
Ussindonesia.co.id Dalam dunia pasar modal, menentukan saham mana yang layak dikoleksi untuk jangka panjang memerlukan pemahaman mendalam mengenai kinerja internal perusahaan.
Salah satu metode yang paling lazim digunakan oleh investor cerdas adalah analisis fundamental. Metode ini berfokus pada evaluasi kondisi ekonomi, keuangan, dan faktor kualitatif lainnya untuk menentukan nilai intrinsik sebuah saham.
Melansir dari laman resmi Sahabat Pegadaian, analisis fundamental adalah teknik analisis yang dilakukan dengan cara mendalami data-data laporan keuangan dan kondisi ekonomi makro.
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah harga saham suatu perusahaan saat ini sudah mencerminkan nilai wajarnya atau justru masih berada di bawah nilai sebenarnya (undervalued).
Selisih Spread Emas vs. Keuntungan Reksadana: Mana Pilihan 2026?
Faktor Kualitatif dan Kuantitatif
Investor yang menggunakan pendekatan fundamental biasanya akan membedah dua aspek utama.
Pertama adalah faktor kualitatif yang mencakup tata kelola perusahaan (good corporate governance), model bisnis, keunggulan kompetitif, hingga kualitas manajemen.
Faktor-faktor ini memberikan gambaran tentang potensi keberlanjutan bisnis perusahaan di masa depan.
Aspek kedua adalah faktor kuantitatif yang bersumber dari laporan keuangan. Dikutip dari OCBC, analisis ini melibatkan pemeriksaan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas perusahaan secara berkala.
Melalui data ini, investor dapat mengukur sejauh mana efisiensi operasional dan profitabilitas perusahaan dalam periode tertentu.
6 Rasio Keuangan Populer: Rumus dan Contoh Perhitungan
Untuk memudahkan perbandingan antar-perusahaan dalam sektor yang sama, investor sering kali menggunakan rasio keuangan.
Bersumber dari IDX Channel, terdapat enam rasio populer yang sering menjadi acuan. Berikut adalah rincian rumus matematika sederhana dan contoh perhitungannya:
1. Earnings Per Share (EPS) EPS menunjukkan laba bersih yang dihasilkan untuk setiap lembar saham yang beredar.
- Rumus: Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar
- Contoh: Perusahaan A membukukan laba bersih Rp 1 triliun dengan jumlah saham beredar 5 miliar lembar. Maka, Rp 1 triliun / 5 miliar = Rp 200 per saham.
2. Price to Earnings Ratio (PER) Rasio ini membandingkan harga saham dengan laba per lembar saham untuk melihat kewajaran harga.
- Rumus: Harga Saham / EPS
- Contoh: Jika harga saham Perusahaan A saat ini Rp 3.000 dan EPS-nya Rp 200, maka 3.000 / 200 = 15 kali.
3. Price to Book Value (PBV) PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku atau ekuitas per saham.
- Rumus: Harga Saham / Nilai Buku Per Saham
- Contoh: Perusahaan B memiliki nilai buku per saham Rp 1.000 dengan harga pasar Rp 1.500. Maka, 1.500 / 1.000 = 1,5 kali.
Jebakan Inflasi Biaya Sekolah: 5 Aset Ini Bisa Selamatkan Tabungan Anda
4. Debt to Equity Ratio (DER) Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat utang perusahaan terhadap modal sendiri.
- Rumus: Total Liabilitas (Utang) / Total Ekuitas (Modal)
- Contoh: Perusahaan C memiliki utang Rp 500 miliar dan modal Rp 1 triliun. Maka, 500 miliar / 1 triliun = 0,5 atau 50%.
5. Return on Equity (ROE) ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal yang dimiliki.
- Rumus: (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%
- Contoh: Dengan modal Rp 1 triliun, Perusahaan D mencetak laba bersih Rp 200 miliar. Maka, (200 miliar / 1 triliun) x 100% = 20%.
6. Dividend Yield Persentase ini menunjukkan keuntungan tunai yang didapat investor dari dividen dibandingkan harga saham.
- Rumus: (Dividen Per Saham / Harga Saham) x 100%
- Contoh: Perusahaan E membagikan dividen Rp 100 per saham, sementara harganya Rp 2.500. Maka, (100 / 2.500) x 100% = 4%.
Perbedaan dengan Analisis Teknikal
Sering kali investor pemula bingung dalam membedakan antara analisis fundamental dan teknikal. Mengutip penjelasan dari Mandiri Sekuritas, perbedaan mendasar keduanya terletak pada sumber data dan jangka waktu investasinya.
Analisis teknikal lebih banyak menggunakan grafik harga dan volume perdagangan di masa lalu untuk memprediksi pergerakan harga jangka pendek. Sebaliknya, analisis fundamental melihat ke dalam “jeroan” perusahaan untuk kepentingan investasi jangka menengah hingga panjang.
Tonton: Prabowo Semprot Direksi BUMN: Sudah Rugi Minta Tantiem, Tidak Tahu Malu!
Analisis fundamental membantu investor memutuskan saham apa yang harus beli, sementara analisis teknikal membantu menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan eksekusi beli atau jual.
Menurut informasi yang dilansir oleh Maybank Trade, melakukan analisis fundamental secara rutin dapat membantu investor menghindari jebakan emosi saat pasar sedang fluktuatif.
Dengan mengetahui nilai riil suatu perusahaan melalui perhitungan rasio-rasio di atas, investor cenderung lebih tenang saat harga pasar mengalami koreksi selama fundamental perusahaan tetap solid.
Analisis ini bukan sekadar membaca angka, melainkan seni dalam merangkai informasi untuk memproyeksikan masa depan sebuah bisnis.
Bagi Anda yang ingin membangun portofolio investasi yang tangguh, menguasai dasar-dasar fundamental beserta cara menghitung rasionya adalah langkah awal yang krusial.