IHSG terus cetak ATH, sektor transportasi hingga energi berpeluang jadi penopang

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sentimen January Effect mendorong laju indeks harga saham gabungan (IHSG) berulang kali secara beruntun menembus level all time high (ATH) penutupan baru di awal perdagangan 2026.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG untuk sampai pada level penutupan 9.000 hanya tinggal menunggu waktu. Apalagi, dalam perdagangan intraday Kamis (8/1) indeks komposit telah menyentuh level 9.000, walau ditutup koreksi 0,22% ke 8.925,48 pada penutupan.

“Semua membutuhkan waktu, tidak ada suatu saham yang terus mengalami kenaikan, karena pasti akan ada titik jenuh. Oleh sebab itu, dibutuhkan koreksi sebelum mengalami kenaikan kembali,” ujar Nico kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).

: IHSG Ditutup Koreksi 0,22% Usai Tembus 9.000, Big Caps DSSA hingga UNVR Tetap Melaju

Nico melihat saat ini sentimen pasar masih cukup kuat untuk menopang laju IHSG, meskipun di sisi lain ada gejolak volatilitas akibat tensi geopolitik. Saat ada peluang IHSG tembus level psikologis baru di 9.000, menurutnya terdapat sejumlah sektor yang paling berpeluang menguat.

“Sejauh ini sektor yang masih berpeluang menguat adalah transportasi, industri, basic materials, properti dan energi. Ini setidaknya untuk bulan Januari. Sebaliknya, yang berpotensi mengalami penurunan adalah teknologi, finance, dan healthcare,” kata Nico.

: : IHSG Sesi II Tergelincir ke Zona Merah, Tersengat Pelebaran Defisit APBN?

Menilik statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham energi pada perdagangan Kamis (8/1) menguat 0,49% atau 8,51% year to date (YtD), saham sektor basic materials turun 3,22%, walau secara YtD masih menguat 6,61%. Kemudian, saham sektor industri juga susut 0,19%, namun naik 8,37% YtD. Sementara, saham transportasi dan logistik naik 1,75%, atau 7,63% secara YtD. Lalu, saham sektor properti dan real estate menguat 1,50% atau 3,82% secara YtD.

Nico melanjutkan, saat ini investor sedang wait and see mencermati sejumlah data ekonomi global. Contohnya, dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa pasar akan menunggu data consumer price index (CPI) serta gross domestic product (GDP).

Di regional, pasar juga menantikan perilisan data GDP kuartal IV 2025 dan penjualan ritel China, sementara di dalam negeri pasar menantikan kebijakan moneter suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan dibahas 21 Januari 2026.

Saat pasar menantikan sejumlah data ekonomi itu, Nico mengatakan kondisi ekonomi global berisiko tertahan oleh eskalasi konflik geopolitik AS-Venezuela yang berpotensi meluas ke kawasan regional.

“Adanya potensi hal yang sama akan dilakukan oleh China terhadap Taiwan. Di mana Jepang juga sudah bersiap membantu Taiwan. Dan Jepang merupakan sekutu dekat Amerika. Amerika juga akan membantu Jepang. Sedangkan, China juga tidak sendiri, ada Rusia dan Korea Utara yang siap membantu. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh Amerika menjadi trigger bagi negara lain untuk melakukan hal yang sama,” pungkasnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.