
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (26/2/2026). IHSG ditutup melemah 1,04% dengan saham BIPI, BUMI, hingga INKP yang menguat sore ini.
Berdasarkan data RTI Infokom, pada pukul 16.00 WIB IHSG ditutup turun 1,04% ke level 8.235,26. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 8.139-8.358.
Tercatat, 146 saham menguat, 568 saham melemah, dan 105 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar terpantau berada pada posisi Rp154.773,31 triliun.
: IHSG Hari Ini (28/2) Terdorong Saham AMMN, PANI, hingga BMRI ke Zona Hijau, Dibuka Naik jadi 8.322
Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terpantau menjadi salah satu saham yang melemah sore ini. Saham BUMI melemah 4,44% ke level Rp258 per saham hari ini.
Saham selanjutnya yang juga melemah sore ini adalah saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI). Saham BIPI turun 2,52% ke level Rp310 per saham hari ini.
: : IHSG Rawan Koreksi Hari Ini, Cermati Saham AHAP hingga PADI
Demikian juga saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) yang melemah 1,46% ke level Rp11.825 per saham sore ini.
Saham lain yang juga turun sore ini adalah saham BBCA turun 0,34% ke level Rp7.300, saham BULL melemah 1,87% ke level Rp525 per saham, dan saham PTRO yang turun 7,01% ke level Rp6.300 per saham.
: : IHSG Uji Resistance 8.430, Cek Rekomendasi Saham ADMR hingga PADI
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bursa regional Asia melemah dengan pasar yang mempertimbangkan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian seputar kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS).
Peningkatan jumlah pasukan AS di Timur Tengah juga membuat pelaku pasar waspada menjelang pembicaraan nuklir di Jenewa, sementara Washington meningkatkan tekanan pada Iran dengan menjatuhkan sanksi kepada entitas yang terlibat dalam ekspor minyak dan senjata.
Pada saat yang sama, pemerintahan Trump berupaya mempertahankan strategi tarif globalnya, yang menimbulkan kekhawatiran di antara mitra dagang. Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer mengumumkan bahwa tarif AS untuk negara-negara tertentu dapat naik menjadi 15% atau lebih tinggi dari 10% yang baru-baru ini diterapkan.
Di sisi lain, kekhawatiran inflasi yang terus-menerus, sehingga membuat para pelaku pasar untuk menunda ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berikutnya hingga September.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.