IHSG terimbas pengumuman FTSE, aksi investor asing jadi sorotan

Ussindonesia.co.id , JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali dibayangi sentimen rebalancing indeks global yang turut memengaruhi aliran dana investor asing.

Setelah sebelumnya pasar merespons pengumuman evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), kali ini investor menanti pengumuman FTSE Russell terkait daftar saham yang berpotensi dihapus maupun diturunkan peringkatnya dari indeks.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman mengatakan pengumuman FTSE pada 22 Mei 2026 waktu Amerika Serikat menjadi salah satu sentimen penting yang akan memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat 22 Mei 2026

“Pasar akan menantikan pengumuman FTSE sebagai salah satu sentimen penting bagi IHSG,” ujarnya, Kamis (22/5/2026).

Menurut Fath, FTSE kali ini diperkirakan belum akan menaikkan peringkat saham Indonesia karena masih memantau perkembangan reformasi pasar modal domestik. Karena itu, perhatian investor lebih tertuju pada potensi saham yang dihapus atau mengalami downgrade dari indeks FTSE.

: : IHSG Dibuka Melemah 1,21% ke Level 6.020, BBCA hingga TPIA Terkoreksi

Dia menjelaskan mekanisme FTSE berbeda dengan MSCI. Dalam MSCI, perubahan komposisi indeks yang diumumkan biasanya tidak berubah lagi hingga tanggal efektif rebalancing. Sementara itu, FTSE masih dapat melakukan perubahan mendekati jadwal rebalancing.

“FTSE bisa menambahkan sesuatu jelang rebalancing satu sampai dua minggu sebelum efektif. Saham yang sebelumnya diumumkan masuk juga bisa dikeluarkan lagi,” katanya.

: : Ekspor Satu Pintu Danantara Bayangi Pasar, IHSG Berisiko Lanjut Koreksi ke 5.882

Fath mencontohkan kasus PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) pada Agustus 2024 yang sempat diumumkan masuk indeks FTSE, tetapi akhirnya dikeluarkan kembali pada menit-menit terakhir sebelum rebalancing efektif berlaku.

Dia menilai saham yang dikeluarkan dari indeks FTSE tetap berpotensi mengalami outflow dana asing seperti pada MSCI. Namun, tekanan jual diperkirakan tidak sebesar dampak rebalancing MSCI terhadap pasar saham Indonesia.

“Pasti ada outflow, tetapi tidak sebesar MSCI. Tekanan pasar pasti ada, tapi lebih bisa dikalkulasi,” ujarnya.

Adapun, FTSE Russell sebelumnya mengumumkan daftar awal perubahan konstituen indeks akan dirilis pada 22 Mei 2026 setelah pukul 18.00 waktu AS bagian timur. FTSE juga akan memperbarui daftar sementara pada 29 Mei, 5 Juni, 12 Juni, dan 18 Juni 2026.

Sementara itu, periode “lock-down” dimulai pada 8 Juni 2026, ketika perubahan keanggotaan dianggap final. Rebalancing resmi berlaku setelah penutupan pasar saham AS pada 26 Juni 2026 dan efektif digunakan pasar pada 29 Juni 2026.

Di sisi lain, MSCI sebelumnya mengumumkan hasil MSCI Equity Indexes Review Mei 2026 dengan perubahan efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Dalam rebalancing tersebut, terdapat 19 saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks MSCI.

Pada MSCI Global Standard Indexes, saham yang dikeluarkan antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).

Fath menyarankan investor untuk mencermati kondisi pasar ketika IHSG jatuh. Reviu strategi investasi dapat dilakukan setelah 29 Mei 2026, atau saat periode rebalancing MSCI selesai.

“Setelah tanggal 29 Mei, arah pasar baru lebih terlihat setelah periode rebalancing selesai. Saat itu, dapat meninjau ulang strategi portofolio secara menyeluruh,” tuturnya.

Melansir IDX Mobile pukul 09.00 WIB, IHSG melemah 1,21% ke level 6.020,98. Hanya ada 95 saham yang menguat, sedangkan 383 saham dibuka melemah dan 481 saham stagnan.

Pasar mengawali perdagangan dengan volume transaksi 825,8 juta saham senilai Rp473,4 miliar. Kapitalisasi pasar menjadi Rp10.404 triliun.

