Indeks Bisnis-27 dibuka menguat, saham BRPT, BUMI, hingga NCKL kinclong

Ussindonesia.co.id JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka di zona hijau dengan menguat pada level 486,95 pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Sejumlah saham seperti BRPT, BUMI, hingga NCKL menguat ke zona merah pagi ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini menguat 2,58% sesaat setelah pembukaan. Indeks bergerak di kisaran 486,10 hingga 487,82 sepanjang perdagangan.

Dari 27 konstituen, terdapat 21 saham yang dibuka naik ke zona hijau, empat saham stagnan, dan dua saham lainnya parkir di zona merah.

Emiten milik Prajogo Pangestu PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memimpin penguatan indeks dengan menguat 5,14% atau 75 poin ke level Rp1.535. Selanjutnya, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 5,08% ke level Rp248 per saham pagi ini.

: IHSG Dibuka Melonjak 2,25% ke 7.127 Usai FTSE Pertahankan Status Pasar Modal RI

Saham lainnya yang menguat di antaranya NCKL yang naik 4,89% ke level Rp1.180, saham MAPI naik 4,33% ke level Rp1.325, dan saham BBNI menguat 3,99% ke level Rp3.650 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang melemah dialami oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang melemah 5,21% atau 85 poin ke level Rp1.545. Disusul PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) yang turun 2,06% ke level Rp1.190 per saham.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Rabu (8/4/2026) ke level 7.142,53. IHSG menguat dengan naik 2,46% sesaat setelah pembukaan.

Tercatat, 367 saham menguat, 87 saham melemah, dan 181 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar terpantau pada posisi Rp12.537,16 triliun.

Penguatan IHSG seiring dengan keputusan FTSE Russell yang tetap mempertahankan status pasar modal Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market. FTSE Russell juga tidak mempertimbangkan Indonesia untuk masuk ke dalam daftar pantauan yang berpotensi menurunkan derajat pasar modal nasional di mata investor global.

“Pada tahap ini, status pasar Secondary Emerging Indonesia tetap tidak berubah. FTSE Russell tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam Watch List dan akan terus memantau kemajuan reformasi serta menjalin komunikasi dengan pelaku pasar,” tulis FTSE Russell dalam laporannya. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.