Dirut Abadi Lestari Indonesia (RLCO) Edwin Pranata percaya investasi jangka panjang

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah dinamika pasar keuangan yang sarat volatilitas, tidak semua investor memilih bersikap reaktif terhadap pergerakan harga jangka pendek. Sebagian pelaku pasar justru tetap berpegang pada strategi investasi jangka panjang sebagai pijakan utama dalam mengelola portofolionya.

Pendekatan ini lah yang juga diterapkan oleh Direktur Utama PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), Edwin Pranata. Ia secara konsisten mengadopsi strategi investasi jangka panjang, dengan fokus pada keberlanjutan kinerja dan nilai fundamental, alih-alih merespons fluktuasi pasar dalam jangka pendek.

Dalam mengelola portofolio investasinya, Edwin memegang prinsip utama untuk tidak mengejar keuntungan instan. Ia menilai investasi seharusnya dirancang dengan horizon waktu yang cukup panjang agar potensi pertumbuhan dapat terealisasi secara optimal.

“Jadi saya enggak mengejar keuntungan cepat, investasi itu selalu jangka panjang. Horizonnya bisa dua tahun minimal atau bahkan lebih,” kata Edwin kepada Kontan, Senin (22/12/2025).

Chandra Asri Pacific (TPIA) Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Begini Pandangan Analis

Selain menentukan horizon investasi, Edwin juga menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap instrumen yang dipilih. Ia meyakini bahwa keputusan investasi yang baik harus didasarkan pada pengetahuan yang memadai. Dengan begitu, setiap investor mampu mengambil keputusan secara lebih terukur.

Prinsip berikutnya yang tak kalah penting adalah pengelolaan risiko. Edwin menyadari setiap keputusan investasi selalu mengandung risiko, sehingga perlu disertai perhitungan dan mitigasi yang matang.

Edwin juga bilang penerapan strategi investasi jangka panjang bukanlah sesuatu yang terbentuk sejak awal. Pendekatan ini berkembang secara bertahap, seiring dengan pengalaman dan proses belajar yang dilalui selama bertahun-tahun berinvestasi.

Edwin mengungkapkan filosofi investasi yang kini ia pegang lahir setelah melalui berbagai keputusan investasi di masa lalu. Dari sejumlah pengalaman tersebut, ia mulai menarik benang merah mengenai pendekatan yang paling sesuai dengan karakter dan tujuan investasinya.

“Filosofi investasi jangka panjang baru muncul setelah beberapa tahun berjalan. Bahkan kalau melihat ke belakang, dulu pendekatan saya sempat bertolak belakang dengan prinsip yang sekarang,” ujarnya.

Menilik Potensi January Effect pada Awal Tahun 2026

Seiring waktu, Edwin semakin memahami profil risikonya sebagai investor. Ia menilai dirinya sebagai investor dengan kategori moderate to high risk, namun bukan tipe investor jangka pendek. 

Edwin menilai strategi investasinya tidak semata-mata berfokus pada valuasi dan fundamental tradisional, melainkan juga mempertimbangkan tren, likuiditas, dan potensi pasar.

Raih Gain Ribuan Persen  

Edwin mengungkapkan ketertarikannya pada dunia investasi berawal dari latar belakang pendidikan yang ia tekuni sejak bangku kuliah. Instrumen investasi pertama yang dikenalnya adalah saham, sejalan dengan pendidikan di bidang keuangan yang dijalani.

“Kebetulan latarbelakang saya dulu sekolah di jurusan finance, karena itu saya sedikit banyak mengenal investasi saham,” tambah Edwin.

Edwin mulai aktif berinvestasi saham pada 2015 dengan fokus awal pada saham-saham domestik. Pilihannya saat itu jatuh pada sektor perbankan, yang ia anggap sebagai sektor paling stabil dan aman, khususnya bagi investor pemula.

“Dari awal saya memang memiliki kepercayaan kalau investasi di saham itu salah satu yang paling menjanjikan,” tambahnya.

Terkait pengalaman berkesan selama berinvestasi, Edwin mengaku lonjakan signifikan portofolionya justru terjadi beberapa tahun setelah ia mulai terjun ke pasar modal, tepatnya saat pandemi COVID-19. Saat itu, ia sempat berinvestasi di saham perbankan digital.

Bursa Asia Bervariasi di Awal Tahun 2026, Cek Reviewnya

“Awalnya cuma iseng melihat trennya. Tapi ternyata pergerakan bank digital luar biasa. Cukup kaget punya portofolio investasi yang naiknya kalau tidak salah lebih dari seribu persen,” ungkap Edwin.

Ia mengakui pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan investasinya. Berbeda dengan fase awal investasi yang didominasi saham perbankan konvensional dengan pergerakan relatif stabil, saham digital memberikan potensi imbal hasil yang jauh lebih agresif kala itu.

Saat ini, Edwin mengelola portofolio investasi yang terdiversifikasi dengan porsi terbesar tetap berada instrumen saham. Sekitar 60% dari total portofolionya dialokasikan pada saham. Sementara itu, investasi properti mengambil porsi sekitar 15%, dan sisanya sekitar 25% ditempatkan pada berbagai jenis investasi barang eksotis.

Tips Investasi Bagi Pemula  

Edwin juga membagikan sejumlah tips sederhana bagi investor yang baru ingin mulai berinvestasi. Ia menekankan langkah pertama yang paling penting ialah berani memulai, meskipun dengan nominal kecil.

“Banyak orang berpikir investasi harus dimulai dengan uang besar. Padahal sekarang tidak seperti itu. Investasi saham, misalnya, bisa dimulai dengan dana yang setara dengan membeli secangkir kopi,” ujarnya.

Tips kedua yang ia sampaikan ialah pentingnya memahami risiko sebelum mengikuti suatu tren investasi. Edwin mengingatkan agar investor tidak sekadar ikut-ikutan tanpa pemahaman yang memadai.

Adapun tips ketiga, Edwin menekankan pentingnya membangun pola pikir jangka panjang. Ia mengibaratkan investasi sebagai sebuah maraton, bukan perlombaan jarak pendek.

“Jangan berharap hasil yang instan. Investasi itu maraton, bukan sprint,” tambahnya.