Dibayangi sentimen geopolitik, begini prospek pasar obligasi

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Pasar obligasi dibayangi sentimen geopolitik karena memanasnya eskalasi di Timur Tengah. Perkembangan eskalasi, kebijakan suku bunga, data ekonomi menjadi sejumlah faktor yang menentukan.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, prospek pasar obligasi setelah Fitch merevisi outlook Indonesia menjadi negatif pada dasarnya akan lebih menantang dalam jangka pendek. Akan tetapi belum berubah menjadi situasi yang buruk secara menyeluruh. 

“Yang paling terasa adalah kenaikan kehati-hatian investor, terutama untuk obligasi tenor menengah dan panjang, karena pasar akan meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas naiknya persepsi risiko kebijakan dan fiskal,” 

Namun perlu ditekankan, Fitch tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB, sehingga Indonesia masih berada dalam kelompok yang layak investasi. Artinya, dampaknya lebih berupa penyesuaian harga dan kenaikan imbal hasil, bukan hilangnya minat investor secara total. 

Di sisi lain, Josua melihat penopang pasar obligasi Indonesia masih ada, yaitu proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang masih berada di kisaran 4,9% – 5,7% menurut Bank Indonesia, sasaran defisit anggaran resmi yang masih dijaga di 2,68% terhadap produk domestic bruto (PDB). Serta asumsi rerata imbal hasil SBN 10 tahun dalam APBN 2026 sebesar 6,9%. 

“Jadi, prospek pasar obligasi saya nilai masih cukup baik, tetapi akan lebih selektif, lebih mudah bergejolak, dan sangat sensitif terhadap perkembangan kebijakan serta arus modal asing,” terang Josua. 

Ketegangan Timur Tengah Naikkan Permintaan Safe Haven, dari Emas hingga Obligasi

Josua menambahkan, sentimen geopolitik di Timur Tengah berdampak cukup nyata terhadap pergerakan imbal hasil SBN melalui tiga jalur utama. Pertama, kenaikan harga minyak mendorong kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran suku bunga. Kedua, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tekanan arus keluar dan pelemahan rupiah. Ketiga, jika harga minyak bertahan tinggi, pasar mulai menghitung risiko fiskal karena subsidi dan kompensasi energi bisa membesar. Data terbaru menunjukkan pengaruh ini sudah terlihat, meski belum menjadi tekanan yang tidak terkendali. OJK mencatat rata-rata imbal hasil SBN naik 1,76 poin dasar secara bulanan dan 10,04 poin dasar sejak awal tahun sampai akhir Februari 2026. 

“Jadi, dampak geopolitik Timur Tengah terhadap SBN saat ini saya nilai cukup kuat, tetapi masih bersifat terukur. Tekanannya akan jauh lebih besar bila konflik berkepanjangan, jalur energi terganggu, atau harga minyak bertahan tinggi di atas asumsi anggaran,” jelas Josua. 

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana mengatakan, kekhawatiran inflasi terus meningkatkan risiko bahwa Federal Reserve mungkin mempertahankan sikap kebijakan yang relatif hawkish, meskipun tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja masih memberikan ruang untuk potensi penurunan suku bunga. 

“Harga pasar menunjukkan penurunan suku bunga pertama menuju kisaran 3,25% – 3,50% dapat terjadi pada pertemuan FOMC September 2026, dengan probabilitas sekitar 43%,” ucap Fikri. 

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) yang pulih ke level 99 di tengah suku bunga AS yang terus tinggi, mendukung penguatan dolar. Pada saat yang sama, meningkatnya ekspektasi inflasi dan kekhawatiran atas pasar tenaga kerja yang lebih lemah telah mempersempit selisih imbal hasil jangka panjang dan pendek, khususnya pada kurva Treasury AS 10 tahun dan 2 tahun.

SR024 Beri Kupon 5,9%, Ekonom Nilai Tawarannya Masih Menarik

Di dalam negeri, meningkatnya ekspektasi inflasi dan kekhawatiran atas defisit fiskal yang melebar tetap menjadi risiko utama bagi pasar. Pada Februari 2026, pengeluaran pemerintah pusat melonjak 41,9% yoy menjadi Rp 493,8 triliun, sebagian besar didorong oleh pelaksanaan anggaran yang dipercepat oleh kementerian dan lembaga (K/L), yang melonjak 85,4% yoy. 

