
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Transformasi pasar modal yang dilakukan otoritas bursa Indonesia akan memastikan perusahaan-perusahaan yang melakukan go public adalah perusahaan berkualitas, baik dari sisi governance maupun kemampuan keuangannya.
Misalnya, kenaikan batas free float perusahaan tercatat dari 7,5% menjadi 15% atau penyesuaian batas minimum free float IPO menjadi 15%-25% diharapkan membuat pasar semakin likuid. Atau, transparansi data investor diharapkan bisa meminimalisir praktik manipulasi harga saham.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta melihat ada faktor plus dan minus dari dampak agenda transformasi BEI tersebut. Menurutnya, apabila lantai bursa diisi oleh perusahaan-perusahaan berskala besar, harga saham yang terbentuk di pasar pasti akan stabil dan tidak dimanipulasi spekulan.
“Negatifnya itu pergerakan harganya relatif lambat atau tidak cocok bagi trader harian yang mencari volatilitas tinggi,” ujar Nafan kepada Bisnis, Rabu (25/2/2026).
Meski begitu, secara umum dampak positifnya akan lebih besar. Nafan mencontohkan, apabila good governance diterapkan dengan baik, saham emiten berskala besar bisa masuk di dalam indeks global, dan ini bisa meningkatkan kepercayaan investor di pasar modal nasional.
“Ini bisa mengurangi [risiko] harganya bisa jatuh di bawah Rp100 rupiah atau Rp150 rupiah pasca-IPO. Emiten besar itu likuid, ini lebih disukai investor institusi baik global atau domestik,” tandasnya.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Rabu 25 Februari 2026
Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai agenda transformasi pasar modal otoritas bursa yang berjalan sekarang memang masih memberikan beberapa ketidakpastian terkait dengan free float.
Alhasil, jumlah IPO pada awal 2026 ini masih sepi karena kombinasi wait and see emiten dan investor di tengah ketidakpastian global geopolitik dan volatilitas pasar, ditambah concern MSCI terkait free float Indonesia yang membuat pasar lebih sensitif terhadap isu likuiditas dan investability.
“Ini membuat emiten, terutama yang free float-nya berpotensi kecil, cenderung menunda [IPO] sampai sentimen membaik dan struktur free float lebih aman,” ujarnya.
Menurutnya, fokus IPO otoritas ke emiten skala besar memberi dampak positif berupa likuiditas lebih dalam, kualitas fundamental lebih teruji, serta daya tarik investor institusi dan asing.
“Namun, minusnya dapat mengurangi ruang emiten kecil–menengah, mempersempit diversifikasi, dan membuat pasar kurang inklusif bagi perusahaan high-growth tahap awal,” ujarnya.
: 1 Tahun Danantara, Kocok Ulang BUMN, dan Target Ambisius Prabowo
Adapun, dalam pipeline IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) per 20 Ferbuari terdapat delapan perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham. Dari 8 itu, tiga merupakan perusahaan skala menengah dengan aset Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, dan 5 perusahaan skala besar dengan aset lebih dari Rp250 miliar.
Dari sektornya, mayoritas calon emiten IPO adalah perusahaan basic materials dan financials yang masing-masing berjumlah dua perusahaan. Harry menilai, kedua sektor usaha tersebut punya kans cukup bagus dari prespektif iklim industri sekarang.
“Basic materials diuntungkan agenda hilirisasi, proyek infrastruktur, dan belanja investasi industri yang meningkatkan kebutuhan modal ekspansi. Sementara financial mendapat momentum dari penurunan cost of fund, pertumbuhan kredit, dan asset quality yang cenderung masih stabil,” tandasnya.