
Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja nilai tukar rupiah yang kian memburuk pada awal tahun ini membayangi kinerja emiten sektor konsumer dan kesehatan yang masih mengharapkan impor bahan baku.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai depresiasi rupiah di hadapan dolar AS akan menekan margin keuntungan emiten. Alhasil, prospek sektor konsumer dan kesehatan di 2026 dinilai cenderung selektif.
“Meski demikian, sektor konsumer dan kesehatan tetap memiliki karakter defensif, sehingga peluang menjaga kinerja masih terbuka bagi emiten dengan struktur biaya dan pricing power yang baik,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Adapun, kinerja emiten konsumer sudah tertekan sejak tahun lalu. Berdasarkan pantauan Bisnis, kinerja dua emiten konsumer raksasa seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) membukukan penyusutan laba hingga akhir kuartal III/2025.
: Efek Depresiasi Rupiah ke Saham Migas saat Harga Minyak Mendingin
Kendati kedua emiten milik Anthoni Salim itu masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang sembilan bulan 2025. Tekanan laba disebabkan oleh beban keuangan yang kian membengkak.
Lebih lanjut, Reza mengingatkan pelemahan rupiah belum dapat dipastikan membuat kinerja fundamental emiten konsumer bakal lesu sepanjang 2026. Hal itu disebabkan perusahaan tetap memiliki kemampuan untuk mengelola biaya, meneruskan kenaikan harga ke konsumen, hingga melakukan efisiensi.
Tidak lupa pada tahun ini terdapat sejumlah sentimen yang dapat menguntungkan emiten di sektor konsumer dan kesehatan. Untuk emiten konsumer, prediksi perbaikan daya beli masyarakat seiring dengan stabilnya inflasi dan berlanjutnya belanja pemerintah menjadi angin segar.
Sementara di sektor kesehatan, kesadaran masyarakat akan kesehatan hingga potensi pelonggaran kebijakan moneter global dinilai dapat menjadi katalis positif yang menopang permintaan. Dengan demikian, pertumbuhan masih dimungkinkan di tengah tekanan nilai tukar.
“Emiten yang mampu menjaga stabilitas margin pada periode volatilitas nilai tukar sebelumnya, menunjukkan bahwa tekanan kurs bersifat manageable dan temporer, bukan struktural. Oleh karena itu, pelemahan rupiah lebih berpotensi menekan kinerja jangka pendek,” katanya.
: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 13 Januari 2026
Dalam kondisi ini, Reza merekomendasikan saham-saham seperti ICBP, UNVR, hingga MYOR yang dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan nilai tukar lantaran permintaan yang cenderung inelastis.
Sementara di sektor kesehatan, KLBF direkomendasikan lantaran memiliki skala yang besar dan didominasi pasar domestik. Selain itu, KLBF juga memiliki diversifikasi produk dengan kandungan bahan baku lokal yang lebih tinggi.
Adapun pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup terkoreksi 0,13% ke level Rp16.876,50 per dolar AS. Berdasarkan data Trading Economics, posisi ini sekaligus menjadi yang tertinggi sejak April 2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.