
Pemerintah memperkirakan konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama akan terdongkrak oleh pencairan tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara dan karyawan swasta. Namun, Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Mantap Pulungan meragukan proyeksi tersebut di tengah tekanan inflasi yang meningkat, terutama akibat memanasnya situasi di Timur Tengah.
Abdul mengatakan, periode Ramadan dan Lebaran secara teori memang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Namun, peningkatan konsumsi ini selalu diiringi tantangan klasik berupa kenaikan inflasi, terutama pada komoditas bahan makanan akibat keterbatasan pasokan.
Persoalan ini, menurut dia, terus berulang setiap tahun dan belum terselesaikan secara fundamental. Masalah inflasi kini bahkan tak hanya berasal dari pangan, tekanan juga datang dari sektor energi akibat gejolak global. Harga minyak telah melesat diatas US$ 110 per barel pada Senin (9/3), jauh di atas target yang dipatok
“Kalau kita lihat inflasi Februari, inflasi administered prices saja sudah mencapai sekitar 12%. Ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi energi dan harga yang diatur pemerintah,” katanya.
Baca juga:
- THR Polri 2026 Kapan Cair? Ini Komponen THR Anggota Polri
- Hitung-hitungan Ekonom soal Efek Perang ke Inflasi dan Ekonomi Global
Tekanan tersebut juga diperparah oleh berbagai faktor lain seperti pelemahan nilai tukar yang memicu inflasi impor. Kondisi ini membuat tambahan pendapatan dari THR berpotensi hanya berfungsi menahan penurunan daya beli, bukan meningkatkan konsumsi secara signifikan.
“Hipotesisnya, apakah tambahan THR dapat mendorong daya beli atau hanya menahan agar inflasi tidak menggerus daya beli selama kondisi domestik dan global belum membaik,” ujar Abdul.
Ia menilai tekanan inflasi dari berbagai sisi, baik dari sisi pasokan maupun permintaan, membuat masyarakat sulit memaksimalkan manfaat THR.
Menurut Abdul, data ekonomi juga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat memang tengah tertekan. Ia mencontohkan inflasi tahunan yang sudah mencapai sekitar 4,46%, sementara pertumbuhan upah buruh dalam tiga tahun terakhir hanya sekitar 1,49%.
“Artinya daya beli memang sudah menurun di tengah situasi ekonomi yang cukup berat,” ujarnya.
Abdul mengatakan, inflasi yang sering terjadi saat Ramadan umumnya berasal dari kelompok pangan dan harga yang diatur pemerintah, bukan dari inflasi inti yang mencerminkan peningkatan pendapatan.
“Ketika inflasi pangan dan administered prices meningkat, di situlah terlihat bahwa daya beli masyarakat sebenarnya menurun,” katanya.
Karena itu, ia menilai THR yang diberikan perusahaan lebih berfungsi sebagai penahan agar daya beli masyarakat tidak tergerus terlalu dalam di tengah tekanan inflasi dan gejolak global yang mempengaruhi harga pangan dan energi saat ini.
“Jadi adapun THR yang diberikan oleh perusahaan itu hanya mampu untuk menahan agar daya beli itu tidak tergerus secara signifikan,” katanya.