IHSG turun tipis 0,08%, intip proyeksi dan rekomendasi sahamnya untuk esok (31/3)

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah di hampir sepanjang perdagangan pada awal pekan ini.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG ditutup turun tipis 0,08% atau terpangkas 5,38 poin ke level 7.091,67 Senin (30/3/2026).

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan setelah bergerak melemah pada awal perdagangan sesi I, pelemahan IHSG berkurang menjelang penutupan sesi I. 

Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksi Rupiah Besok (31/3)

Pada sesi II, IHSG rebound dan bergerak fluktuatif. Saham sektor energi membukukan penguatan terbesar 2,18%, seiring dengan berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung. 

Sedangkan saham sektor keuangan mencatatkan pelemahan terbesar 1,17%. Ini disebabkan oleh pelemahan saham BBCA karena memasuki ex date dividend serta koreksi saham perbankan lainnya di tengah kekhawatiran akan prospek ekonomi. 

“Secara teknikal, pembentukan histogram MACD cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak dikisaran level 7.000-7.200 pada perdagangan Selasa (31/3),” kata Alrich dalam risetnya, Senin (30/3/2026).

Alrich bilang, investor dan pelaku pasar akan mencermati sentimen dari pemerintah yang sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga Work From Home (WFH) sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan ekonomi domestik. 

“Pemerintah mengidentifikasi ada tiga sektor yang rentan terdampak, yaitu stabilitas energi, rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa langkah untuk menekan impor migas adalah dengan penghematan energi dan penguatan mandat Biodiesel 50%,” tambahnya. 

Rencana kebijakan pemerintah ini adalah sebagai upaya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi yang akan berdampak luas terhadap inflasi serta opsi agar tidak terjadi pelebaran defisit APBN. 

Namun untuk BBM non subsidi diperkirakan berpotensi akan mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan di umumkan di 1 April 2026. 

Sementara itu pemerintah belum memberikan kepastian mengenai pemberlakukan bea keluar terhadap ekspor batu bara, meskipun sudah masuk dalam asumsi penerimaan APBN 2026. Sedangkan bea keluar produk turunan nikel sudah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo. 

Dihubungi terpisah, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai bursa global dan regional Asia yang mayoritas terkoreksi juga menjadi beban bagi pergerakan IHSG.

Selain itu, memanasnya konflik di Timur Tengah juga memengaruhi gerak IHSG. Keterlibatan Houthi Yaman dalam eskalasi konflik dinilai turut mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Serangan ke Produsen Aluminium Picu Lonjakan Harga, Sentimen Bullish Menguat

“Untuk besok, kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support di 7.053 dan resistance di 7.118. Timur Tengah masih menjadi cermatan dari pelaku pasar dan investor,” ujarnya.

Herditya pun merekomendasikan investor untuk mencermati sejumlah saham, di antaranya AGII dengan target harga Rp 3.600–Rp 3.780, ESSA di kisaran Rp 805–Rp 830, serta PTBA dengan target harga Rp 3.220–Rp 3.300 per saham.

Adapun Alrich memilih sejumlah saham pilihan, antara lain ialah BUMI, DEWA, MAPI, MBMA, dan SMDR.