
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Analis menilai dampak penyesuaian indeks FTSE Russell terhadap pasar saham Indonesia relatif terbatas, seiring mayoritas sentimen negatif telah lebih dulu direspons pasar dalam beberapa bulan terakhir.
Chief Economist dan Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menyebut tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sebelumnya datang secara bertubi-tubi, mulai dari isu risiko fiskal, kekhawatiran atas independensi Bank Indonesia, kebijakan Morgan Stanley Capital International atau MSCI rebalancing freeze, hingga penurunan outlook oleh Moody’s.
Setelah tekanan bertubi-tubi tersebut, isu FTSE dinilai tidak lagi menjadi faktor dominan.
“Kami rasa isu FTSE Russell sudah tidak banyak berdampak. Hari ini juga terlihat IHSG justru menguat,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
: FTSE Russell Tunda Evaluasi Indeks RI, Persepsi Investor Global jadi Sorotan
Adapun IHSG pada Selasa (10/2/2026) ditutup naik 99,87 basis point atau 1,24% ke level 8.131,74,34.
Rully menambahkan volatilitas pasar memang masih berpotensi berlanjut hingga Mei. Namun, sumber utama fluktuasi lebih banyak berasal dari dinamika MSCI ketimbang FTSE Russell.
Di sisi lain, langkah regulator pasar modal untuk meningkatkan keterbukaan kepemilikan saham hingga 1% dinilai sebagai sinyal yang sangat positif. Kebijakan ini dianggap menjawab kekhawatiran utama lembaga indeks global, termasuk MSCI dan FTSE, terkait transparansi dan kualitas tata kelola pasar.
“Keterbukaan sampai 1% itu langkah yang sangat positif karena menjawab inti kekhawatiran MSCI dan FTSE. Dan ini bukan hanya soal keterbukaan 1% semata, tapi mencakup perbaikan secara menyeluruh,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti intensitas koordinasi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dinilai semakin solid. Implementasi keterbukaan kepemilikan hingga 1% dijadwalkan mulai berlaku Februari ini, menjadi katalis struktural bagi peningkatan kepercayaan investor.
Sebelumnya, penyedia indeks FTSE Russell mengumumkan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026 karena pertimbangan periode reformasi pasar modal.
“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.
Selanjutnya, FTSE Russell akan terus memantau perkembangan rencana reformasi tersebut dan akan memberikan pembaruan sebelum tanggal pengumuman peninjauan kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Juni 2026, yaitu pada Jumat, 22 Mei 2026.
Sebagai informasi, FTSE Russell adalah anak perusahaan dari London Stock Exchange Group dan merupakan merger antara FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan Frank Russell Company. Saat ini FTSE Russell mengelola ratusan indeks global yang digunakan sebagai acuan utama investor institusi dalam mengelola portofolio.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.