Wall Street ditutup melemah tipis, ketegangan AS–Iran bayangi sentimen pasar

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup sedikit melemah pada perdagangan Senin (20/4/2026), setelah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas. 

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan gencatan senjata yang sempat meredakan pasar dalam dua pekan terakhir.

Tiga indeks utama Wall Street kompak terkoreksi tipis, meski sebelumnya mencatat reli selama tiga pekan berturut-turut. 

Indeks Dow Jones turun 0,01% ke 49.442,56, S&P 500 melemah 0,24% ke 7.109,14, dan Nasdaq terkoreksi 0,26% ke 24.404,39.

Wall Street Menguat Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Kekhawatiran Ekonomi AS

Sentimen pasar berubah setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz pada akhir pekan, hanya beberapa hari setelah jalur pelayaran vital itu sempat dibuka.

Ketidakpastian ini memicu lonjakan harga minyak global. Minyak mentah AS melonjak 6,87% ke US$ 89,61 per barel, sementara Brent naik 5,64% menjadi US$ 95,48 per barel. Kenaikan ini turut mengangkat sektor energi di S&P 500, meski secara keseluruhan pasar saham tetap tertekan.

Di sisi lain, sinyal diplomatik masih belum jelas. Iran dikabarkan mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai dengan AS di Pakistan. Namun, laporan tersebut dibantah oleh sumber lain yang menyebut Wakil Presiden AS JD Vance masih berada di dalam negeri, bukan menuju lokasi perundingan.

Ahli strategi investasi U.S. Bank Wealth Management, Tom Hainlin, menilai ketidakpastian geopolitik memang sempat mengganggu optimisme pasar, tetapi tidak sepenuhnya menghapus harapan. 

“Pasar sedikit menjauh dari skenario pembukaan penuh, tapi peluang ke arah sana masih ada,” ujarnya.

Wall Street Menguat Tipis Jelang Laporan Keuangan Nvidia

Ia menambahkan, fokus investor kini juga tertuju pada musim laporan keuangan kuartal I. Sejauh ini, fundamental ekonomi AS dinilai masih cukup solid. Data dari sektor perbankan menunjukkan kredit konsumen dan belanja masyarakat tetap stabil.

Dari sisi sektoral, saham layanan komunikasi menjadi penekan utama. Meta turun 2,56% setelah mencatat reli panjang, sementara Netflix merosot 2,55% dan telah anjlok sekitar 12% sejak merilis laporan keuangan serta kabar mundurnya salah satu pendirinya pekan lalu.

Indeks volatilitas CBOE atau fear index naik ke 18,85, menandakan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar setelah sebelumnya sempat turun selama delapan sesi berturut-turut.

Pelaku pasar kini menunggu laporan keuangan dari sejumlah raksasa korporasi seperti Lockheed Martin, IBM, dan Tesla. Tesla dijadwalkan menjadi pembuka laporan kelompok saham teknologi besar “Magnificent Seven” pada pekan ini.

Sejauh ini, kinerja emiten masih cukup positif. Dari 48 perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan, sekitar 87,5% melampaui ekspektasi analis. Pertumbuhan laba kuartal pertama juga tercatat mencapai 14,4%.

Wall Street Bergerak Tipis Kamis (4/12), Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Di luar itu, pergerakan saham individual cukup bervariasi. Saham QXO turun 3,12% setelah mengumumkan akuisisi senilai US$17 miliar terhadap TopBuild. Sebaliknya, saham TopBuild melonjak 19,38% merespons kabar tersebut.

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan terbilang moderat dengan volume mencapai 16,42 miliar saham, masih di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,54 miliar saham.