
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi di level 8.933 pada perdagangan Selasa (6/1/2026), menandakan pasar saham domestik sedang berada dalam fase risk-on yang kuat.
Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai reli IHSG yang mampu mencetak rekor dua kali dalam waktu kurang dari sepekan menunjukkan bahwa sentimen internal saat ini jauh lebih dominan dibandingkan faktor eksternal.
“Aliran dana asing dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik menjadi motor utama penguatan IHSG,” ujar Hendra kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).
IHSG Diprediksi Menguat di Perdagangan Hari Pertama 2026, Cek Saham Pilihan Analis
Ia mencatat, net buy asing yang mencapai sekitar Rp 911 miliar menjadi sinyal bahwa investor global masih memandang Indonesia sebagai tujuan investasi yang atraktif di kawasan.
Untuk perdagangan berikutnya, Hendra menilai peluang IHSG menembus level psikologis 9.000 cukup besar, meskipun tetap dibayangi potensi volatilitas jangka pendek.
Secara teknikal, tren kenaikan IHSG dinilai masih sangat kuat dan belum menunjukkan tanda pelemahan berarti.
Dari sisi fundamental, ketahanan rupiah di pasar spot, likuiditas pasar yang tinggi, serta rotasi dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar menjadi faktor utama pendorong.
Namun, Hendra mengingatkan level 9.000 merupakan resistance psikologis penting sehingga potensi aksi ambil untung jangka pendek tetap perlu diantisipasi, terutama jika muncul tekanan dari pasar global atau pelemahan lanjutan harga komoditas energi.
Telkom Indonesia (TLKM) Masih Hadapi Persaingan Sengit, Cermati Rekomendasi Analis
“Jika level 9.000 berhasil ditembus dan terkonfirmasi secara teknikal, target penguatan IHSG selanjutnya berpotensi mengarah ke kisaran 9.150 hingga 9.300 dalam jangka pendek hingga menengah,” jelasnya.
Proyeksi ini ditopang oleh asumsi berlanjutnya arus dana asing, stabilitas kebijakan moneter domestik, serta pertumbuhan kinerja emiten-emiten berkapitalisasi besar.
Hendra menambahkan, selama tidak ada guncangan global yang bersifat sistemik, koreksi yang terjadi diperkirakan bersifat sehat dan terbatas, lebih sebagai fase konsolidasi sebelum kenaikan lanjutan.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG ke depan masih akan ditopang oleh sektor perbankan besar, konsumer, serta saham berbasis investasi dan media.
Sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung indeks seiring ekspektasi pertumbuhan kredit dan stabilitas margin bunga. Sementara sektor konsumer mulai kembali dilirik seiring daya beli yang relatif terjaga dan potensi peningkatan konsumsi.
Kinerja UNVR Diproyeksi Solid pada 2026, Cermati Rekomendasi Analis
Adapun untuk saham pilihan, Hendra merekomendasikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebagai saham investasi dengan target harga di area Rp 1.785.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dinilai menarik untuk strategi spekulatif dengan target jangka pendek di kisaran Rp 2.100. Selain itu, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dapat dimanfaatkan untuk trading buy dengan target sekitar Rp 400, sementara PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) atau SMGA menarik untuk strategi trading jangka pendek dengan target Rp 150.
AMRT Chart by TradingView
“Secara keseluruhan, reli IHSG mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi domestik yang masih solid. Level 9.000 menjadi gerbang penting menuju fase kenaikan berikutnya,” pungkas Hendra.