Di tengah tekanan industri rokok, HMSP menebar dividen jumbo yield di atas 7%

Ussindonesia.co.id JAKARTA.   Di tengah muramnya bursa saham tetap terselip kabar gembira.  Apalagi kalau bukan dividen.Salah satunya dari PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang kembali menghadirkan dividen jumbo bagi pemegang saham, Dividen itu di tengah tekanan industri hasil tembakau nasional.

Emiten rokok tersebut memutuskan membagikan dividen tunai final sebesar Rp 6,55 triliun atau Rp 56,3 per saham dari laba tahun buku 2025. Dengan asumsi harga saham terkini, dividend yield HMSP berada di atas 7%.

Keputusan pembagian dividen tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) HMSP, Senin (18/5). Nilai dividen tahun ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 56,2 per saham atau senilai Rp 6,54 triliun.

Di balik konsistensi pembagian dividen, HMSP mencatatkan laba bersih yang relatif stabil sebesar Rp 6,6 triliun sepanjang 2025. Perseroan juga membukukan kenaikan laba bruto 11,2% menjadi Rp20,6 triliun, ditopang strategi penetapan harga di tengah kondisi pasar yang menantang.

Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi mengatakan, perseroan tetap. mempertahankan posisi sebagai pemimpin industri hasil tembakau nasional dengan pangsa pasar 30,7% dan volume penjualan mencapai 79,4 miliar batang.

“Kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang,” ujar Ivan dalam RUPST.

Meski demikian, industri hasil tembakau masih menghadapi berbagai tekanan. Mulai dari pelemahan daya beli masyarakat, tren downtrading ke produk lebih murah, hingga maraknya rokok ilegal. Kondisi tersebut membuat penjualan industri hasil tembakau nasional turun sekitar 3% sepanjang 2025.

SMGR Bubarkan Sejumlah Anak Usaha, Analis Sebut Sebagai Langkah Efisiensi Grup

Tekanan terbesar terjadi pada segmen Rokok Golongan I dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang padat karya. HMSP mencatat volume penjualan turun 8,7% pada kuartal I-2026, dengan penurunan terbesar berasal dari kategori SKT.

Salah satu angin segar adalah keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai pada 2026. Menurut Ivan, kebijakan tersebut memberi ruang bagi industri legal untuk tetap menjaga kontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja.

HMSP juga menegaskan komitmennya menjaga keberlangsungan segmen SKT yang menyerap sekitar 70.000 tenaga pelinting, mayoritas perempuan, melalui enam fasilitas produksi milik perseroan dan 43 fasilitas produksi milik koperasi serta pengusaha daerah di Pulau Jawa.

Selain itu, HMSP mengklaim terus memperkuat kontribusi ekonomi nasional melalui kemitraan dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih, jaringan lebih dari 1,5 juta toko ritel, serta penciptaan sekitar 90.000 lapangan kerja di Indonesia.

Dalam RUPST, HMSP juga menyetujui perubahan susunan direksi. Perseroan menerima pengunduran diri Elvira Lianita dan menunjuk Joy Kartika Widjaja, Virawaty, serta Umer Jawaid sebagai anggota direksi baru efektif setelah RUPST 2026 ditutup.