“Perkembangan ini dapat memperintensifkan tekanan pasokan SBN pada semester pertama 2026, menimbulkan kekhawatiran atas posisi durasi di pasar obligasi,” kata Fikri. 

Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto menilai risiko Bank Indonesia (BI) mempertahankan sikap hawkish semakin meningkat. Meskipun arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada berapa lama ketegangan geopolitik berlanjut, kemungkinan kenaikan suku bunga tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan lagi. 

Analisis Vector Autoregressive (VAR) yang dilakukan BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa peningkatan 100bps pada imbal hasil SBN 10 tahun secara historis diikuti oleh kenaikan 11,5bps pada suku bunga kebijakan BI dengan jeda sekitar satu bulan, menunjukkan bahwa pasar obligasi sering bertindak sebagai indikator utama untuk penyesuaian kebijakan.

“Jika tekanan imbal hasil (yield) tetap berlanjut, BI mungkin terpaksa mengadopsi sikap kebijakan yang lebih defensif. Risiko ini akan menjadi lebih nyata jika imbal hasil SBN 10 tahun bergerak di atas 7% sementara rupiah melemah di bawah Rp 17.000 per dolar AS. Dalam situasi seperti itu, BI mungkin memiliki ruang yang lebih sedikit untuk memprioritaskan dukungan pertumbuhan dan mungkin perlu fokus pada pemulihan kepercayaan dan stabilitas pasar,” jelas Helmy. 

Terkait strategi investasi, Josua Strategi investor untuk mengoptimalkan hasil dalam kondisi sekarang sebaiknya tidak terlalu agresif dan lebih menekankan disiplin masuk bertahap. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, pendekatan yang paling masuk akal adalah membagi pembelian ke beberapa waktu agar tidak terjebak membeli seluruh posisi saat pasar sedang tegang. Untuk investor yang lebih konservatif, fokus pada tenor pendek sampai menengah lebih aman karena gejolak harganya lebih kecil. 

Yield Naik Terbatas, Return Obligasi Tetap Positif, Ini Pendorongnya

Adapun, untuk investor yang siap menahan fluktuasi, tenor menengah sampai 10 tahun bisa mulai dikumpulkan bertahap saat imbal hasil naik, karena ada peluang keuntungan harga jika tekanan global mereda dan ruang penurunan suku bunga kembali terbuka. Kuncinya adalah jangan hanya melihat tingkat kupon, tetapi juga mencermati arah rupiah, harga minyak, dan sikap Bank Indonesia. 

“Selama Bank Indonesia masih menahan suku bunga di 4,75% dengan fokus menjaga stabilitas rupiah, dan transmisi penurunan suku bunga ke perbankan masih terbatas, pasar obligasi cenderung bergerak berdasarkan sentimen global. Karena itu, kombinasi tenor yang beragam, pembelian bertahap, dan menjaga sebagian dana dalam posisi likuid menurut saya menjadi strategi yang paling rasional saat ini,” jelas Josua. 

Terkait proyeksi yield SBN, Josua memproyeksikan imbal hasil SBN 10 tahun pada kuartal II – 2026 yang paling masuk akal berada di 6,50% – 6,85%, dengan kecenderungan pusat di sekitar 6,60% – 6,70%. Dasarnya, imbal hasil SBN 10 tahun sudah bergerak naik dari sekitar 6,04%-6,05% pada awal Januari, menjadi sekitar 6,31% pada 20 Januari. Lalu ke 6,35%-6,36% pada akhir Januari, 6,38% pada pertengahan Februari, dan sempat tercatat 6,458% pada 24 Februari. 

“Dengan kata lain, arah dasarnya sudah menanjak bahkan sebelum ketegangan Timur Tengah mencapai puncak,” imbuh Josua. 

Dalam skenario dasar, Josua mengatakan, jika harga minyak tidak melonjak terlalu tinggi, rupiah tetap relatif terjaga, dan tidak ada arus keluar besar dari pasar obligasi, imbal hasil masih bisa bertahan di bawah 6,9%. Namun bila konflik geopolitik memburuk, harga minyak naik tajam, dan rupiah mendekati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, maka imbal hasil 10 tahun berisiko bergerak ke kisaran 6,90% – 7,20%.

“Sebaliknya, bila tensi geopolitik mereda dan kepercayaan investor pulih, imbal hasil bisa turun kembali ke sekitar 6,30% – 6,45%,” pungkas Josua.

Kapitalisasi IHSG Turun 7,89%, BEI Catat Obligasi Baru Senilai Rp 2,99 Triliun