Danantara alihkan saham emiten BUMN ke BP BUMN, simak rekomendasinya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperkirakan bisa mendapat katalis positif dari aksi pengalihan saham dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Badan Pengaturan (BP) BUMN.

Kemarin (7/1/2026), Danantara melakukan pengalihan sejumlah saham emiten BUMN kepada BP BUMN. Dalam keterbukaan informasi tanggal 7 Januari 2026, para emiten pelat merah masing-masing mendapatkan surat terkait pemberitahuan penandatanganan perjanjian pengalihan saham dari PT Danantara Asset Management (DAM) kepada BP BUMN.

Emiten BUMN yang telah mengumumkan pengalihan saham tersebut berasal dari berbagai klaster. Dari BUMN Karya, ada PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT PP Tbk (PTPP).

Pada sektor infrastruktur transportasi, DAM mengalihkan kepemilikan saham di PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kepada BP BUMN.

Danantara Alihkan Saham BUMN Karya, Ini Tujuannya

Lalu, pada klaster Bank Himbara, DAM mengalihkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Selain itu, DAM turut mengalihkan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Dalam surat tersebut, Kepala BP BUMN Dony Oskaria bilang, saham Seri B milik DAM yang dialihkan kepada BP BUMN akan diklasifikasikan menjadi saham Seri A Dwiwarna.

Sehingga, kepemilikan saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN pada masing-masing emiten tersebut menjadi 1%.

Sayangnya, BP BUMN tak memberikan penjelasan lebih lanjut ketika dihubungi oleh KONTAN.

Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, melihat pengalihan sebagian saham dari Danantara ke BP BUMN yang bertujuan memenuhi kepemilikan minimal 1% sesuai UU 16/2025 pada dasarnya bersifat administratif dan tata kelola, sehingga dampak langsung terhadap fundamental keuangan emiten relatif terbatas.

Namun demikian, keberadaan BP BUMN sebagai pemegang saham resmi berpotensi memperkuat fungsi pengawasan, koordinasi, dan arah strategis antar-BUMN.

“Khususnya dalam hal sinergi proyek, efisiensi belanja modal, serta perbaikan tata kelola,” katanya kepada Kontan, Kamis (8/1).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan prospek emiten BUMN pasca pengalihan saham 1% ke BP BUMN dinilai positif karena menciptakan pemisahan fungsi yang jelas antara regulator dan operator sesuai amanat UU 16/2025.

BP BUMN diprediksi mampu mendorong kinerja secara signifikan melalui penguatan tata kelola (good corporate governance/GCG) dan pengawasan pencapaian target kinerja (KPI) yang lebih objektif. Sementara, Danantara bertindak sebagai pengelola investasi yang lebih lincah dan berorientasi pasar.

Rencana Merger BUMN Farmasi Bisa Jadi Katalis untuk INAF, KAEF dan PEHA

“Kehadiran struktur baru ini memberikan sentimen positif bagi investor karena meningkatkan profesionalisme manajemen serta memberikan perlindungan hukum bagi direksi melalui prinsip Business Judgment Rule yang ditegaskan dalam regulasi terbaru,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (8/1).

Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, mengatakan dampak dari aksi tersebut lebih ke administratif dan tata kelola.

“Peran BP BUMN itu fungsi pengawasan, sementara mesin cetak nilai dan strategi investasi tetap di Danantara,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (8/1).

Di tahun 2026, kata David, peluang emiten BUMN datang dari sektor berbasis komoditas seperti PT Timah Tbk (TINS) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), yang berpotensi mencatat kinerja lebih solid seiring kebijakan pemerintah terkait pembatasan produksi komoditas. Sentimen itu bisa menopang harga dan margin usaha.

Di sisi lain, tantangan masih membayangi BUMN konstruksi seperti WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP. “Terutama akibat tekanan leverage yang tinggi, keterbatasan arus kas, sensitivitas terhadap pergerakan suku bunga, serta risiko keterlambatan realisasi proyek,” ungkapnya.

Ke depan, konsolidasi dan sinergi BUMN berpeluang menjadi katalis positif apabila diiringi dengan restrukturisasi utang yang efektif, fokus pada proyek yang lebih selektif dan berprofitabilitas tinggi, serta peningkatan efisiensi operasional.

“Sehingga mampu memperbaiki kinerja keuangan secara bertahap dan meningkatkan kepercayaan investor,” paparnya.

Abida melihat peluang emiten BUMN pada tahun 2026 bersumber dari stimulus fiskal pemerintah dalam APBN, potensi penurunan suku bunga BI Rate ke level 4,75%, serta program pembangunan strategis nasional yang mendorong permintaan di sektor industri dasar dan infrastruktur.

Tantangan utama meliputi ketidakpastian geopolitik global yang menekan nilai tukar Rupiah dan beban keuangan tinggi pada sektor konstruksi yang masih dalam tahap pemulihan.

Saham perbankan (BMRI, BBRI, BBNI), telekomunikasi (TLKM), dan infrastruktur jalan tol (JSMR) diprediksi tampil unggul karena fundamental yang kuat serta strategi monetisasi aset yang progresif.

“Konsolidasi melalui merger tujuh BUMN Karya menjadi tiga induk usaha pada kuartal I 2026 diharapkan menjadi katalisator kuat untuk memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan efisiensi operasional sektor konstruksi secara menyeluruh,” ungkapnya.

Meneropong Prospek Kinerja Emiten BUMN di 2026 dan Saham Rekomendasi Analis

Abida merekomendasikan beli untuk BMRI, BBNI, JSMR, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 5.500 per saham, Rp 4.700 per saham, Rp 4.750 per saham, dan Rp 4.000 per saham.

Sentimen untuk BMRI didukung dominasi segmen korporasi, sementara BBNI bervaluasi menarik dan imbal hasil dividen yang kompetitif.

Di sektor infrastruktur, kinerja JSMR terdorong optimalisasi ruas tol baru dan potensi penurunan beban bunga. Untuk TLKM, katalis sentimen berasal dari ekspansi pusat data dan unit InfraCo.

Menurut Wafi, peluang kinerja emiten BUMN di tahun 2026 ada di penurunan biaya dana dan konsolidasi BUMN Karya. Sektor perbankan tampak tetap menarik karena kinerja fundamental yang solid.

“Rencana merger BUMN Karya bisa menjadi sentimen positif, tetapi masih ada tantangan dari utang warisan dan fluktuasi biaya bahan baku,” katanya.

Wafi pun merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, dan JSMR, dengan target harga masing-masing Rp 7.900 per saham, Rp 6.000 per saham, dan Rp 5.600 per saham.

“Untuk BUMN Karya masih wait & see sampai urusan merger selesai,” tuturnya.