Sejumlah saham big caps yang dibuka koreksi antara lain adalah BBCA yang turun 1,26% ke Rp5.875, BMRI turun 1,44% ke Rp4.110, BREN turun 3,11% ke Rp2.490, TLKM melemah 2% ke Rp2.940, serta TPIA yang dibuka dengan koreksi tajam 12,78% ke Rp1.980.

Bank Central Asia Tbk. – TradingView PENGUMUMAN FTSE

FTSE Russell akan tetap melaksanakan peninjauan indeks saham Indonesia pada Juni 2026, meski masih menunda penerapan penuh full index re-ranking, kenaikan free float, serta penambahan saham baru melalui initial public offering (IPO) hingga setidaknya September 2026.

Langkah FTSE dilakukan setelah pengumuman MSCI pada Selasa (12/5/2026). MSCI Inc. melaporkan hasil tinjauan indeks Mei 2026 untuk MSCI Equity Indexes. Tercatat, enam saham emiten Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.

Berdasarkan pengumuman MSCI, seluruh perubahan indeks akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan mulai diterapkan 1 Juni 2026.

Dalam keterangannya, FTSE Russell menyebut keputusan tersebut diambil setelah lembaga penyedia indeks global itu terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan sejak penerbitan pemberitahuan perlakuan indeks Indonesia pada 9 Februari 2026.

FTSE Russell menilai otoritas pasar modal Indonesia telah menerapkan sejumlah langkah untuk memperkuat transparansi pasar, termasuk penyediaan data kepemilikan saham di atas 1%, publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC), serta peningkatan pelaporan klasifikasi investor.

“FTSE Russell telah meninjau perkembangan tersebut dan mempertimbangkan masukan dari pelaku pasar serta komite penasihat eksternal,” tulis FTSE Russell, Rabu (13/5/2026).

Pada peninjauan indeks Juni 2026, FTSE Russell akan tetap melanjutkan sejumlah pembaruan indeks terhadap saham-saham Indonesia.

Beberapa penyesuaian yang tetap dilakukan antara lain pembaruan Industry Classification Benchmark (ICB), pembaruan kuartalan saham tanpa penerapan buffer standar 1%, serta penyesuaian penurunan free float tanpa buffer standar 3%.

Selain itu, FTSE Russell juga tetap akan menerapkan perubahan klasifikasi kapitalisasi besar, menengah, kecil, dan mikro akibat aksi spin-off, termasuk penghapusan entitas yang berada di bawah ambang batas minimum indeks.

Pembaruan daftar eksklusi seperti ESG, ethical, dan Shariah, termasuk penghapusan saham akibat data ESG, juga tetap dilakukan dalam review Juni 2026.

Namun demikian, FTSE Russell menegaskan masih menunda full index re-ranking, kenaikan free float, dan penambahan saham baru IPO dari Indonesia hingga setidaknya peninjauan indeks September 2026.

Menurut FTSE Russell, penundaan tersebut dilakukan untuk memberikan waktu observasi dan pemantauan yang lebih panjang terhadap implementasi kebijakan transparansi di pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, FTSE Russell pada Februari 2026 menyampaikan perlakuan khusus terhadap saham Indonesia menyusul kekhawatiran investor terkait transparansi free float dan konsentrasi kepemilikan saham di pasar domestik.

FTSE Russell memutuskan bakal mendepak saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada tinjauan indeks Juni 2026.

Langkah tersebut menyusul evaluasi berkelanjutan FTSE Russell terhadap perkembangan pasar modal Indonesia yang bergulir sejak Februari 2026.

Meski mengapresiasi reformasi transparansi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia, mulai dari pengungkapan kepemilikan di atas 1% dan publikasi daftar HSC, FTSE menyatakan bakal tetap bersikap konservatif.

“FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak [HSC] dengan harga nol pada tinjauan Juni 2026, yang akan efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026,” tulis FTSE dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Keputusan menghapus saham dengan harga nol diambil guna menjamin integritas indeks. Pasalnya, FTSE menerima masukan bahwa likuiditas pada saham-saham yang terkena peringatan HSC diperkirakan bakal merosot tajam, sehingga menyulitkan investor pasif untuk melakukan exit secara wajar.