
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menjadwalkan pertemuan teknis dengan penyedia indeks global MSCI pada Rabu sore (4/3/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian komunikasi intensif terkait agenda reformasi dan pendalaman pasar modal Indonesia.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan diskusi akan melibatkan tim OJK, Self Regulatory Organization (SRO), serta MSCI untuk membahas proposal pembenahan pasar yang telah disampaikan sebelumnya.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah rencana kenaikan batas minimum saham beredar di publik atau free float dari 7,5% menjadi 15%. Meski demikian, Jeffrey menegaskan kebijakan free float bukanlah tuntutan utama dari MSCI.
Disentil MSCI, OJK dan BEI Gaspol Benahi Transparasi Pasar Modal
Menurut dia, langkah tersebut justru merupakan inisiatif domestik yang kemudian dimasukkan dalam proposal reformasi pasar. Pihak MSCI disebut memberikan respons positif terhadap arah pembenahan yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.
Jeffrey menambahkan, komunikasi dengan penyedia indeks global dilakukan secara berjenjang, mulai dari pembahasan kebijakan hingga aspek teknis. Upaya ini bertujuan menjaga kepercayaan investor asing sekaligus mendorong peningkatan aliran dana global ke pasar domestik.
Dalam implementasinya, BEI tidak hanya menekankan aspek kepatuhan regulasi. Bursa juga membuka ruang dialog dengan pelaku pasar untuk memastikan kebijakan berjalan seimbang dan mendukung pendalaman pasar.
“Sebagai regulator tentu kami tidak hanya mengeluarkan aturan kemudian diikuti dengan sanksi. Kami juga bisa bersama-sama dengan pelaku untuk mencari solusi bersama untuk melakukan pendalaman pasar yang lebih baik,” kata Jeffrey dalam acara CNBC Indonesia Market Outlook, Selasa (3/3/2026).
Kenaikan batas free float dinilai berpotensi meningkatkan pasokan saham di pasar. Untuk mengantisipasi dampaknya, BEI menyiapkan strategi penguatan sisi permintaan.
Dari sisi domestik, pertumbuhan investor ritel menjadi salah satu penopang utama. Sepanjang 2025, jumlah investor pasar modal bertambah 5,4 juta. Sementara sejak awal tahun hingga akhir Februari 2026, tercatat tambahan sekitar 2,5 juta investor baru.
Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah yang memberikan ruang lebih luas bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk berinvestasi di saham juga diharapkan memperluas basis permintaan institusional.
BEI turut mendorong peningkatan eksposur emiten Indonesia di pasar global melalui penguatan fungsi hubungan investor, perluasan program Public Expose Live, serta partisipasi dalam berbagai kegiatan promosi dan roadshow internasional.
OJK Perkuat Early Warning System, Deteksi Insider Trading hingga Manipulasi Pasar
Namun demikian, Jeffrey menekankan bahwa faktor fundamental emiten tetap menjadi kunci utama dalam menarik minat investor.
“Pada saat yang bersamaan emiten-emiten kita juga harus melakukan PR-nya, meningkatkan fundamentalnya, meningkatkan kinerjanya,” tegasnya.