
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan hari ini Rabu (25/2/2026) di zona hijau seiring penguatan mayoritas saham konstituen yakni INKP, ADMR hingga ADRO.
Berdasarkan data IDX Mobile, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia tersebut menguat 6,92 basis point atau sebesar 1,27% ke level 553,58 pada akhir sesi perdagangan. Sepanjang hari, indeks bergerak dalam rentang 547,42 hingga 555,42.
Tercatat sebanyak 19 saham konstituen melemah, 7 saham menguat, dan 1 saham konstituen lainnya stagnan.
: Indeks Bisnis-27 Hari Ini (25/2) Menguat, Saham INCO, NCKL, ADMR Melaju
Saham yang memimpin penguatan adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) melonjak sebesar 16,50% ke level Rp12.000, disusul saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menguat 6,44% ke level Rp2.150, saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 5,19% ke level Rp1.115.
Berikutnya saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menguat sebesar 5% ke level Rp7.350, dan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menguat 3,49% ke level Rp2.370.
: : Indeks Bisnis-27 Hari Ini (24/2) Ditutup Melemah, Saham Energi jadi Penekan
Sebaliknya pelemahan dipicu oleh tekanan pada sejumlah saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang terkoreksi 2,8% ke level Rp1.735, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 1,46% ke level Rp270, disusul saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 1,4% ke level Rp5.300.
PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang turun 0,49% ke level Rp2.020, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melemah 0,41% ke level Rp2.410.
: : Saham BUMI hingga MEDC Seret Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah
Tim riset Phintraco Sekuritas mengatakan tarif perdagangan global baru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump resmi berlaku sebesar 10%.
Angka ini lebih rendah dari isu sebelumnya yang menyebut tarif bisa mencapai 15%. Meski begitu, Gedung Putih dikabarkan masih mempertimbangkan kenaikan tarif ke 15%.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan AS masih akan menjadi perhatian pasar. Beberapa negara mitra dagang dikabarkan meninjau ulang kesepakatan perdagangan yang ada.
Sementara itu sentimen domestik datang dari defisit fiskal Indonesia mencapai Rp54,6 triliun, atau setara dengan 0,21% dari PDB Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.