
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada perdagangan sesi I akibat sentimen serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Stabilitas pasar keuangan global pun terguncang.
Laporan Mirae Asset Sekuritas menunjukkan bahwa sentimen geopolitik tersebut menjadi faktor utama yang menekan indeks domestik hingga melemah 1,6% ke level 8.104 pada perdagangan sesi I, Senin (2/3/2026). Aksi jual melanda hampir seluruh sektor, terutama saham-saham big caps.
Emiten otomotif PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin koreksi dengan penurunan 4,5%. Pelemahan signifikan juga terjadi pada saham energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) sebesar 3,3%.
Sektor perbankan yang menjadi penopang pasar turut tertekan. Saham bank pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) merosot 2,8% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi sebesar 1,8%.
: Konflik AS-Iran Bikin Saham Migas MEDC, RAJA, ENRG Panen Cuan saat IHSG Loyo
Di sisi lain, saham emiten logam mulai menjadi penopang atau top leaders indeks. Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) tercatat menguat 4,82%, disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga melonjak 4,12%, sementara saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) naik 3,60%.
Secara sektoral, indeks saham siklikal dan infrastruktur menjadi sektor dengan koreksi terdalam pada paruh pertama perdagangan. Sebaliknya, di tengah pelemahan indeks, hanya IDX Energy yang mampu bertahan di zona hijau akibat ekspektasi kenaikan harga minyak dunia merespons konflik di Timur Tengah.
“Bursa-bursa utama Asia juga kompak memerah sebagai dampak konflik yang terjadi di Timur Tengah,” tulis laporan Mirae Asset Sekuritas.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengimbau para investor untuk tetap tenang dan rasional dalam menyikapi gejolak pasar yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di tingkat global.
Menurutnya, penting bagi investor untuk tetap berpegang pada analisis fundamental emiten di tengah ketidakpastian yang melonjak. Hal tersebut menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang memberikan tekanan pada bursa-bursa saham dunia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey dalam keterangannya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.