Sektor konstruksi masih berat di 2026, cermati saran dan rekomendasi analis

Ussindonesia.co.id   JAKARTA. JAKARTA. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), misalnya, membukukan pendapatan Rp 3,90 triliun pada 2025, tumbuh 26,35% secara tahunan. Laba bersihnya melonjak 56,09% menjadi Rp 414,39 miliar. 

Senada, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatat pendapatan Rp 3,61 triliun atau naik 7,1% YoY, dengan lonjakan laba bersih hingga 115,1% menjadi Rp 175,52 miliar.

Sebaliknya, emiten BUMN karya masih mencatatkan kinerja negatif. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) membukukan rugi bersih Rp 3,92 triliun, naik 51,71% YoY. Kerugian PT PP Tbk (PTPP) bahkan melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp 6,07 triliun. 

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga mencatatkan pembengkakan rugi signifikan masing-masing hingga Rp 5,4 triliun dan Rp 9,7 triliun.

Kinerja Emiten Otomotif dan Komponen Belum Ngebut, Cermati Rekomendasi Analis

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Alexander Axell, menilai keunggulan emiten swasta ditopang pergeseran strategi ke proyek berkualitas tinggi. 

“Proyek high-quality punya margin lebih tinggi dan pembayaran lebih cepat,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (19/4/2026).

Memasuki 2026, tantangan utama sektor ini bukan lagi soal permintaan, melainkan eksekusi proyek. 

Meski target kontrak baru masih agresif, TOTL membidik Rp 5 triliun dan WIKA di atas Rp 20 triliun, kemampuan mengonversi tender menjadi proyek riil dinilai krusial di tengah kondisi makro yang ketat.

Di sisi peluang, lonjakan pembangunan data center dan masuknya investasi produsen kendaraan listrik seperti BYD di kawasan industri menjadi penopang prospek.

  TOTL Chart by TradingView  

Namun, tekanan datang dari pengalihan anggaran infrastruktur ke program lain serta meningkatnya biaya proyek.

Konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk situasi. Sejak Februari 2026, biaya konstruksi dilaporkan naik 3%–8% akibat lonjakan harga material seperti baja, semen, dan aspal, dipicu gangguan distribusi energi global. 

Kondisi ini bahkan mendorong pelaku industri mengajukan eskalasi kontrak.

Laba TOTL Melonjak 56% di 2025, Simak Rekomendasi Analis

Meski begitu, sejumlah emiten tetap optimistis. Manajemen WIKA melihat adanya potensi pemulihan industri, sementara TOTL mengantisipasi tekanan dengan efisiensi operasional dan penguatan rencana kontinjensi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kunci pemulihan BUMN karya ada pada disiplin proyek. “Yang penting harus selektif,” tegasnya.

Ia menambahkan, peluang perbaikan kinerja tetap ada jika efisiensi berjalan, inflasi terkendali, dan aliran dana asing kembali masuk. Namun, risiko tetap besar, mulai dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, hingga kenaikan pajak yang berdampak pada biaya material.

Dengan kombinasi peluang dan tekanan tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk mencermati perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil posisi. 

Prospek Sektor Pulp dan Kertas Mulai Membaik, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Sikap wait and see dinilai paling rasional, sembari mengamati kemampuan emiten, terutama BUMN karya, dalam memperbaiki margin dan eksekusi proyek di tengah kondisi yang masih menantang.