Harga emas menanti manuver bos The Fed Kevin Warsh

Ussindonesia.co.id , JAKARTA—Harga emas yang masih mencatatkan penguatan sepanjang 2026 akan dipengaruhi sentimen Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).

Harga emas global mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.418,54 per ons pada 28 Januari 2026. Penguatan tersebut meneruskan tren lonjakan harga 64,70% sepanjang 2025 ke posisi US$4.322,61 per ons.

Namun demikian, harga emas setelah itu cenderung tertekan, meski masih bertahan di level tinggi. Per Jumat (15/5/2026) pukul 11.30 WIB, harga emas berada di US$4.610 per ons, masih menunjukkan peningkatan 6,59% secara year-to-date (YtD).

: Mengenal Kevin Warsh, Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell

Kevin Warsh akan memimpin Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell pekan ini. Kebijakan Kevin Warsh, terutama terkait suku bunga, akan memengaruhi laju dolar AS sekaligus harga emas di sisa tahun 2026.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mendesak Powell agar menjaga suku bunga tetap rendah. Saat ditanya reporter CNBC International pada April apakah dia akan kecewa jika Warsh tidak segera memangkas suku bunga, Trump menjawab bahwa dirinya memang akan kecewa.

: : Senat AS Sahkan Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed

Menanggapi pertanyaan senator terkait tekanan Trump dan independensi The Fed, Warsh menegaskan dirinya akan bertindak independen apabila dikonfirmasi.

“Presiden tidak pernah meminta saya untuk menentukan, berkomitmen, menetapkan, atau memutuskan kebijakan suku bunga dalam setiap diskusi kami, dan saya tidak akan pernah setuju melakukan itu,” ujar Warsh.

: : Harga Emas Antam Hari Ini Jumat (15/5), Dibanderol Rp2,82 Juta per Gram

Pengumuman suku bunga The Fed berikutnya dijadwalkan pada 17 Juni. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 98% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%.

Chief economist Bank of Montreal, Douglas Porter, mengatakan probabilitas pemangkasan suku bunga tahun ini masih sangat rendah menurut perhitungan pasar.

“Bahkan untuk tahun depan, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2027,” katanya.

HARGA EMAS

Harga emas diprediksi cenderung mengilap pada 2026 meskipun belakangan jatuh dari rekor tertingginya di awal tahun.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan lonjakan harga emas pada awal 2026 dipicu meletusnya perang di Timur Tengah saat Iran menyerang Israel. Saat itu, perang belum meluas seperti bulan-bulan berikutnya.

Dalam waktu yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada Mei 2026. Warsh yang dikenal cenderung menaikkan suku bunga acuan dan menahannya di level tinggi dinilai negatif oleh pelaku pasar. Secara teori, suku bunga tinggi dapat menekan harga emas dunia.

“Ini membuat fenomena taking profit dan harga emas turun. Harga kemudian berangsur naik tapi masih sulit mendekati level US$5.000,” kata Ibrahim.

Sentimen negatif yang menerpa emas bertambah ketika eskalasi perang meningkat. Dalam medio ini, Iran memperluas serangan mereka ke negara-negara Teluk lokasi pangkalan militer AS, yang salah satunya merupakan negara OPEC. Iran juga menutup jalur perdagangan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Saat itulah pelaku pasar melakukan perpindahan aset, dengan minyak dan dolar AS menjadi ‘safe haven baru’, menggantikan emas.

Lonjakan harga minyak turut mendorong ekspektasi meningkatnya inflasi global sehingga Bank Sentral sulit memangkas suku bunga seperti ekspektasi pada awal tahun.

Dari sisi fundamental, Ibrahim menilai permintaan emas global masih kuat, terutama dari kalangan bank sentral dunia. Dia mencontohkan People’s Bank of China yang tercatat membeli 7,15 ton emas pada kuartal I/2026 untuk memperkuat cadangan devisa negara.

Dia menambahkan ketidakpastian politik dan ekonomi di Amerika Serikat juga berpotensi menopang harga emas ke depan, terutama terkait kekhawatiran dampak perang berkepanjangan terhadap konsumsi energi dan stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam.

Ibrahim menilai besar kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga acuan dalam beberapa bulan setelah terjadi kesepakatan damai antara AS-Iran. Saat itu terjadi, maka harga minyak global dan dolar AS dapat turun, sedangkan harga emas akan pulih.

“Sebenarnya harga emas di US$4.700 ini secara jangka pendek turun, tapi jangka menengah dalam 2026 kemungkinan besar akan naik. Saya masih optimis di US$5.500 sampai US$6.000 kemungkinan besar akan tercapai di akhir tahun ini,” tuturnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.