Jakarta, IDN Times – Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (9/1/2026).
IHSG diperkirakan bergerak pada rentang resistance di level 8.970, pivot 8.900, dan support 8.800.
Phintraco mencatat, IHSG pada perdagangan Kamis (8/1) ditutup melemah di level 8.925,47 atau turun 0,22 persen. Pelemahan terjadi setelah indeks sempat menembus level psikologis 9.000.
Sektor basic material mencatatkan koreksi terdalam akibat aksi profit taking usai reli dalam beberapa hari terakhir.
“Sebaliknya sektor transportasi rebound sehingga membukukan penguatan terbesar,” sebut Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
1. IHSG berpotensi lanjutkan koreksi
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai indikator Stochastic RSI IHSG telah berada di area overbought dan berpotensi membentuk death cross.
Selain itu, IHSG membentuk pola shooting star. Pola ini mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli beberapa hari terakhir dan mencetak level tertinggi baru.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.850-8.900,” tulis Phintraco Sekuritas.
IHSG Sempat Tembus 9.000-an, Purbaya: Kenaikannya Bakal Berlanjut 2. Pergerakan IHSG hari ini diperkirakan dipengaruhi sentimen domestik
Dari sisi fundamental, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan dipengaruhi sentimen domestik, terutama defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Desember 2025.
Defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibanding defisit 2024 sebesar 2,3 persen dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 sebesar 2,53 persen dari PDB.
“Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target, sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari anggaran,” tutur Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025, naik dari 150,1 miliar dolar AS pada November 2025.
Kenaikan ini didorong penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri.
Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2025 dan setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
“Selanjutnya investor akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif,” kata Phintraco Sekuritas.
3. Rekomendasi saham yang berpotensi memberikan untung
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang bisa jadi andalan untuk memberikan cuan.
Kelima saham tersebut adalah UNVR, ACES, SMDR, BKSL, dan SIDO.