
Ussindonesia.co.id – , PONTIANAK — Bank Indonesia (BI) meyakini hilirisasi industri dan diversifikasi ekspor mampu berkontribusi untuk menjaga neraca transaksi berjalan (current account) lndonesia tetap sehat meski terdapat sejumlah tantangan seperti tekanan pada kinerja ekspor komoditas dan kebutuhan impor untuk investasi.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI Juli Budi Winantya mengatakan komposisi ekspor berdasarkan neraca perdagangan Desember 2025, menunjukkan pergeseran seiring dampak kebijakan hilirisasi.
“Ekspor tidak lagi hanya berbasis sumber daya alam mentah, tetapi juga mencakup produk industri, termasuk logam dan produk kimia. Komoditas-komoditas tersebut masih menjadi penopang surplus neraca perdagangan,” kata Juli dalam pertemuan dengan redaktur media massa di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (6/2/2026).
Neraca transaksi berjalan menjadi salah satu indikator ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Dalam neraca transaksi berjalan terdapat sejumlah komponen pembayaran Indonesia dengan negara lain, yakni Neraca Jasa, Neraca Barang, Neraca Pendapatan Primer dan Sekunder. Karena itu neraca transaksi berjalan menjadi cerminan arus lalu lintas devisa, yang juga mempengaruhi kemampuan Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Lebih lanjut, Juli mengatakan diversifikasi negara tujuan ekspor juga menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja neraca perdagangan dan transaksi berjalan.
Ia menyoroti kinerja ekspor yang tidak hanya bergantung pada mitra dagang utama, tetapi juga memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara lain di luar mitra tradisional, baik untuk produk bernilai tambah lebih tinggi maupun tujuan ekspornya.
Namun, Juli menilai impor masih akan menjadi tantangan terutama untuk memenuhi kebutuhan barang modal dan bahan baku seiring berlanjutnya aktivitas investasi.
“Namun, ke depan ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang seiring kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan produksi dalam negeri, termasuk melalui penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada sejumlah sektor seperti kendaraan listrik,” kata dia.
Dengan kombinasi penguatan struktur ekspor melalui hilirisasi dan diversifikasi pasar, serta kebijakan domestik yang mendukung substitusi impor, Juli mengatakan posisi neraca transaksi berjalan Indonesia masih berada dalam kondisi yang sehat.
BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan berada di kisaran 0,1 persen – 0,9 persen untuk tahun 2026 dan pada tahun 2027 0,4 persen-1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini melebar dibandingkan realisasi defisit transaksi berjalan pada tahun 2024 yang 0,6 persen. Adapun untuk 2025, BI memproyeksikan transaksi berjalan berada di rentang 0,1 persen hingga -0,7 persen dari PDB.
Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi, otoritas moneter menetapkan proyeksi di kisaran 4,9 – 5,7 persen dan pada 2027 di sebesar 5,1 persen hingga 5,9 persen.