
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,22% atau 19,34 poin ke level 8.925,47 pada akhir perdagangan Kamis (8/1/2026). IHSG diproyeksi lanjut melemah pada Jumat (9/1/2026) karena tekanan jual yang belum reda.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan tekanan jual terbatas.
Ini seiring dengan berlanjutnya aksi profit taking jangka pendek, serta kondisi teknikal IHSG yang sudah berada di area overbought.
Pasar juga akan mencermati sejumlah sentimen penting. “Yaitu, Data Consumer Confidence Indonesia, serta rilis data global seperti Non-Farm Payroll (NFP) AS dan Unemployment Rate AS,” ungkapnya Kamis (8/1/2026).
IHSG Terkoreksi, Cermati Saham-Saham Net Sell Terbesar Asing pada Kamis (8/1)
Reza memproyeksikan IHSG diproyeksikan bergerak pada level resistance di level 8.960 – 9.000 dan support di 8.895 – 8.910 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat, secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG di akhir perdagangan Kamis (8/1/2026) berada di area overbought dan berpotensi membentuk Death Cross.
Selain itu, IHSG membentuk pola Shooting Star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru.
Sehingga, Alrich memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.850-8.900 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).
Dari domestik, sentimen berasal dari defisit APBN mencapai Rp 695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92% dari PDB. Ini lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53% dari PDB.
Danantara Alihkan Saham Emiten BUMN ke BP BUMN, Simak Rekomendasinya
Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun atau mencapai 91,7% dari target.
“Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari anggaran,” kata Alrich.
Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 156,5 miliar di Desember 2025 dari US$ 150,1 miliar di November 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri.
Level ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2025, dan setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri.
“Selanjutnya, investor akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif,” katanya.
Alrich menyarakan investor untuk memerhatikan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) untuk perdagangan esok.
Sementara, Reza menyarankan investor untuk memperhatikan saham berikut pada perdagangan hari ini:
1. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
Rekomendasi: Buy on Breakout di Rp 520 per saham
Resistance: Rp 535 – Rp 560 per saham
Stop Loss jika di bawah Rp 500 per saham
2. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD)
Rekomendasi: Buy Area Rp 214 – Rp 224 per saham
Resistance: Rp 242 – Rp 252 per saham
Stop Loss jika di bawah Rp 204 per saham
3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Rekomendasi: Buy on weakness Rp 428 – Rp 440 per saham
Resistance: Rp 476 – Rp 480 per saham
Stop Loss jika di bawah Rp 410 per saham