BI naikkan yield SRBI, Prudential tak lagi masukkan SRBI dalam portofolio

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melakukan langkah proaktif untuk membentengi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian geopolitik, dengan menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil atau yield instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menyatakan terus mengkaji alokasi investasi di instrumen SRBI secara cermat, dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti dinamika pasar dan kebutuhan internal perusahaan.

“Setiap potensi penambahan maupun inisiasi alokasi pada instrumen seperti SRBI akan terus dikaji secara cermat. Kami secara aktif melakukan penyesuaian alokasi investasi sesuai dengan dinamika pasar dan kebutuhan internal perusahaan,” kata Chief Financial Officer Prudential Indonesia Adit Trivedi kepada Kontan, Kamis (14/5/2026).

LKM BKD Ponorogo Tawarkan Bunga Hingga 30% ke Nasabah, Ini Strateginya

Adit menambahkan, perubahan porsi investasi merupakan bagian dari strategi diversifikasi dan optimalisasi portofolio perusahaan, yang mempertimbangkan berbagai faktor, seperti profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta peluang investasi lainnya.

Lebih lanjut, Adit mengungkapkan penempatan instrumen investasi, termasuk pada instrumen pasar uang atau surat berharga pemerintah, dilakukan Prudential Indonesia sesuai dengan pedoman alokasi aset yang telah ditetapkan. 

“Selain itu, mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kesesuaian dengan strategi portfolio, serta imbal hasil yang bisa ditawarkan oleh instrumen investasi yang dituju,” ucap Adit.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Prudential Indonesia sempat mengalokasikan investasi di SRBI sebesar Rp 311,16 miliar per Maret 2025. Namun, perusahaan tersebut tercatat tak lagi mengalokasikan investasi di SRBI per Maret 2026.

Secara keseluruhan, Prudential Indonesia mencatatkan total investasi sebesar Rp 53,72 triliun per Maret 2026. Adapun penempatan di instrumen saham mendominasi dengan nilai sebesar Rp 26,18 triliun per Maret 2026, diikuti penempatan di instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 14,03 triliun.