
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) diproyeksikan membukukan kinerja lebih baik pada 2026, ditopang potensi kenaikan permintaan batubara di tengah ancaman krisis pasokan energi global.
Momentum ini juga dibarengi langkah agresif perseroan dalam memperluas bisnis di luar batubara.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai, konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global yang justru menjadi katalis positif bagi ekspor batubara DSSA, terutama ke pasar Asia.
Lonjakan permintaan tersebut diharapkan mampu mengimbangi normalisasi harga batubara sekaligus memulihkan margin yang sempat tertekan.
Kinerja Dian Swastatika (DSSA) Lesu pada Kuartal III 2025, Laba Bersih Turun 27,31%
Sepanjang 2025, kinerja DSSA memang melemah. Pendapatan usaha turun 7,62% secara tahunan menjadi US$ 2,79 miliar, sementara laba bersih anjlok 25,41% menjadi US$ 230,54 juta. Kondisi ini membuat optimalisasi kinerja di 2026 menjadi krusial.
Wafi menekankan, untuk memaksimalkan peluang tersebut, DSSA perlu menjaga efisiensi biaya operasional serta memperkuat kontrak penjualan jangka panjang dengan pembeli utama.
Di saat yang sama, dorongan pertumbuhan juga harus datang dari bisnis non-batubara.
Pasca konsolidasi MyRepublic, DSSA dinilai perlu mempercepat penetrasi pasar fixed broadband serta mengakselerasi pembangunan dan komersialisasi aset panas bumi.
Diversifikasi Bisnis, Simak Rekomendasi Saham Indo Tambangraya (ITMG)
“DSSA berpeluang besar melanjutkan ekspansi di sektor ini sejalan dengan agenda transisi energi,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Kontribusi bisnis non-batubara mulai terlihat. Pendapatan dari segmen TV kabel, internet, dan layanan digital melonjak menjadi US$ 211,79 juta pada 2025, dari US$ 144,08 juta pada 2024.
Pertumbuhan ini ditopang ekspansi layanan internet melalui MyRepublic Indonesia serta mulai beroperasinya pusat data komersial milik SMPlus Sentra Data Persada (SM+).
Di sektor energi baru, DSSA juga mempercepat pengembangan energi surya dan panas bumi.
Perseroan telah mengoperasikan pabrik panel surya berkapasitas 1 gigawatt di KEK Kendal, serta mengembangkan proyek panas bumi berpotensi 440 megawatt melalui DSSR Daya Mas Sakti.
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Resmi Jalin Kerja Sama dengan Produsen EBT Filipina
Proyek panas bumi ini diproyeksikan menjadi sumber energi hijau baseload. Saat ini, eksplorasi berlangsung di enam wilayah, mulai dari Jawa Barat, Sumatra, hingga Flores dan Sulawesi Tengah.
Presiden Direktur DSSA L. Krisnan Cahya menegaskan, pengembangan energi terbarukan menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
DSSA Chart by TradingView
“Ke depan, DSSA akan terus memperkuat portofolio bisnis yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan energi berkelanjutan,” ujarnya.
Namun, analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengingatkan, perbaikan kinerja DSSA belum akan signifikan jika masih bergantung pada batubara.
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Kantongi Restu Untuk Gelar Stock Split 1:25
Ia menilai kontribusi bisnis non-batubara masih terbatas karena berada pada tahap awal pengembangan.
Dari sisi rekomendasi, Nafan menyarankan investor bersikap wait and see terhadap saham DSSA.
Sementara Wafi merekomendasikan hold, dengan pertimbangan fundamental perseroan yang dinilai solid serta diversifikasi bisnis yang terus berkembang.