
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sepanjang 2025 saham-saham emiten big banks kompak tertekan dan menjadi pengganjal utama laju indeks komposit. Memasuki 2026, saham-saham tersebut mulai pulih, namun tak merata. Bencana banjir Sumatra disebut menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, meskipun sentimen makro seperti penurunan suku bunga acuan (IndONIA dan SOFR) serta arus dana asing mulai kembali bersifat positif secara sektoral, dampaknya berbeda antar emiten karena pasar mulai mengantisipasi tekanan fundamental spesifik bank yang akan muncul sepanjang 2026.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang membedakan adalah ekspektasi kenaikan cost of credit (CoC) akibat dampak lanjutan banjir besar di Sumatra.
: Bank Mandiri (BMRI) Alihkan 485,3 Juta Saham Seri B ke BP BUMN
“Dokumen menunjukkan bahwa eksposur kredit ke wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berbeda signifikan antar bank, dengan BBCA memiliki eksposur paling kecil sekitar 1,7% dari total kredit, sementara BMRI dan BBRI berada di kisaran 5–6%. Perbedaan ini membuat pasar memberikan risk premium yang berbeda sejak awal tahun,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2026).
Menilik statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) per penutupan pasar Selasa (6/1/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sama-sama masuk jajaran top leaders. Keduanya masing-masing naik 1,24% dan 1,38% dan berkontribusi menopang indeks harga saham gabungan (IHSG) menyentuh level all time high (ATH) penutupan di 8.933.
: : Kisi-Kisi Kinerja Himbara (BBRI, BMRI Cs) hingga Akhir 2025 dari Ekonom
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengalami koreksi 3,37% dan berkontribusi sebesar 13,20 poin pemberat indeks komposit.
Bank Mandiri (Persero) Tbk. – TradingView
Imam melanjutkan, penurunan suku bunga yang secara teori mendukung perbankan justru mulai dipersepsikan sebagai risiko margin, bukan semata katalis positif.
: : Jadi Sasaran Jual Asing, BBRI, BMRI Cs Jeblok pada Perdagangan Perdana 2026
Penurunan IndONIA dan SOFR yang cukup tajam sejak pertengahan 2025 diperkirakan akan mendorong net interest margin (NIM) compression sebesar 10–20 bps pada 2026, terutama pada bank dengan struktur dana yang lebih sensitif terhadap re-pricing. Dalam konteks ini, bank dengan pricing power kuat dan CASA yang stabil, seperti BBCA, dipandang lebih defensif dibandingkan bank yang lebih agresif di segmen kredit tertentu.
Menurutnya, BBCA dipandang sebagai quality play dalam fase transisi siklus. Dengan eksposur risiko regional yang paling kecil, dampak banjir terhadap NPL dan laba diperkirakan minimal, yakni sekitar 1% terhadap bottom line.
“Sehingga saham ini menjadi pilihan utama ketika investor menginginkan eksposur perbankan dengan volatilitas terendah. Kenaikan BBCA di awal tahun mencerminkan rotasi ke bank dengan earnings visibility paling tinggi,” ujar Imam.
Sementara bagi BBRI, meskipun memiliki eksposur banjir lebih besar dibanding BBCA, tetap mendapatkan dukungan karena valuasi yang relatif atraktif dan dividend yield yang tinggi. Pasar menilai bahwa risiko kredit BBRI masih dapat dikelola dan sudah sebagian tercermin dalam harga, sehingga saham ini menjadi balanced play antara defensif dan valuasi.
Kemudian, bagi BMRI, menurutnya koreksi harga saham yang dialami di awal 2026 lebih mencerminkan profit-taking dan reassessment risiko, bukan perubahan fundamental struktural. Imam melihat BMRI memiliki valuasi yang relatif murah dan dividend yield yang menarik, namun ekspektasi kenaikan CoC dan potensi tekanan margin membuat pasar cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum kembali agresif.
“Dengan kata lain, pelemahan awal tahun tidak serta-merta menandakan underperformance sepanjang 2026, melainkan fase penyesuaian risiko jangka pendek,” pungkasnya.
Hari ini, Rabu (7/1/2026) saat IHSG kembali menyentuh ATH baru di 8.944 usai menguat 0,13% atau 11,20 poin, saham BBCA terkoreksi 0,31% ke Rp8.150, BBRI kembali menguat 0,54% ke Rp3.700, sedangkan BMRI melanjutkan koreksi sebesar 1,43% ke Rp4.810.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.