Buma Internasional Grup (DOID) catat rugi US$ 128 juta pada 2025, ini penyebabnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan sepanjang 2025 lalu, baik dari sisi top line maupun bottom line. Walau begitu, DOID terus melakukan perbaikan kinerja secara bertahap.

Pendapatan DOID menurun 16% year on year (yoy) menjadi US$ 1,48 miliar pada 2025, terutama disebabkan oleh penurunan volume. Dalam hal ini, volume overburden removal DOID turun 19% yoy menjadi 439 juta bank cubic meters (bcm), sedangkan produksi batubarra turun 6% yoy menjadi 84 juta ton.

Hasil tersebut mencerminkan gangguan pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.

Harga Batubara Naik, Simak Rekomendasi Saham dari Analis untuk Pekan Ini

EBITDA DOID turun menjadi US$ 175 juta dengan margin 14%, dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA DOID mencapai US$ 207 juta dengan margin 17%.

DOID juga membukukan rugi bersih sebesar US$ 128 juta pada 2025 yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat (AS).

Faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$ 41 juta dari investasi Grup di 29Metals seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun, keuntungan selisih kurs sebesar US$ 36 juta, serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi pada 2026.

Rupiah Dibuka Stabil di Rp 16.980 Per Dolar AS Hari Ini (30/3), Mayoritas Asia Turun

Selain itu, DOID membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$ 8 juta, dibandingkan periode sebelumnya yang negatif US$ 60 juta. Khusus pada kuartal IV-2025 saja, DOID membukukan arus kas bebas sebesar US$ 57 juta, sehingga menjadikannya capaian arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun.

Belanja modal atau capital expenditure (capex) DOID tetap terjaga secara disiplin sebesar US$ 179 juta pada 2025 atau relatif stabil dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth).

Kinerja operasional DOID meningkat secara progresif sepanjang tahun berkat dukungan eksekusi dan disiplin biaya yang lebih kuat. Perbaikan struktural di BUMA Indonesia mendorong peningkatan secara kuartalan yang konsisten, di mana overburden removal meningkat dari 76 juta bcm pada kuartal I-2025 menjadi 79 juta bcm pada kuartal IV-2025.

Peningkatan ini ditopang oleh perbaikan yang terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional (bottlenecks).

Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6%, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3% yang menghasilkan biaya unit (unit cost) yang lebih rendah atau turun dari US$ 2,22 per bcm pada kuartal I-2025 menjadi US$ 1,83 per bcm pada kuartal IV-2025.

Di tingkat Grup DOID, perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif, dengan EBITDA meningkat dari US$ 14 juta pada kuartal I-2025 menjadi US$ 48 juta pada kuartal IV-2025, sehingga mencerminkan perbaikan bertahap (sequential improvement) yang kuat sepanjang tahun.

IHSG Melemah Pada Perdagangan Senin (30/3) Pagi, BRPT, DSSA, BREN Top Losers LQ45

Direktur Buma International Grup Iwan Fuad Salim mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi DOID. Gangguan yang DOID hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan perusahaan dapat

diperkuat.

DOID pun merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan.

“Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Jumat (27/3/2026).

Selama 2025, DOID menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada Februari 2025, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dalam fasilitas sindikasi sebesar US$ 1 miliar yang memperluas basis pendanaan DOID.

Pada Maret 2025, DOID menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp 2 triliun (US$ 121,7 juta), yang merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam Satu Kali Penerbitan di Indonesia, diikuti penerbitan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp 884 miliar (US$ 53,8 juta) pada Oktober 2025.

Berlanjut pada November 2025, DODI melunasi lebih awal Senior Notes sebelum jatuh tempo senilai US$ 212 juta, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini memposisikan DOID dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, DOID berhasil mengamankan tiga kontrak signifikan yang mencakup operasional di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar AUD 740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027.

Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak dua jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup sekitar 239 juta bcm overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara, sehingga memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.

Di luar jasa pertambangan, DOID terus mendorong strategi diversifikasinya. DOID memegang kepemilikan saham sebesar 22,60% di 29Metals, perusahaan pertambangan yang tercatat di bursa Australia dan berfokus pada tembaga, dengan eksposur tambahan terhadap seng, emas, dan perak, di mana DOID merupakan pemegang saham terbesar.

Atlantic Carbon Group, Inc., produsen antrasit ultra-high-grade yang 71% sahamnya dimiliki oleh DOID dengan tiga tambang aktif di Pennsylvania terus menunjukkan peningkatan stabilitas dan kinerja operasionalnya. DOID juga memegang 44,15% saham di Asiamet Resources Limited, pemilik BKM Copper Project di Indonesia, aset pengembangan tembaga berkadar tinggi dengan umur tambang lebih dari 10 tahun.

Iwan menyebut, DOID memasuki tahun 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin.

“Prioritas kami jelas, yaitu mendorong keunggulan operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, memperkuat pengelolaan kas, serta mewujudkan pemulihan menjadi kinerja keuangan yang konsisten, sembari terus mengejar pertumbuhan baik secara organik maupun anorganik,” tutup Iwan.