
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue dalam waktu dekat.
Tercatat, setidaknya ada PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang melakukan rights issue.
ELPI berencana untuk menerbitkan 2,03 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp350 per saham. Melalui aksi korporasi ini, perusahaan pelayaran tersebut berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp739,34 miliar.
Pendapatan dan Laba Logisticplus (LOPI) Kompak Melonjak di 2025, Ini Pendorongnya
CBRE mengincar dana segar Rp 1,9 triliun dengan menggelar rights issue. Berdasarkan keterbukaan informasi, CBRE akan menerbitkan maksimal 12,76 miliar saham baru. CBRE menetapkan harga pelaksanaan rights issue di kisaran Rp 100–Rp150.
BNBR berencana menerbitkan sekitar 86,7 miliar saham biasa seri E dari total rencana penerbitan hingga 90 miliar saham baru. Emiten Grup Bakrie ini menetapkan rasio sebesar 2:1
BUVA juga berencana melakukan rights issue sebanyak-banyaknya 50 miliar saham. Jumlah itu sebesar maksimum 203,11% dari jumlah seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Nilai nominalnya Rp 50 per saham.
Sementara itu, INET juga telah melaporkan kelebihan permintaan (oversubscribed) saat pelaksanaan rights issue dengan nilai emisi Rp3,2 triliun. Pada pelaksanaan rights issue saham INET tercatat ada 99,3% pemegang HMETD yang melaksanakan haknya.
Cek Pergerakan Saham BNBR, BUVA, hingga INET yang Bakal Gelar Rights Issue
Sisanya, sebesar 0,7% HMETD yang tidak dilaksanakan, para pemegang saham melakukan pemesanan tambahan (additional subscription) dengan total dana masuk mencapai 52 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, di antara sejumlah aksi rights issue emiten terebut, yang paling menarik adalah yang dilakukan INET.
Sebab, dana hasil aksi korporasi diarahkan untuk ekspansi infrastruktur digital, khususnya pembangunan jaringan FTTH dan penguatan kapasitas jaringan.
“Kemudian potensi dampak rights issue ke kinerja ke depannya bisa signifikan untuk INET,” katanya kepada Kontan, Senin (16/3/2026).
Dari sisi prospek kinerja, INET berpotensi menjadi emiten dengan pertumbuhan paling kuat pada 2026 didorong oleh ekspansi jaringan internet dan meningkatnya kebutuhan layanan data.
IHSG Melemah 1,61% ke 7.022 pada Senin (16/3/2026), AMMN, BRPT, DSSA Top Losers LQ45
Monetisasi infrastruktur yang mulai dilakukan sejak awal 2025 diperkirakan akan meningkat signifikan di kuartal II 2026, terutama dari proyek kabel laut Jakarta-Singapura.
“Dari manajemen pun optimistis proyeksi pertumbuhan pendapatan 2026 bisa mencapai dua kali lipat dibanding 2025,” tuturnya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk INET dengan target harga Rp 620 per saham.