Di tengah transisi hijau, TOBA siapkan tiga aksi: dividen, buyback dan rights issue

Ussindonesia.co.id JAKARTA.  PT TBS Energi Utama Tbk baru saja memberikan pengumuman penting yang mendapat sorotan pelaku pasar. Melalui keterbukaan informasi terkait pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), emiten berkode saham TOBA ini mengungkap tiga aksi korporasi strategis pada Rabu (25/3). 

Ketiganya yaitu penggunaan sebagian saldo laba untuk pembagian dividen, pembelian kembali (buyback) saham dan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).

Agenda permohonan persetujuan pembagian dividen masuk RUPST. Sedangkan buyback saham dan PMHMETD ada di agenda RUPSLB. Langkah korporasi ini hadir di tengah upaya TOBA yang sedang menjalankan transisi bisnis menyeluruh dari energi konvensional ke sektor hijau, fokus pada pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Andhika Audrey analis BRI Danareksa Sekuritas menilai, semua itu merupakan aksi korporasi strategis yang menarik dan layak mendapat perhatian dari investor.

Menurutnya penggunaan sebagian saldo laba untuk pembagian dividen dan buyback saham akan meningkatkan nilai bagi pemegang saham sementara PMHMETD menjadi landasan fondasi penguatan modal untuk ekspansi jangka menengah panjang.

 

“Hal yang lazim biasanya tiga agenda aksi korporasi strategis semacam ini dimintakan restu dalam RUPS secara sekaligus agar lebih efisien secara waktu juga” kata Andhika, dalam keterangannya, Rabu (26/3). 

 

Yang menarik, menurutnya, meski membukukan rugi bersih di tahun 2025 akibat rugi non-kas dan akuntansi dari divestasi PLTU, TOBA masih bisa membagikan dividen.

 

“Secara historis TOBA adalah emiten yang dividend paying, tahun 2025 memang ada kerugian non-kas karena transisi aset ke bisnis hijau, tapi saldo laba masih positif dari keuntungan tahun-tahun sebelumnya jadi masih bisa bagi dividen. Hal ini juga menunjukkan fundamental bisnis TOBA tetap kuat di tengah periode transisi,” ungkapnya.

 

Meskipun mencatat rugi bersih non-kas pada tahun 2025 akibat divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uapn (PLTU) sebagai bagian transisi, TOBA tetap mencapai EBITDA disesuaikan positif dan saldo kas sebesar US$ 102,3 juta. Naik 15% dari tahun sebelumnya.

Cermati Rekomendasi Saham TBS Energi Utama (TOBA) yang Buyback 825 Juta Saham

 

Transformasi ini mulai membuahkan hasil. Pendapatan dari bisnis berkelanjutan mencapai US$ 164,1 juta pada tahun 2025, naik 738% (yoy), dengan kontribusi pengelolaan limbah mencapai 41% dari total pendapatan.

 

Raka Junico, analis MNC Sekuritas menyatakan, selain dividen, buyback juga diharapkan memainkan peran penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar terkait fundamental dan value saham TOBA.  “Ini artinya manajemen punya keyakinan, harga saham saat ini belum benar-benar mencerminkan valuasi wajarnya,” kata Raka.

 

Menurut dia, selain saldo laba yang masih positif, arus kas TOBA yang solid turut mendukung kemampuan untuk melakukan dua aksi korporasi ini secara sekaligus. “Ini menjadi combo booster untuk para investor TOBA, ada arus kas yang masuk dalam bentuk dividen dan ada demand di market terhadap saham TOBA nantinya jika agenda ini disetujui dalam RUPS” tambah Raka.

 

Percepatan pergeseran portofolio TOBA membutuhkan penguatan modal yang diyakini akan difasilitasi melalui aksi PMHMETD untuk mendukung ambisi ekspansi jangka panjang.

 

“Skema rights issue bisa memfasilitasi investor strategis untuk masuk dan ambil bagian dalam pertumbuhan jangka panjang suatu perusahaan. Ini yang menjadi keuntungannya,” kata Raka.

Sedangkan Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menilai, TOBA masih memiliki peluang untuk kembali mencetak laba bersih di tahun ini. 

Apalagi, tidak ada kerugian one-off dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara seperti tahun lalu. “Kontribusi segmen non-batubara juga bisa naik secara proporsional, seiring menyusutnya pendapatan fosil dan mulai beroperasinya aset hijau hasil akuisisi,” ungkap Wafi.

Wafi memperkirakan, TOBA akan kembali agresif melakukan ekspansi dengan mengandalkan dana hasil divestasi. Hanya saja, ia memprediksi, segmen bisnis hijau yang sedang dalam fase transisi belum sepenuhnya bisa menggantikan arus kas batubara.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta sepakat, TOBA punya modal berharga untuk kembali mengangkat kinerja pada tahun ini. Salah satunya, ekspansi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Batam yang berkapasitss 46 megawatt peak (MWp) dengan target operasional 2026. Ada potensi listrik dari PLTS ini bisa diekspor ke Singapura.

Selain itu, sinergi antara TOBA melalui merek Electrum dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan semakin memperkuat rantai pasok bisnis emiten ini di segmen sepeda motor listrik.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham TOBA dengan target harga di level Rp 760 per saham. Sedangkan Wafi merekomendasi beli TOBA dengan target harga Rp 660 per saham.