
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Sabtu (3/1/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia, harga buyback emas Antam turun Rp17.000 ke Rp2.346.000 pada Sabtu (3/1/2026). Posisi itu menjauh dari rekor ATH yang dibukukan pada akhir 2025.
Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam terakhir kali menyentuh level ATH di Rp2.464.000 pada 28 Desember 2025. Harga buyback merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram.
: Harga Emas Antam Hari Ini (3/1) Melorot ke Rp2,48 Juta per Gram
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
: : Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 3 Januari, Buyback Rp2,28 Juta, Harga Jual Rp2,114 Juta
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Adapun, pergerakan harga buyback emas Antam sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global.
: : Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Sabtu 3 Januari 2026
Seperti diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas dan perak makin berkilau saat perdagangan kembali dibuka pada 2026. Harga logam mulia ini pun berada di jalur untuk melanjutkan kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas naik 1,6% menjadi US$4.387,57 per ons pada pukul 12.42 waktu London. Harga perak ikut melonjak 3,1% menjadi US$73,88, sementara harga paladium dan platinum juga menguat. Perdagangan awal tahun ini diperkirakan sepi mengingat sejumlah pasar utama, termasuk Jepang dan China, masih libur.
Meski para pelaku pasar menilai logam mulia berpotensi melanjutkan kinerja terbaiknya tahun ini seiring pemangkasan lanjutan suku bunga AS dan pelemahan dolar, terdapat kekhawatiran bahwa rebalancing indeks secara luas dapat menekan harga dalam jangka pendek.
Hal itu mengingat harga logam-logam tersebut telah reli dan dana indeks pasif seperti ETF kemungkinan bakal menjual sebagian kontrak untuk menyesuaikan dengan bobot baru (rebalancing).