Pelemahan emas terjadi seiring indeks dolar AS yang naik 0,1%. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.
Harga Emas Turun dari Level Tertinggi Sepekan, Dipicu Aksi Ambil Untung
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai penurunan harga ini lebih bersifat koreksi teknikal. “Harga emas sebelumnya bergerak naik cukup kuat, sehingga penurunan ini terlihat seperti koreksi wajar. Dolar yang lebih tinggi juga memberi tekanan tambahan,” ujarnya.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan pada awal sesi perdagangan. Kenaikan itu dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana menaikkan tarif impor menjadi 15%, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan penggunaan undang-undang darurat untuk memberlakukan tarif melampaui kewenangannya.
Namun, pada hari yang sama, pemerintah AS tetap memberlakukan tarif 10% untuk seluruh barang yang tidak dikecualikan, sesuai pengumuman sebelumnya.
Dari sisi geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada rencana putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa.
Harga Emas Tembus Tertinggi Tiga Pekan, Didorong Kekhawatiran Utang AS
Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik antara kedua negara.
Menurut Wyckoff, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas masih relatif kuat. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tarif dinilai membatasi tekanan jual lebih dalam.
Namun, ia menegaskan bahwa untuk menembus rekor tertinggi baru, pasar membutuhkan katalis geopolitik atau ekonomi yang lebih besar.
“Ketika harga mendekati level tertinggi, resistensinya akan semakin kuat. Dorongan ke rekor baru kemungkinan memerlukan katalis baru yang signifikan,” katanya.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai yang cenderung diminati saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. Namun, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS.
Harga Emas Turun Lebih dari 2% Imbas Penguatan Dolar AS dan Rendahnya Likuiditas
Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Raphael Bostic, mengatakan kepada Reuters bahwa AS berpotensi memasuki fase pengangguran struktural yang lebih tinggi.
Hal ini dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan untuk menekan kebutuhan tenaga kerja, sebuah kondisi yang menurutnya sulit diatasi hanya dengan penurunan suku bunga.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,2% menjadi US$ 87,21 per ons setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi dua pekan. Sebaliknya, harga platinum naik 1% ke US$ 2.175,95 per ons, sementara paladium melonjak 2,3% menjadi US$ 1.785,35 per ons.