Harga emas global berkilau, valuasi saham ANTM siap naik kelas

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham emiten pertambangan pelat merah, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), diprediksi mengalami re-rating valuasi seiring dengan prospek harga emas global yang memasuki fase bullish struktural. 

Dominasi segmen emas terhadap laba anggota holding MIND ID tersebut dinilai akan menjadi motor utama penguatan harga saham di masa depan. 

Analis Riset MNC Sekuritas, Raka Junico, mengatakan bahwa harga emas global diproyeksikan memiliki ruang kenaikan signifikan hingga tahun fiskal 2026. Hal ini didorong oleh langkah akumulasi bank sentral dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve atau The Fed.

: Profil Untung Budiharto, Eks Pangdam Jaya yang Jadi Dirut Baru Antam (ANTM)

Berdasarkan data Bloomberg, emas di pasar spot menguat 1,76% ke level US$4.677,1 per troy ounce pada pukul 07.58 WIB, Senin (19/1/2026). Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak Februari 2026 juga terpantau menguat sebesar 1,91% ke US$4.683 per troy ounce. 

“Emas berhasil mempertahankan momentum penguatannya yang didorong oleh permintaan struktural jangka panjang, ketidakpastian global, serta bias pelemahan dolar AS,” ujar Raka dalam riset terbarunya. 

: : Tok! RUPSLB Antam (ANTM) Angkat Untung Budiharto Jadi Direktur Utama

Menurut Raka, katalis utama yang akan menjaga tren bullish ini adalah ketidakpastian makroekonomi yang masih berlangsung. Pasalnya, pasar berekspektasi The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish di masa depan.

“Kami mengantisipasi kemungkinan reaktivasi quantitative easing serta pemotongan suku bunga kumulatif sekitar 75 basis poin oleh The Fed,” ucapnya.

Dalam skenario dasar yang disusun MNC Sekuritas, harga emas diproyeksikan akan bergerak hingga US$4.800 per troy ons pada tahun fiskal 2026. Proyeksi ini mengasumsikan kondisi makro global yang tetap berhati-hati, serta aksi borong emas oleh bank sentral dunia yang terus berada di atas tren normal.

Sementara itu, Analis Ajaib Sekuritas Asia, Rizal Rafly, menyatakan bahwa emas akan menjadi penggerak utama pendapatan dan nilai ANTM pada 2026. 

“Outlook emas 2026 tetap sangat positif didorong oleh pengetatan suplai global dan biaya produksi yang meningkat. Kami melihat adanya potensi re-rating pada saham ANTM karena pasar saat ini belum sepenuhnya mengapresiasi leverage pendapatan perseroan terhadap kenaikan harga emas,” ujar Rizal.

Rizal memandang bahwa pengetatan pasokan emas domestik akibat terhentinya operasional sementara di tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak September 2025 menjadi katalis penting. 

Meskipun operasional diprediksi pulih bertahap pada kuartal II/2026, pasokan konsentrat emas akan lebih banyak diarahkan ke pasar dalam negeri. 

Posisi Antam semakin diperkuat dengan rencana penerapan bea keluar ekspor emas sebesar 7,5% hingga 15% pada 2026. Kebijakan ini diprediksi menahan laju ekspor emas batangan dan merelokasi pasokan ke pasar domestik.

Berdasarkan analisis tersebut, Ajaib Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ANTM dengan menaikkan target harga menjadi Rp4.300 per saham, dari proyeksi sebelumnya di level Rp3.900.

“Kami melihat valuasi ANTM saat ini masih tertinggal dibandingkan potensi kenaikan laba dari segmen emas. Level target harga Rp4.300 mencerminkan optimisme kami terhadap efisiensi sourcingdomestik dan dukungan kebijakan pemerintah yang akan memperkuat fundamental Antam,” pungkas Rizal. 

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham ANTM terkoreksi 1,23% ke level Rp4.000 per saham. Kendati demikian, harga tersebut masih mencerminkan penguatan sebesar 26,98% sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD). 

Dari meja konsensus, sebanyak 21 dari 28 analis menyematkan rekomendasi beli dengan target harga rata-rata di level Rp3.701 per saham. Adapun estimasi tertinggi mencapai Rp5.600 dan terendah mencapai Rp2.500 per saham. 

EKSPLORASI

Di sisi lain, Antam melaporkan telah mencatatkan total pengeluaran eksplorasi preliminary unaudited sebesar Rp245,76 miliar sampai dengan Desember 2025.

Berdasarkan laporan resmi perseroan, aktivitas eksplorasi sepanjang 2025 berfokus pada tiga komoditas utama, yakni emas, nikel, dan bauksit.

Langkah tersebut dilakukan melalui pendekatan terintegrasi yang mencakup survei geodesi, geofisika, hingga pemanfaatan informasi geografis. 

“Kegiatan eksplorasi dilaksanakan untuk memastikan kecukupan potensi sumber daya dan cadangan mineral strategis perusahaan,” ucap Corporate Secretary Antam Wisnu Danandi Haryanto, Jumat (9/1/2026). 

Terkait komoditas emas, eksplorasi dilakukan di tambang Pongkor, Jawa Barat. Kegiatan tersebut mencakup pengeboran bawah tanah dan pengeboran permukaan, serta pemetaan geologi dan pengambilan sampel. 

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Usaha Antam, I Dewa Wirantaya, mengatakan terus melakukan evaluasi eksplorasi guna memastikan potensi perpanjangan umur tambang Pongkor setelah 2030. Di saat yang sama, strategi ekspansi organik dan anorganik mulai difokuskan ke luar wilayah operasional. 

“Antam tetap mengedepankan pengembangan bisnis dari sisi organik dan anorganik. Dari sisi organik, kami lagi tingkatkan eksplorasi di Pongkor untuk memastikan bahwa setelah 2030, Pongkor bisa diperpanjang,” ucap Dewa. 

Selain penguatan cadangan di dalam negeri, Dewa mengungkapkan bahwa secara anorganik, ANTM sudah melirik beberapa lokasi untuk mengikuti lelang internasional, seperti di kawasan Timur Tengah maupun di daerah Kazakhstan.

Di samping itu, perseroan memberikan sinyal kuat untuk meningkatkan porsi kepemilikan saham pada entitas-entitas usaha yang saat ini statusnya masih berupa perusahaan patungan atau joint venture (JV). 

“Kami sudah memetakan beberapa potensi perusahaan yang saat ini kami masih minoritas di joint venture emas untuk dinaikkan sahamnya, sehingga bisa menjadi konsolidasian di tempat kami,” pungkas Dewa.

Sementara itu, untuk nikel, eksplorasi tersebar di beberapa titik strategis di Indonesia Timur, yakni Konawe Utara dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta Buli di Maluku Utara melalui anak usahanya, PT Sumberdaya Arindo (PT SDA).

Aktivitas di sektor nikel meliputi pengeboran single tube, survei geofisika resistivity, pengukuran grid dan percontoan hingga analisis laboratorium.

Di sektor bauksit, emiten pelat merah ini memfokuskan kegiatan di Kalimantan Barat, tepatnya di wilayah Tayan, Landak, serta Mempawah-Toho. 

Antam tercatat melakukan pembuatan sumur uji (test pit) dan analisis kimia menyeluruh untuk menilai potensi sumber daya di wilayah tersebut.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.