BRPT keluar, intip rekomendasi saham top picks terbaru Mirae Asset

Ussindonesia.co.id , JAKARTA —Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi saham-saham unggulan yang direkomendasikan pada akhir Februari 2026 dengan mengeluarkan saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT). 

Rully Arya Wisnubroto, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyampaikan pihaknya melihat lemahnya kinerja harga saham BRPT dalam 2 bulan terakhir. Mencermati pergerakan itu, lanjutnya, Mirae melakukan rotasi portofolio saham unggulan. 

Berdasarkan data Bloomberg, saham BRPT merosot 32,91% year-to-date (YtD) dari posisi Rp3.190 pada awal Januari 2026 ke level Rp2.140 per saham pada hari ini hingga pukul 15.20 WIB. 

“Kami telah keluar dari saham tersebut [BRPT] dan melakukan rotasi ke saham-saham berkualitas lebih tinggi yang menghasilkan arus kas kuat dengan visibilitas laba dan dukungan dividen yang lebih baik, yaitu ADRO, TLKM, CMRY, dan MYOR,” paparnya dalam riset, Senin (23/2/2026). 

Dalam kondisi makro yang bergejolak, lanjutnya, portofolio saham unggulan Mirae kini memprioritaskan free cash flow yang tangguh, daya tawar harga, dan kebijakan pengembalian kepada pemegang saham yang jelas, sehingga membentuk posisi yang lebih defensif sambil tetap mempertahankan eksposur siklikal selektif dengan profil risk–reward yang masih menarik. 

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Senin 23 Februari 2026

Sejalan dengan faktor-faktor tersebut, saham yang menjadi rekomendasi unggulan atau top picks Mirae terdiri atas DEWA, BRMS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan MYOR. 

Secara umum, Mirae melihat adanya ruang bagi sentimen risk on untuk menular ke pasar saham Asia pada awal pekan ini, terutama pada saham berorientasi ekspor, siklikal, dan teknologi yang sensitif terhadap perbaikan prospek perdagangan global. 

Namun, Rully menilai potensi kenaikan pasar keuangan Indonesia, baik saham, obligasi, maupun rupiah, relatif lebih terbatas dibandingkan dengan kawasan. Alasannya, investor masih berfokus pada isu-isu struktural, termasuk sorotan MSCI terhadap aspek investability dan revisi outlook peringkat Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif.

“Aliran dana asing dan kinerja aset berisiko di Indonesia dengan demikian akan sangat ditentukan oleh respons kebijakan domestik dan sinyal perbaikan tata kelola ke depan,” imbuhnya. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.