Genjot ekonomi, BI gelontorkan dana Rp 427,5 triliun ke sektor perbankan

Bank Indonesia telah menyuntikkan dana ratusan triliun rupiah agar perbankan lebih mudah memberikan pinjaman murah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut langkah ini penting agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari penurunan suku bunga besar-besaran yang dilakukan tahun lalu.

“Sejauh ini penurunan BI-Rate sebesar 125 bps selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia telah berdampak terhadap penurunan berbagai jenis suku bunga,” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2).

Secara pasar uang, suku bunga telah menunjukkan penurunan signifikan. Suku bunga INDONIA turun 211 basis poin sejak awal 2025 menjadi 3,92 persen per 18 Februari 2026.

Sementara suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan masing-masing turun lebih dari 220 basis poin menjadi 4,91 persen, 4,93 persen, dan 5,04 persen pada 13 Februari 2026.

Imbal hasil SBN tenor 2 tahun dan 10 tahun juga berada di level 5,06 persen dan 6,38 persen.

Namun, transmisi ke suku bunga perbankan dinilai belum optimal. Suku bunga deposito 1 bulan baru turun 68 basis poin menjadi 4,13 persen pada Januari 2026.

Penurunan suku bunga kredit bahkan lebih terbatas, hanya turun 40 basis poin dari 9,20 persen menjadi 8,80 persen.

Perry menekankan perlunya langkah lanjutan agar biaya dana perbankan turun lebih cepat dan diteruskan ke kredit.

“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya.

Insentif KLM Diperkuat

Untuk mempercepat transmisi tersebut, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sejak 16 Desember 2025. Skema ini dirancang melalui dua jalur, yakni lending channel dan interest rate channel.

Melalui lending channel, insentif diberikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi dan perumahan, serta UMKM dan koperasi.

Sementara interest rate channel memberi insentif bagi bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah suku bunga kebijakan BI.

Pada minggu pertama Februari 2026, total insentif KLM yang telah dimanfaatkan perbankan mencapai Rp 427,5 triliun. Rinciannya, Rp 357,9 triliun melalui lending channel dan Rp 69,6 triliun lewat interest rate channel.

Berdasarkan kelompok bank, alokasi terbesar diterima bank BUMN sebesar Rp 207,1 triliun, diikuti BUSN Rp 184,8 triliun, BPD Rp 28,5 triliun, dan KCBA Rp 7,1 triliun.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa optimalisasi interest channel mulai menunjukkan hasil.

“Jadi kalau kita lihat suku bunga kredit sekarang yang existing memang turun tapi sekitar 40 basis point. Namun kalau kita lihat yang baru itu turunnya sudah mencapai 75 basis point dibandingkan dengan BI-Rate kita yang sejak 2025 kemarin turun 125 basis poin,” ujar Destry.

Ia menambahkan, pemanfaatan KLM saat ini sudah sekitar 4,83 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara ruang yang tersedia mencapai 5,5 persen. Artinya, masih terdapat sekitar 0,7 persen yang bisa dimanfaatkan bank untuk memperoleh insentif tambahan melalui penyaluran kredit dan penurunan suku bunga.

Rupiah dan Likuiditas Tetap Terjaga

Selain fokus pada kredit, BI juga memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan pendalaman pasar valas, termasuk transaksi rupiah terhadap yuan untuk mendukung perdagangan dengan Tiongkok.

Dari sisi arus modal, instrumen pasar uang domestik dinilai semakin menarik. Hingga 18 Februari, aliran dana masuk ke SRBI tercatat Rp 31 triliun dan ke SBN sekitar Rp 530 miliar. Secara keseluruhan, inflow year-to-date mencapai sekitar USD 1,6 miliar.

Di sisi perbankan, likuiditas disebut masih sangat memadai dengan undisbursed loan sekitar Rp 2.500 triliun. Kondisi ini membuka ruang bagi perbankan untuk segera menyalurkan kredit ketika permintaan meningkat, seiring prospek ekonomi 2026 yang diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.